Buah Lokal Musiman, Berkah Petani dan Pedagang Keliling

588

LAMPUNG – Masa panen beberapa jenis buah musiman di antaranya durian, rambutan, cempedak, duku dan beberapa jenis buah lain mulai berlangsung di wilayah Lampung.

Hendra (36) salah satu pedagang buah keliling mempergunakan mobil L300 menyebut sebagian buah lokal tersebut merupakan hasil pertanian warga di wilayah kecamatan Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Musim buah yang belum serempak membuat sejumlah buah yang dijual masih cukup tinggi terutama jenis duku dan rambutan.

Jenis rambutan yang dijual oleh Hendra disebutnya merupakan jenis rambutan Aceh, Rafia dan Binjai, hasil pengembangan petani pekebun di wilayah Kecamatan Sidomulyo, Katibung yang sebagian sudah memasuki masa menguning dan bahkan mulai masak dengan warna merah pada kulitnya.

Harga buah rambutan matang disebutnya akan mengalami penurunan saat puncak masa panen pertengahan Februari mendatang, meski sebagian petani mulai memanen rambutan pada akhir Januari.

“Saya membeli rambutan dari petani dengan sistem borongan di pohon. Selanjutnya saya panen saat kondisi sudah matang sebagian buah yang belum matang disisakan pada pohon untuk dipanen berikutnya,” terang Hendra, salah satu pedagang buah musiman saat ditemui Cendana News di Kalianda Lampung Selatan, Senin (29/1/2018).

Buah cempedak dan rambutan menjadi hasil panen buah musiman pekebun di Lampung [Foto: Henk Widi]
Hendra yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan tersebut mengaku, memanfaatkan peluang melimpahnya panen buah lokal dengan menjual beragam buah tersebut secara keliling.

Masa panen yang belum merata disebutnya mengakibatkan harga buah rambutan saat ini per kilogram masih di kisaran Rp10.000 per kilogram tanpa tangkai dan Rp8.000 per kilogram dengan tangkai. Harga tersebut diakuinya masih tinggi karena buah rambutan masih cukup sulit diperoleh bahkan sebagian masih belum matang.

Buah rambutan tersebut diakuinya dibeli dengan sistem tebas dari petani dengan harga Rp3.000 pe rkilogram dan rata-rata satu pohon ditebas dengan harga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Sistem tebas disebutnya menjadi pilihan bagi pedagang memperoleh buah untuk dijual secara keliling. Sebab buah rambutan hanya terjadi setahun sekali dengan masa panen bulan Januari hingga Februari.

Selain buah rambutan jenis buah yang dijual oleh Hendra di antaranya durian dari Lampung Timur dengan harga beli mencapai Rp10.000 hingga Rp15.000 per buah ukuran kecil dengan harga jual Rp30.000 hingga Rp40.000 per buah dan ukuran besar dibeli dari petani dengan harga Rp25.000 hingga Rp30.000 sehingga dijual dengan harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per buah.

“Khusus untuk buah durian pada musim awal tahun ini harganya lebih tinggi dibanding musim sebelumnya, karena saat masa pembungaan sedang musim hujan dan banyak bakal buah rontok,” terang Hendra.

Buah lokal hasil perkebunan petani di wilayah lereng Gunung Rajabasa disebutnya bahkan saat ini sulit diperoleh, berimbas mahalnya harga buah durian yang kerap dibeli dari petani dengan sistem tebas pohon dan membeli dengan sistem satuan. Sebagian buah durian dari petani di Lampung Timur disebutnya mendominasi terutama jenis durian mentega dan durian montong.

Hendra juga menyebut, musim buah duku lokal dari wilayah Katibung dengan ukuran kecil membuat konsumen bisa memilih karena sebelumnya buah duku kerap didatangkan dari wilayah Jambi dan Palembang. Harga buah duku saat ini dijual dengan harga Rp25.000 per dua kilogram sementara untuk duku asal Palembang dan Jambi dijual Rp30.000 per dua kilogram dengan ukuran besar.

“Pedagang kerap mencampurkan buah duku lokal Lampung dan luar Lampung untuk menekan harga tetapi tetap ada yang dipisah karena konsumen bisa membedakan bentuk dan rasanya,” beber Hendra.

Buah cempedak yang dominan didatangkan dari Lampung Timur dengan ciri khas menyerupai nangka berukuran kecil beraroma wangi disebutnya dijual dengan harga Rp15.000 per dua buah. Pasokan buah dari Lampung Timur disebutnya selain cempedak juga buah semangka yang dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram untuk semangka biji dan Rp7.000 per kilogram semangka nonbiji.

Berkat berjualan buah musiman secara keliling Hendra mengaku, dalam sehari mendapatkan omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta dan saat buah musiman tidak melimpah ia mengaku akan kembali bekerja sebagai buruh bangunan. Selain sulitnya mencari buah untuk dijual ia menyebut keterbatasan modal membuat ia memilih berjualan saat musim buah berlangsung.

Musim buah musiman yang dimiliki warga juga dinikmati Surti (50) warga Desa Tanjungan Kecamatan Katibung yang memiliki sepuluh batang pohon rambutan dan dibeli oleh pedagang untuk dijual kembali dengan sistem tebas pohon. Sistem tebas pohon disebutnya memberi penghasilan sebesar Rp300.000 per pohon bahkan lebih tergantung kualitas dan kuantitas buah di pohon.

“Saat puncak panen dan semua pohon serentak sudah matang harga nanti akan anjlok dan mumpung masih tinggi saya jual saja,” terang Surti.

Penanaman pohon buah disebut Surti semula hanya untuk memanfaatkan lahan kosong. Bahkan ia menyebut harga buah rambutan yang per kilogramnya sempat hanya berkisar Rp300 membuat buah rambutan tersebut menua dan membusuk di pohon. Ia mempersilakan tetangga yang ingin menikmati rambutan pada saat harga durian mulai rendah karena pedagang buah pun enggan menjual.

Sarti,pemilik pohon rambutan menjual buah rambutan dengan sistem tebas kepada pedagang buah [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.