Bangsa Ini Lumbung Pangan Harus Bantu Palestina

127

JAKARTA – Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin menegaskan, apapun agamanya ketika menyaksikan tragedi kemanusiaan, apalagi tragedi itu diciptakan oleh manusia bukan bencana alam, pasti akan membuat bangkit pembelaan dan solidaritas dari berbagai elemen bangsa, termasuk Indonesia.

Kali ini, kata Ahyudin, dunia dibikin terpengarah oleh statemen Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ucapan Trump ini menuai kecaman dari negara Eropa dan Asia Tenggara. Banyak negara berkomitmen membela Palestina agar merdeka dari penjajahan Israel.

“Ini semata-mata bukan persoalan agama, tapi tragedi kemanusiaan, sehingga membangkitkan solidaritas kemanusiaan,” kata Ahyudin di kantor ACT, Menara 165, Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Karenanya, tegas dia, bangsa Indonesia harus ambil peran dan bertanggung jawab untuk membantu Palestina. Atas nama bangsa Indonesia, ACT akan mengirimkan bantuan 10 ribu ton beras ke Palestina.

10 ribu ton beras ini, sebutnya, berkat solidaritas rakyat Indonesia yang peduli atas kemerdekaan dan kesejahteraan warga Palestina.

Ditegaskan Ahyudin, bantuan beras tersebut diberikan atas nama bangsa Indonesia yang dikumpulkan dari 10 ribu petani dari lima kabupaten di Indonesia. Yaitu Rembang, Grobogan, Blora, Ngawi, dan Bojonegoro.

“Indonesia ini negara besar. Cirinya adalah ketika bangsa ini selalu siap untuk memberi peran, andil dan tanggung jawab pada masalah-masalah kemanusiaan. Indonesia harus jadi pemenang dalam bidang kemanusiaan,” tegas Ahyudin.

Dikatakan dia, Palestina adalah negara yang sangat panjang dalam jeratan penjajahan Israel. Kondisinya terburuk dan 80 persen Palestina bergantung pada bantuan. Maka Indonesia harus ambil andil memberi bantuan kepada Palestina.

“Lebih-lebih Palestina adalah negara pertama yang mengakui Indonesia merdeka,” ucap Ahyudin.

Menurutnya, bantuan diplomasi tidak berdaya karena Israel menyerang Palestina atas dukungan AS. Sehingga yang diperlukan Palestina saat ini adalah bantuan pangan, karena tidaklah mungkin mengirim tentara.

“10 ribu ton beras yang kita kirim ke Palestina tidaklah terlalu besar dibanding dengan kemakmuran bangsa ini. Buktinya 10 ribu ton beras itu kita beli dari petani Indonesia,” kata Ahyudin.

Memang, kata dia, warga Palestina itu mengkonsumsi gandum dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi beras akan menjadi istimewa bagi mereka. Beras ini juga simbol kemakmuran rakyat Indonesia. Karena semiskin-miskinnya orang Indonesia masih tetap makan nasi.

“Misi kami ini sekaligus untuk menggairahkan umat Islam dan petani Indonesia bahwa bangsa ini lumbung pangan dunia,” tukas dia.

Namun demikian, tegas Ahyudin, pemerintah masih harus impor beras. Itu buah dari belum seriusnya manajemen negara dalam mengelola potensi pangan. “Saya kira bangsa kita ini, bangsa lumbung pangan dunia,” ujarnya.

Bahkan, tambah dia, ahli demografi menyebutkan, kalau pulau Jawa sebagai pulau tersubur di dunia, menjadi sumber pangan dunia. Maka, Pulau Jawa cukup untuk menangani negara seluruh dunia.

“Sayangnya Pulau Jawa menjadi pulau beton setiap tahun sawahnya hilang,” tukas Ahyudin.

Baca Juga
Lihat juga...