Arus Balik di Timika Diprediksi Pertengahan Januari

TIMIKA – PT Pelni (Persero) Kantor Cabang Timika, Papua memprediksi puncak arus balik penumpang liburan Natal dan Tahun Baru di Pelabuhan Paumako baru akan terjadi pada pertengahan Januari.

Kepala Cabang Pelni Timika, Mastur Suaidi, mengatakan puncak arus balik penumpang kapal ke Timika baru akan terjadi saat KM Sirimau dan KM Lauser sandar di Dermaga Pelabuhan Paumako pada pertengahan Januari.

“Kami prediksi penumpang arus balik menggunakan KM Sirimau yang turun di Pelabuhan Paumako Timika pada pertengahan Januari bisa mencapai 1.000 orang dan penumpang KM Leuser yang turun di Pelabuhan Paumako Timika bisa mencapai lebih dari 700 orang,” kata Suaidi di Timika, Senin (1/1/2018).

Menurut dia, mulai awal Januari ini sudah terlihat peningkatan jumlah penumpang arus balik liburan Natal dan Tahun Baru yang tiba di Pelabuhan Paumako Timika menggunakan kapal perintis sabuk nusantara.

Seperti pada Senin (1/1) siang, ratusan penumpang tiba di Pelabuhan Paumako Timika menggunakan Kapal Perintis Sabuk Nusantara dari pelabuhan asal Kaimana.

Selanjutnya pada Rabu (3/1) dini hari, KM Tatamailau dengan rute pelayaran dari Bitung, Ambon, Sorong, Fakfak dan Kaimana akan tiba di Pelabuhan Paumako Timika dengan menurunkan penumpang sekitar 300-400 orang.

Selain itu masih ada Kapal Perintis Sabuk Nusantara 58 yang melayani pelayaran dari Tual dan Dobo menuju Pelabuhan Paumako Timika.

Suaidi mengatakan, arus penumpang liburan Natal dan Tahun Baru kali pada 2017 tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penumpang liburan Natal dan Tahun Baru yang berangkat dari Pelabuhan Paumako Timika mencapai sekitar 3.000-5.000 orang dengan pelabuhan tujuan utama seperti Tual, Dobo, Kaimana, Fakfak, Sorong, Ambon, NTT dan Bitung Sulawesi Utara.

“Penumpang liburan Natal dan Tahun Baru yang berangkat dari Pelabuhan Paumako Timika tahun 2017 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Kami tidak tahu persis apa penyebabnya, bisa jadi ada banyak orang yang menggunakan pesawat terbang. Bisa juga karena pengaruh kondisi perekonomian yang kurang menggembirakan selama 2017 dimana banyak terjadi demonstrasi dan mogok kerja karyawan,” ujar Suaidi. (Ant)

Lihat juga...