Bubur Ayam Khas Cirebon Nan Gurih Tak Berkuah

1.592

LAMPUNG — Bubur ayam kebanyakan menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menu sarapan. Kuliner ini sangat mudah ditemui di berbagai daerah. Karena begitu populer, berbagai varian juga ikut bermunculan, salah satunya bubur ayam khas Cirebon.

Penjual bubur ayam khas Cirebon, Windi (30) menyebutkan, kuliner ini nyaris menyerupai bubur ayam pada umumnya hanya saja memiliki sajian yang lebih beragam dengan cita rasa meresap hingga ke dalam bubur dan disajikan tanpa kuah.

Bubur ayam khas Cirebon memiliki beragam taburan, di antaranya kerupuk udang, suwiran daging ayam goreng, bawang goreng, irisan daun bawang prei, seledri dan masih diramaikan dengan sate ayam terbuat dari jeroan.

“Setiap penjual bubur ayam khas Cirebon memiliki resep khas selama proses pembuatan. Namun umumnya dengan kaldu ayam dan bumbu rempah yang sudah disatukan sehingga disajikan tanpa kuah sudah terasa gurih,” terang Windi saat ditemui Cendana News di Jalan Lintas Timur Lampung KM 01, Sabtu (27/1/2018).

Sebanyak tiga kilogram beras jenis padi Ciherang pilihan disiapkan ditambah dengan bumbu bumbu lain di antaranya daun salam, bawang merah, gula,garam, lada, jahe dan kecap asin. Lada dan jahe menjadi bahan penghangat sekaligus penambah rasa khas rempah ditambah dengan bumbu pelengkap rahasia lain untuk menghasilkan sajian kuliner yang khas.

Beras yang sudah disiapkan harus dalam kondisi bersih selanjutnya direbus dalam panci khusus dengan persiapan kaldu ayam dan bawang putih, bawang merah yang telah dihaluskan. Beras direbus bersama dengan bumbu dan kaldu hingga mendidih dan matang secara bertahap dilakukan proses pencampuran hingga bubur tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental.

“Selain kaldu ayam dan bumbu halus lain untuk menciptakan rasa yang khas saya tambahkan taburan gula, garam halus, taburan bubuk jahe dan lada sembari diaduk hingga meresap,” beber Windi.

Windi, penjual bubur ayam khas Cirebon mempersiapkan pesanan bubur ayam bagi pelanggan [Foto: Henk Widi]
Selama proses menunggu bubur matang tambahan berupa ayam goreng bisa dipersiapkan sebagai bahan suwiran untuk ditaburkan serta kedelai goreng serta bawang merah. Bahan bahan pelengkap tersebut disediakan terpisah dalam wadah khusus.

Setelah bubur matang, bubur dalam dandang khusus akan ditempatkan dalam gerobak khusus sebagai sarananya untuk berjualan sejak pukul 06:00 hingga hingga pukul 10:00.

“Karena rasanya gurih dalam bubur bahkan tanpa kuah pun sudah gurih ditambah topping beragam taburan penggugah kerap dalam waktu maksimal lima jam bubur saya sudah habis,” terang Windi.

Berjualan sebanyak tiga kilogram bubur ayam khas Cirebon perhari dengan harga perporsi Rp10.000 ditambah dengan sate jeroan ayam seharga Rp2.000 pertusuk Windi dalam sehari ia bisa menjual 50 porsi dengan omzet rata rata Ro500 ribu perhari. Peminatnya sebagian besar merupakan pekerja sektor jasa di pelabuhan Bakauheni yang melakukan aktivitas selama 24 jam dan membutuhkan sarapan saat pagi hari.

Anita (32) salah satu warga Bakauheni menyebut kerap membeli bubur ayam khas Cirebon sembari berbelanja di pasar untuk sarapan anak dan suaminya. Tekstur lembut dengan cita rasa kuat pada bubur meski disajikan tanpa kuah tersebut membuat bubur ayam khas Cirebon tidak membuat eneg saat disantap.

“Sebagai menu sarapan pagi dengan cita rasa khas termasuk taburan daun bawang, suwiran ayam, kacang kedelai goreng serta campuran lain yang ramai bertumpuk tumpuk menambah semangat untuk makan,” beber Anita.

Baca Juga
Lihat juga...