Ciuman Terakhir untuk Ibu

296

CERPEN HAMDANI MW

IRMA mencium kening ibunya dengan khusyuk, seolah merasa itu adalah ciuman terakhir untuk wanita yang telah melahirkannya. Sri Sumarah, wanita tua yang terbaring lemah di pembaringan itu hanya mampu mengedip-kedipkan matanya. Kedua mata itu seolah telaga di musim kemarau yang kehabisan air.

Sebenarnya hati kecil Irma mendorong untuk tinggal lebih lama di Desa Waru. Ia berharap keberadaannya mampu menggugah perasaan perempuan yang menjadi ibu dan junjungannya itu, dan kini seolah berubah menjadi robot yang beku.

Namun sayang, pekerjaannya di sebuah perusahaan di Jakarta telah merampas sebagian besar waktu. Pandangan Irma berkeliling, kemudian mendarat pada seorang perempuan di sudut kamar.

“Tolong kau jaga ibu baik-baik, Ipah,” ujar Irma Nurmalita Suryani kepada adiknya.

“Tentu Mbak. Mbak Irma tak usahlah khawatir,” jawab Ipah.

Irma merasa tenang mendengar jawaban adiknya itu. Meskipun Ipah bukanlah adik kandung, namun ia percaya, perempuan itu mampu merawat dan menjaga mutiara satu-satunya dalam hidup itu. Ipah adalah anak dari adik ibunya, namun sudah dia anggap sebagai adik kandung sendiri.
****
IRMA adalah putri tunggal dari pasangan Widyodikromo dan Sri Sumarah, seorang yang terpandang di Desa Waru, Wonosobo. Mereka adalah juragan tembakau yang paling awal di desa itu, sehingga namanya sangat kesohor. Semua juragan muda menaruh hormat pada juragan Widyodikromo.

Sebagai anak seorang juragan, kalau saja mau, sebenarnya Irma cukup duduk berpangku tangan mengandalkan harta warisan dan tabungan kedua orang tua untuk sekadar hidup. Tanahnya berhektar-hektar, dan selalu beranak pinak. Terakhir, juragan Widyo membeli tanah di ujung desa senilai puluhan miliar.

Namun itu tak dilakukan Irma. Juragan Widyo mendidik anak perempuannya dengan disiplin tinggi. Didikan lelaki tua itu membuahkan hasil. Irma tak berpikiran sedikit pun untuk meneruskan usaha ayahnya di bisnis tembakau. Ia telah merintis jalan hidupnya sendiri, meniti karir di ibu kota.

Suatu ketika, ibunya pernah menangis, meminta Irma pulang ke rumah dan mengelola kebun yang sangat luas. Namun Irma telah memiliki dunianya sendiri. Terlebih setelah ia membangun keluarga baru dengan seorang pengusaha di ibu kota, hampir seluruh waktunya tersita. Kesibukannya, tak menyisakan ruang sekecil apa pun untuk ibu yang melahirkannya, yang kini tinggal sendirian, terutama setelah kepergian ayahnya setahun lalu.

Sejak kehilangan tambatan hati, ibu sepertinya kehilangan separuh dari hati dan kehidupannya. Menurut cerita Ipah, ibu terkadang terlihat seperti patung. Diam selama berjam-jam.

“Coba kau pancing beliau dengan cerita-cerita yang menyentuh hati. Siapa tahu ingatan dan perasaannya bisa kembali pulih,” saran Irma suatu ketika.

“Mmm… Sebenarnya sudah pernah saya coba sih, Mbak. Tapi tampaknya belum berhasil… ” sahutnya lirih.

Irma terdiam beberapa lama. “Mmm… atau mungkin perlu dicarikan psikolog?”

“Kiranya tak perlu Mbak. Nanti segala keperluan Bude, saya siapkan,” ujar Ipah.
Setelah merenung beberapa lama, akhirnya Irma menyetujui usul adiknya. Pikirnya, hitung-hitung memberikan adiknya pekerjaan, daripada tak memiliki kesibukan selain melayani suami dan anak-anak di rumah. Ia percaya Ipah. Dan akhirnya, seluruh denyut kehidupan wanita tua yang menjadi darah dagingnya itu bergantung pada Ipah.
****
IRMA melepaskan kecupan di kening ibunya, dan mengusap rambut yang sudah bertabur putih itu. Tanpa terasa, air matanya menetes di atas wajah tua itu, lalu menuruni lereng yang berliku di antara tulang pipi yang menonjol. Kedua mata ibunya hanya berkedip-kedip tanpa makna, membuat perasaan Irma tercabik-cabik.

“Maafkan Irma, Ibu. Sebenarnya Irma ingin berlama-lama menemani Ibu, tapi untuk saat ini tidak memungkinkan. Irma janji, suatu ketika kita akan bersama lagi,” tangis Irma seperti pada dirinya sendiri.

Ia mencoba menguatkan hatinya.

“Ipah, saya titipkan dulu Ibu kepadamu ya. Saya ada rencana membawa Ibu tinggal bersama. Tapi tidak untuk sekarang,” ujarnya.

“Ini, terimalah untuk keperluan merawat ibu dan anak-anakmu. Kalau ada kekurangan, kau bisa tengok di rekeningmu…”

“Iya Mbak, terima kasih. Saya berjanji menjaga Bude sampai Mbak Irma kembali…”

“Ya sudah, saya tinggal dulu. Baik-baik di rumah…”

“Ya Mbak, hati-hati di jalan…”

Di luar rumah, Irma sudah disambut sopir, yang akan membawa ke bandara. Irma terbang membawa kenangan semasa kecil bersama kedua orang tua. Ayahnya yang mendidik dengan disiplin agar dirinya kelak mandiri. Ia sempat menangkap dari sorot mata, ibu tak sampai hati melihat putrinya ditempa dengan keras seperti itu.

Teringat olehnya, suatu ketika, saat pulang mudik dari kuliah, Irma telepon ke rumah minta dijemput sopir ke bandara, namun ayahnya melarang. Padahal waktu itu sopir sedang tidak ada pekerjaan.

Irma akhirnya pulang ke rumah dengan menumpang bus yang paling akhir. Sehingga sampai di rumah sudah pukul 23.30 malam. Ayahnya bilang, itu bagian dari pelajaran disiplin dan kemandirian. Irma ingat, saat itu ibunya menangis melihat dirinya mendapat perlakuan keras semacam itu.

Ah, kenangan demi kenangan akan ibunya silih berganti masuk ke dalam ingatan. Semuanya seolah berebut ingin keluar dan menampikan diri di otak Irma, sampai Irma kecapekan, dan akhirnya tertidur dengan sendirinya. Dan dalam tidur, kenangan itu masih juga muncul lewat mimpi.

Kenangan itu baru berhenti ketika suara pramugari dan suara berisik di kanan-kiri para penumpang berkemas-kemas untuk turun. Irma terbangun dan menyiapkan barang-barang. Kenangan ibunya sudah tak lagi hadir di kepala. Kini, di depannya telah mananti setumpuk pekerjaan yang harus dibereskan.
****
KIRA-KIRA sebulan dari kepulangan Irma ke kampung halaman, datang telepon dari Ipah, yang mengabarkan bahwa Ibu meninggal. Kabar itu sungguh bagaikan halilintar di siang bolong. Meruntuhkan segala harapan di kepalanya.

Johan, suaminya sudah membuka tangan lebar-lebar untuk menyambut kedatangan mertua, dan anak-anaknya, sudah siap melayani nenek. Yah, semuanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjemput ibunya ke ibu kota. Pimpinan di perusahaan sudah mengasih waktu khusus bagi Irma, kira-kira minggu depan kesempatan itu datang. Namun semuanya seolah berkejaran.

Irma menangis, yah, sungguh menangis. Apakah ini takdir dari yang Maha Kuasa, atau ini hukuman baginya yang selama ini kurang memberikan perhatian untuk ibunya? Tapi, bukankah di saat-saat terakhir ini, ketika sang ibu sudah tak berdaya, dia telah siap berbuat lebih baik untuk ibu? Demikian kejamkah Tuhan, yang telah memisahkan dirinya dengan ibunya, justru di saat sang ibu membutuhkan uluran tangan?
***
BENDERA putih sudah terlihat di ujung jalan desa. Mobil yang ditumpangi Irma, suami dan anak-anaknya memasuki gerbang, melaju dengan pelan-pelan. Mobil mendahului satu dua orang yang berjalan, tampaknya hendak menuju ke rumahnya untuk melayat.

Sampai di depan gerbang, mobil berhenti, Johan menuntun istrinya turun dari mobil. Semua mata pelayat tertuju ke arah keluarga itu. Yah, hanya keluarga inilah yang ditunggu untuk pemakaman. Karena hanya Irmalah anak tunggal dari keluarga Juragan Widyodikromo.

Diiringi tatapan puluhan pasang mata, Ipah menjemput keluarga Irma dan membawanya segera masuk ke dalam ruang tengah rumah induk. Di tengah ruangan meja-kursi yang telah disisihkan itulah, jenazah ibunya dibaringkan di dalam peti mati. Irma tak kuat lagi menahan diri, lalu menghambur ke arah peti, mendaraskan ciuman untuk yang terakhir kali. Ciuman yang mengantar ibu sampai ke liang lahat.

Sore hari, ketika Irma dan keluarganya berkumpul di ruang tengah, Ipah dan suaminya dengan perasaan ragu-ragu, masuk ruangan dan memberikan secarik kertas kepada Irma. Dibacanya huruf demi huruf, kalimat demi kalimat di atas kertas itu dengan cermat. Dahi Irma berkerut. Di bagian bawah terdapat tanda tangan dan nama almarhum, tanda tangan para saksi dan lurah, yang menyerahkan seluruh harta warisan almarhum kepada Ipah. ***

Suhamdani memiliki nama pena Hamdani MW, asal dari kota gersang Gunung Kidul. Mulai menulis secara freelance berupa feature, cerpen, cerita anak dan geguritan sejak 1995. Cerita-cerita anaknya telah diterbitkan di berbagai media, antara lain Majalah Hidup, Tabloid Hoplaa dan Majalah Bobo. Buku cerita anaknya yang telah terbit: Molo Musang yang Lupa Diri, Raja yang Sombong, Kelinci yang Cerdik, Musang yang Rakus, serta Merpati dan Ular Sanca oleh Penerbit Nusatama, Yogyakarta, 1995. Novel anak-anak Petualangan Trio Ranger terbit tahun 2013 (Lintang Indiva, Solo). Cerpen-cerpennya terangkum dalam antologi tunggal Romansa (Penerbit Labuh, Yogyakarta, 2005). Antologi Semut Hitam dan Semut Merah terbit September, 2014 (Penerbit Andi, Yogyakarta). Bersama tim Harian Joglosemar, menyusun buku Perempuan Berhati Ikhlas: Sekelumit Kisah Sudjiatmi, Ibunda Jokowi, oleh penerbit Kana Media, Yogyakarta, 2014.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.