banner lebaran

Cuaca tak Menentu, BPTD Lampung Imbau Nakhoda Utamakan Keselamatan

171

LAMPUNG – Kondisi cuaca tak menentu dengan kondisi perairan yang tenang namun tiba-tiba berubah sewaktu-waktu di lintas pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung ke pelabuhan penyeberangan Merak, Banten dominan terjadi sejak sepekan terakhir.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Henri, selaku perwira jaga Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah VI Bengkulu Lampung Kementerian Perhubungan RI, yang bertugas di Pelabuhan Bakauheni. Kondisi tersebut diakuinya riil terjadi di lapangan sekaligus sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berlaku selama satu hari.

Henri mengakui, kondisi cuaca ekstrim yang terjadi di perairan Selat Sunda membuat kapal roll on (Roro) di lintasan Selat Sunda mengalami hambatan waktu pelayaran (sailing time), olah gerak dan bongkar muat di dermaga (port time) dampak dari kondisi angin dan alun gelombang yang kencang.

Alur masuk dan keluar pelabuhan Merak dan Bakauheni disebutnya bahkan terimbas angin kencang dengan kecepatan 6-30 knots di perairan Selat Sunda bagian Selatan disertai hujan.

Pantauan pergerakan kapal di lintasan Bakauheni-Merak terpantau melalui layar monitor [Foto: Henk Widi]
“Data riil dari lapangan selalu kami monitor melalui pergerakan kapal yang terpantau melalui automatic identification system atau AIS melihat olah gerak kapal di Selat Sunda dan juga laporan dari BMKG terkait kondisi terkini cuaca di perairan Selat Sunda,” terang Henri, selaku perwira jaga Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah VI Bengkulu Lampung Kementerian Perhubungan RI di Pelabuhan Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (29/1/2018).

Ia menyebut pada kondisi normal perairan tanpa alun gelombang kencang waktu tempuh maksimal kapal roll on roll off (Roro) dari Pelabuhan Bakauheni ke Pelabuhan Merak dan sebaliknya sekitar 120 menit. Namun akibat cuaca buruk bisa mencapai 180 menit.

Faktor keselamatan diakui Henri dipilih oleh para nahkoda dengan melakukan pelayaran lebih hati-hati bahkan harus berlindung di dekat Pulau Sangiang dan Pulau Rimau Balak serta Pulau Merak Besar sebelum masuk ke alur masuk pelabuhan.

“Kondisi cuaca memang sedang ekstrim bisa berubah sewaktu-waktu bahkan kondisi di tepi pantai akan berbeda dengan di laut lepas tanpa adanya pulau penghalang,” terang Henri.

Dampak dari kondisi cuaca beberapa kapal disebutnya harus meminta izin kepada Ship Traffic Control (STC) Pelabuhan Bakauheni dan Merak akan keterlambatan kedatangan kapal sehingga harus mengapung lebih lama di laut sebelum sandar.

Kondisi tersebut diakui Henri sudah dikoordinasikan dengan pihak PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni dan Merak dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan. Meski demikian ia menyebut belum ada penutupan aktivitas pelabuhan akibat kondisi cuaca buruk tersebut.

Hingga saat ini ia menyebut sejak Minggu malam (28/1) kapal semula dioperasikan sebanyak 27 hingga 29 kapal dan sempat hanya sebanyak 21 kapal dioperasikan dengan dominasi alun akibat angin dengan kecepatan angin berkisar 30 knot dan gelombang mencapai 3,5 meter.

Sejumlah perahu bagan congkel milik nelayan Muara Piluk Bakauheni Lampung [Foto: Henk Widi]
Henri menyebut kondisi cuaca yang didominasi hujan sudah terjadi sejak sore hingga malam hari mengakibatkan sejumlah kapal berukuran di bawah 5000 gross ton (GT) sementara tidak beroperasi bahkan kapal-kapal berukuran di atas 5000 GT dioperasikan.

Beberapa kapal roro yang dioperasikan di antaranya Kapal Raja Rakata, Kapal Mufidah, Kapal Mustika Kencana dan Kapal Titian Murni yang beroperasi di pelabuhan Bakauheni. Selain memantau pergerakan kapal, petugas BPTD disebut Henri, terus rutin melakukan imbauan kepada sejumlah perusahaan pelayaran dan nakhoda untuk berhati-hati dalam pelayaran di antaranya mengimbau penumpang tidak duduk di pagar kapal. Juga meminta kendaraan dilasing atau dirantai kawat pada bagian ban, terutama kendaraan truk.

“Kita sudah berikan imbauan secara tertulis dan lisan terkait kondisi cuaca ekstrem ini dengan tujuan keselamatan pelayaran,” beber Henri.

Ia juga berharap, nahkoda memanfaatkan fasilitas sarana navigasi yang ada dengan melihat kondisi nyata di laut mengenai kecepatan angin dan tinggi gelombang. Koordinasi dengan STC dan BPTD juga disebutnya menjadi kunci keselamatan kapal saat kondisi cuaca tidak menentu dalam beberapa hari terakhir, bulan Januari ini.

Selain berimbas pada kapal roro, cuaca ekstrim juga mengakibatkan sebagian kapal bagan congkel dengan bobot sekitar 20 hingga 30 GT di dermaga Muara Piluk milik nelayan terpaksa tidak dioperasikan. Sejumlah nelayan bahkan memilih beristirahat menunggu kondisi cuaca membaik dengan risiko kecelakaan di laut jika memaksakan diri tetap melaut.

Selain nelayan di Muara Piluk, penyeberangan menggunakan kapal dari dermaga Canti Kecamatan Rajabasa menuju ke Pulau Sebesi bahkan dilakukan menunggu kondisi cuaca membaik meski operasional kapal tetap berjalan normal.

Sejumlah nahkoda kapal yang akan melayani pelayaran dari dermaga Canti menuju Pulau Sebuku dan Sebesi juga selalu berkoordinasi dengan pihak syahbandar Canti yang memberikan izin berlayar.

Kondisi pelabuhan penyeberangan Canti Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.