Bantul Minta Mekanisme Pelaksanaan Program Upsus Siwab Diperbaiki

251

YOGYAKARTA — Program unggulan pemerintah pusat di bidang peternakan yakni Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Ubsus Siwab) yang digulirkan Kementerian Pertanian sejak  2017, mendapat kritikan dari sejumlah pihak. Salah satunya oleh pemerintah daerah khususnya para pelaksana program tersebut di lapangan.

Salah satu kritikan adalah terkait mekanisme pelaksanaan program, yang dinilai kurang efektif dan memiliki banyak kekurangan. Sehingga program dengan anggaran cukup besar itu, dikhawatirkan justru tidak akan berjalan maksimal, bahkan mungkin tak akan mencapai tujuan awal yang diharapkan.

Ketua UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Bantul, Sri Ida Sulistyorini, selaku pelaksana program Upsus Siwab di daerah, menyebut ada sejumlah kelemahan program tersebut. Pertama terkait mekanisme pendataan terhadap ternak yang telah diberikan Inseminasi Buatan (IB).

Dimana pendataan hanya dilakukan secara manual, dengan pemberian tanda berupa kalung, sehingga sangat dimungkinkan dimanipulasi oleh para peternak, yang pada akhirnya membuat program IB menjadi tidak tepat sasaran.

“Sesuai ketentuan, IB hanya bisa diberikan maksimal 2 kali untuk setiap ternak. Tapi praktiknya seekor ternak bisa mendapatkan IB hingga berkali-kali. Akibatnya data berapa jumlah ternak yang mendapatkan IB tidak akurat,” katanya.

Kedua juga masih terkait prosedur pelaksanaan program Upsus Siwab, dimana pemberian IB dilakukan satu persatu, dengan cara petugas Puskeswan mendatangi ternak ke lokasi kandang. Hal itu dinilai kurang efektif dan sangat rawan disalahgunakan, mengingat luasnya wilayah sebaran ternak serta keterbatasan tenaga yang dimiliki Puskeswan di tiap daerah.

“Mestinya kan bisa dikelompokkan. Sehingga sekali datang, petugas bisa memberikan IB secara sekaligus ke banyak ternak. Apalagi jika lokasi perjalanan cukup jauh, sangat mungkin bibit sperma rusak dan mati,” katanya.

Ketiga adalah tidak adanya program pengkondisian ternak calon indukan, sebelum IB diberikan. Padahal pengkondisian ternak ini sangat penting dan menjadi faktor penentu keberhasilan setiap proses IB pada setiap ternak.

“Selama ini petugas hanya menunggu informasi dari peternak. Jika ternak mereka sudah birahi, baru kita diberi kabar. Meskinya kan bisa dengan diberikan horman ke beberapa kelompok ternak. Sehingga setelah semua ternak birahi, bisa dilakukan IB secara bersamaan,” katanya.

Kempat adalah tidak adanya program pendukung, pasca proses pemberian IB pada setiap ternak calon indukan. Seperti misalnya pemberian vitamin atau makanan tambahan, yang dapat menunjang kesehatan ternak selama bunting, sehingga kelahiran terbak baru bisa tercapai.

“Percuma, jika IB diberikan namun kondisi ternak justru tidak diperhatikan. Akan sangat beresiko mengalami kegagalan,” katanya.

Ida juga mengeluhkan seringnya perubahan mekanisme atau prosedur pelaksanaan program Upsus Siwab, yang dilakukan hingga berkali-kali sehingga menyulitkan petugas dilapangan. Ia sendiri berharap agar program Upsus Siwab bisa diserahkan ke daerah, sebagai pelaksana di lapangan, sehingga lebih maksimal.

“Kita, daerah, tidak punya kewenangan apa-apa. Mau merubah mekanisme, juga tidak bisa. Karena tugas kita hanya melaksanakan program sesuai juklis yang ada. Meskipun kita tahu, program ini sulit tercapai jika tidak ada perubahan mekanisme,” katanya.

Ketua UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Bantul, Sri Ida Sulistyorini-Foto: Jatmika H Kusmargana.

 

Baca Juga
Lihat juga...