Besalen Guloklopo, Edukasi Sejarah Keris Pengunjung TMII

331

JAKARTA – Halaman samping kanan Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terdapat sebuah Besalen Guloklopo. Yakni, tempat kerja tradisional untuk membuat keris atau senjata pusaka.

Bangunan besalen ini tidak terlalu besar sekitar 4 x 6 meter berbahan kayu, atapnya tinggi dan sebagian dinding terbuka. Di dalam besalen terdapat alat-alat pembuat keris, seperti palu, pompa peniup, ragam bahan pembuat keris, hingga tungku pengapian.

Dari pengapian terlihat kumparan api, bahan-bahan keris sedang dipanggang sampai memerah dengan suhu panas alami berbahan arang.

Setelah bahan keris itu sampai titik cair, kemudian diangkat dari pengapian lalu ditempa agar menyatu padat. Saat satuan bahan keris itu ditempa, bercikan api keluar merata dengan gerakan cepat. Tempaan pun terus dilakukan, hingga kemudian paduan bahan itu dimasukkan kembali ke dalam pengapian. Terus itu dilakukan berulang kali.

Besalen ini adalah tempat edukasi pembuatan keris atau senjata pusaka yang dipersembahkan Komunitas Asta Jaya (Ajang Silaturahmi Tossa Aji Jakarta Raya) kepada Museum Pusaka TMII.

Ketua Komunitas Asta Jaya, Cakra Wiyata. Foto: Sri Sugiarti.

“Besalen ini kegiatan dari Asta Jaya yang dihibahkan kepada Museum Pusaka TMII. Tujuannya untuk meramaikan museum dan memberikan edukasi kepada pengunjung untuk melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa,” kata Ketua Komunitas Asta Jaya, Cakra Wiyata kepada Cendana News, belum lama ini.

Komunitas Asta Jaya bersinergi dengan Museum Pusaka, jelas Cakra, kurang lebih sudah setahun. Melangkah dari keprihatian terhadap generasi muda yang minim pengetahuan budaya. Juga tanggang jawab pada dunia untuk selalu mengingat keris. Padahal keris Indonesia pada 2005 sudah diakui UNESCO sebagai karya adihulung.

Itulah, kata Cakra, salah satu tuntutan adalah melestarikan dan mengembangkan keris dari tata cara pembuatan, budaya dan pengembangan ke seluruh masyarakat luas.

“Kami melihat beberaoa dekade ini posisi keris itu agak disudutkan. Apalagi generasi muda tahunya keris itu mistik, banyak sisi negatif. Ini yang mau kami luruskan kembali,” kata Cakra.

Oleh karena itu, kata dia, komunitas Asta Jaya memberanikan diri menggalang dana untuk mendirikan besalen di samping Museum Pusaka TMII. Tentu membangun besalen harus terlebih dahulu meminta izin kepada pihak pengelola Museum Pusaka dan manajemen TMII.

“Alhamdulillah mereka mendukung dan memfasilitasi lahan untuk dibangun besalen. Di Jakarta, besalen baru satu ini, sedangkan di daerah banyak seperti Madura, Yogyakarta, Gunung Kidul, dan Jawa Timur,” ujarnya.

Dijelaskan dia, setelah besalen dihibahkan kepada Museum Pusaka, pihak manajemen TMII dan museum tetap meminta Komunitas Asta Jaya yang mengelola besalen sebagai sarana edukasi keris sebagai budaya bangsa.

Cakra berharap, Besalen Guloklopo ini menjadi sarana edukasi, penelitian, dan wisata bagi masyarakat luas maupun seluruh komunitas pecinta keris Indonesia. Sehingga benda warisan nenek moyang ini tetap lestari, tidak punah termakan zaman.

Di antara museum-museum yang ada di TMII, menurut Cakra, memang Museum Pusaka yang sepi pengunjung. Ini dikarenakan masyarakat umum tidak begitu paham keris, malah ada yang takut menganggap mistik. Maka, komunitas Asta Jaya membangun kegiatan meramaikan museum dengan besalen.

“Jangan sampai museum ini tutup. Jika itu terjadi maka Komunitas Asta Jaya merasa paling bersalah,” kata Cakra.

Cakra merasa bersyukur karena antusias pengunjung sangat luar biasa untuk belajar bagaimana cara membuat keris. Juga sekaligus tahu sejarah keris dan ragamnya. Bahkan, kata Cakra, tak jarang pengunjung umum seperti pelajar banyak bertanya tentang sejarah keris, sehingga pada akhirnya mereka tahu bahwa keris bukan mistik tapi karya seni. Akhirnya mereka tertarik untuk belajar lebih mendalam.

Khusus mahasiswa, lanjut Cakra, biasanya mereka banyak bertanya terkait bahan-bahan pembuatan keris dan teknik pembuatan. Karena teknik pembentukan keris ini adalah teknik metalogi kuno yang ada di Indonesia.

Keris adalah salah satu paduan besi tertua di dunia. Berbagai sifat logam dilebur jadi satu, ada keras ada ulet. Sehingga tidak mudah patah dan tetap tajam.

“Dari teknik metalogi, mahasiswa teknik sangat tertarik prosesnya. Nah teknik pembuatan keris di besalen ini sudah semi modern karena sudah pakai gerinda atau bor. Kalau zaman empu dulu belum ada mesin bor,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Cakra juga menyampaikan tahapan pembuatan keris. Yakni terlebih dahulu mengumpulkan bahan pamor yang terdiri dari besi, logam, dan nikel, lalu dilipat jadi saton.

Ragam keris. Foto: Sri Sugiarti

Saton itu, jelas dia, beberapa logam disatukan menjadi kesatuan berlipat 4, 8, 12, 24 atau hingga ratusan kali lipat. Kemudian di tengahnya diberi inti baja yang diapit bahan pamor, lalu dilebur di pengapian atau dibakar untuk disatukan. Setelah bahan itu memerah mencair, lalu angkat dan ditempa atau dipukul palu, disatukan. Kemudian dimasukkan lagi ke pengapian, begitu prosesnya berlanjut terus.

Setelah bahan sudah menjadi kesatuan berbentuk panjang, baru dibentuk. Ada yang lurus maupun bentuk luk. Itu baru proses pembentukan. Kemudian dirapikan dan dihaluskan, serta terakhir diwarangi agar warna kerisnya berubah.

“Pakai cairan warangan, warna besi nanti bisa ada warna hitam-putih kelihatan. Proses pembuatan satu keris memakai waktu dua minggu lebih,” ujarnya.

Beda halnya dengan pembuatan keris pabrikan semuanya menggunakan alat modern yang terukur, bahkan ada termometer laser dan sebagainya. Sedangkan kalau di Besalen Guloklopo semi modern.

Bahan-bahannya pun tidak terlalu sulit didapat. Contohnya, kata Cakra, nikel mentah dan bahan lainnya ada di sekitar kita. Seperti bekas klanpot kendaraan, plat bekas motor atau pesawat. Semua bahan itu bisa dieksplor menjadi sebuah keris.

Pada dasarnya, jelas Cakra, Besaken Guloklopo tidak menerima pesanan komersial pembuatan keris. Besalen ini khusus sarana edukasi bagi anggota komunitas Asta Jaya maupun pengunjung Museum Pusaka.

Komunitas Asta Jaya, kata dia, biasanya banyak mendapatkan referensi dengan dengan membaca buku-buku kuno sejarah keris dan proses pembuatan. Kemudian mengeksplor pembuatan keris.

“Jadi dari buku kuno itu kami pelajari teknik pembuatan keris. Di besalen ini, kami praktik pembuatannya. Setelah jadi keris, memang ada saja orang yang mau beli. Ya kita juga butuh untuk biaya, tapi kami bukan komersial,” jelas Cakra.

Yang paling berat menurut dia adalah mengubah persepsi negatif tentang keris di masyarakat luas. Komunitas Asta Jaya akan terus berupaya mengedukasi masyarakat luas, terkait makna pamor keris.

“Satu keris itu sudah bisa bicara sendiri, maksud dan tujuan. Ada seni tempa, estetika, makna spiritual, falsafah, dan sejarah,” jelas Cakra.

Menurutnya, banyak makna yang terkandung dalam keris tidak semua orang tahu. Sehingga diharapkan besalen ini menjadi sarana edukasi khususnya generasi muda jangan sampai orang luar yang lebih menghargai keris produk Indonesia.

Karena, sebut dia, banyak penggemar keris dari Belanda dan Malaysia justru menempatkan posisi keris lebih mulia dibandingkan orang Indonesia. Padahal, keris itu asli Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Kini, perkembangan keris sudah sampai ke semenanjung Malaysia dan Filipina. “Jadi kalau kita tidak melestarikan, masyarakat Filipina, Malaysia dan Thailand yang melestarikan. Itu nggak lucu karena pusat keris itu ada di Nusantara,” tukas Cakra.

Dengan hadirnya Besalen Guloklopo di Museum Pusaka TMII, secara otomatis juga menjadi sarana berkumpul anggota komunitas Asta Jaya. Baik dari Jakarta maupun luar kota.

“Alhamdulillah kami punya tempat ngumpul di sini difasilitasi Museum Pusaka. Sabtu-Minggu kami ngumpul silaturahmi saling sharing juga sekaligus jalan-jalan ke TMII bawa keluarga,” kata Cakra.

Saat berkumpul, tambah dia, anggota komunitas bisa saling belajar tukar pemikiran seputar keris. Sehingga wawasan pun akan bertambah. Sebelumnya, kata Cakra, mereka kerap berkumpul di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur.

Para pecinta keris di Komunitas Asta Jaya. Foto: Sri Sugiarti

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.