Curah Hujan Stabil, Permintaan Bibit Pohon Buah, Meningkat

Editor: Satmoko

Buah alpukat ditimbang berdasarkan grade sebelum dikirim ke sejumlah pasar [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Kondisi cuaca musim hujan yang mulai stabil di wilayah Lampung Selatan mendorong sejumlah pemilik lahan memanfaatkan lahan secara maksimal untuk penanaman berbagai jenis pohon buah-buahan.

Syahbana Abdul Rohman (35) selaku petani penangkar bibit tanaman buah di antaranya alpukat, jambu kristal dan sirsak madu menyebut, permintaan akan bibit meningkat 90 persen dibandingkan saat musim kemarau.

Sebagai petani pemilik sekitar 500 batang tanaman alpukat produktif tersebut ia menyebut sudah mengirimkan sebanyak 7000 bibit alpukat, 500 bibit sirsak madu dan 500 bibit jambu kristal.

Proses pembibitan ketiga jenis tanaman buah tersebut diakui Syahbana setelah dirinya selama beberapa tahun menekuni bisnis jual beli buah-buahan dengan sebagian konsumen masyarakat berniat membudidayakan tanaman buah tersebut.

“Awalnya saya fokus jual beli alpukat saja, namun dengan prospek yang cukup bagus, saya mulai mengembangkan pembibitan sistem tanam biji lalu sambung pucuk. Hasilnya sangat maksimal dari segi kualitas dan kuantitas buah alpukat,” terang Syahbana Abdul Rohman, salah petani penanam berbagai jenis buah khususnya alpukat, warga Dusun Kayu Tabu Desa Kelawi, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (12/1/2018).

Proses penyemaian benih alpukat Bana mempergunakan polybag dan plastik bekas kemasan makanan [Foto: Henk Widi]
Ia berbisnis jual beli alpukat dengan pengiriman ke sejumlah pasar tradisional dan modern di Jakarta dan sekitarnya bahkan hingga Semarang. Sebanyak satu ton per pekan. Membuat ia berniat menambah populasi pohon alpukat di wilayahnya.

Hingga bulan Januari 2018 khusus di wilayah Desa Kelawi ia mencatat, ada sekitar 10.000 tanaman alpukat dengan proses penanaman sebagian sistem tanam langsung biji dan sistem sambung pucuk.

Permintaan akan bibit alpukat berusia sekitar empat bulan disebutnya, bahkan banyak diminta dari wilayah Kabupaten Lampung Barat dengan pesanan mencapai 2.000 bibit. Sedangkan untuk lokal wilayah Lampung Selatan bibit sebanyak 300 pohon dipesan warga Desa Ruguk Kecamatan Ketapang, 300 bibit dipesan warga Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan, sementara ratusan bibit sisanya dipesan oleh warga Kelawi.

“Sebagian petani mulai tertarik menanam alpukat yang saya kembangkan dan diberi nama alpukat bana karena umur tiga tahun sudah berbuah dan produksinya maksimal,” cetus Syahbana.

Memiliki hasil rata-rata satu hingga dua kuintal per pohon, ia menyebut, dengan memiliki sebanyak 100 pohon saja maka hasil sekitar 15 ton bisa diperoleh dan menghasilkan keuntungan ekonomis yang cukup tinggi. Rata-rata harga di level petani mencapai Rp5.000 petani bisa memperoleh hasil Rp75 juta untuk masa empat bulan masa panen.

Benih alpukat siap sambung pucuk dipisahkan dalam lokasi khusus bersama benih jambu kristal [Foto: Henk Widi]
Pohon alpukat disebutnya mulai berbunga sekitar bulan November hingga Desember dengan proses bertahap sehingga bulan Januari hingga April masih bisa dipanen dengan sistem panen parsial memilih buah yang sudah tua.

Berkat sosialisasi terkait potensi dan peluang usaha buah alpukat tersebut, Syahbana menyebut, sebagian petani mulai melirik untuk memanfaatkan lahan sebagai lokasi budidaya tanaman alpukat.

“Selain sebagai tanaman penahan longsor tentunya tanaman alpukat bisa menjadi investasi jangka panjang karena permintaan akan buah terus meningkat,” beber Syahbana.

Alpukat bana potensi buah lokal khas Desa Kelawi dikembangkan dengan sistem sambung pucuk hasilkan buah 1 ton per pekan [Foto: Henk Widi]
Kondisi curah hujan yang stabil dengan potensi tingkat hidup lebih baik dari musim panas membuat permintaan akan benih mulai kewalahan dipenuhi Syahbana. Bibit yang sudah terjual bahkan kini menyisakan sekitar 700 bibit. Sebagian masih dalam bentuk biji semai dan sebagian sudah menjalani proses sambung pucuk. Sebuah lokasi khusus dipilih sebagai tempat penangkaran buah alpukat hasil budidaya Syahbana yang kerap dipanggil “Bana Alpukat” tersebut.

Selain bibit alpukat, potensi buah jambu kristal dan sirsak madu yang telah dikembangkan diakuinya juga mulai memperlihatkan peningkatan permintaan. Memiliki stok bibit jambu kristal sebanyak 500 batang berusia sekitar empat bulan, 600 batang bibit sirsak madu berusia sekitar tiga bulan merupakan pesanan dari sejumlah petani.

Kondisi tanah yang subur selama musim hujan dengan tanpa harus melakukan penyiraman dipilih petani untuk mengembangkan berbagai jenis pohon buah selama musim hujan.

Laki-laki yang kerap dipanggil untuk memberi penyuluhan tata cara penanaman buah alpukat dari pasca pengolahan lahan, perawatan tanaman hingga pasca panen tersebut, mengaku tiga jenis bibit pohon kini terus dikembangkannya. Ia mengungkapkan, tanaman pohon buah memiliki fungsi ganda selain memiliki nilai ekonomis jangka panjang sekaligus bisa menjadi tanaman bermanfaat untuk menjaga lingkungan.

Pohon alpukat bana hasil sambung pucuk yang dilakukan oleh warga Dusun Kayu Tabu Desa Kelawi [Foto: Henk Widi]

Komentar