Dahnil: Demokrasi Dibangun Atas Kartel Politik

39

JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Azhar Simanjutak, memprotes judul diskusi ‘Ngopi Bareng Dari Sebrang Istana 2019: Selain Jokowi dan Prabowo, Siapa Berani?’

Menurutnya, bukan masalah siapa berani menjadi calon presiden (capres) pada pesta demokrasi 2019. “Semua orang di sini berani, saya juga berani jadi capres. Cuma masalahnya memang sejak awal regulasinya tidak ada alternatif bagi calon lain,” ungkap Dahnil, saat menjadi pembicara pada diskusi tersebut di Jakarta, Rabu (3/1/2018).

Sederhananya, sebut Dahnil, kalau dalam ekonomi Islam, ini praktek  pemotongan dari hulu supaya barang itu tidak sampai ke pasar. “Hukumnya riba. Riba itu haram,” katanya.

Menurutnya, inilah bukti bahwasannya kalau kita pakai teori ekonomi tidak pernah masuk pasar politik yang kompetitif. Pasar politik Indonesia, katanya, memang oligopoli, yang mengharapkan komoditas  dan produk-produk pilihan banyak. Itu bagaikan mimpi di siang bolong. Karena sudah  dipotong sejak dahulu.

“Pak Jokowi bersama partainya  sudah  memotong dari hulu supaya nggak banyak calon, cukup dua saja,” ujar Dahnil.

Dia menilai, praktek ini tidak sehat untuk demokrasi Indonesia karena pasar politik yang kompetitif itu tidak akan hadir. Jadi, kata dia, publik tidak pernah disediakan menu sesuai  seleranya. Karena yang  disediakan oleh para politisi atau partai politik (parpol) itu adalah calon-calon yang sesuai dengan selera mereka.

Menurutnya, ada kepentingan antara publik dengan parpol. Politik Indonesia dikuasai oleh kartel-kartel parpol. Padahal, politisi atau parpol tersebut paling getol ngomong demokrasi. Tapi, sesungguhnya tempat yang paling tidak demokrasi itu ada di parpol.

“Coba perhatikan, mana ada parpol berani dengan ketua umumnya? Di Pilkada 2018, bukti bahwa parpol dan politisi itu menurut saya menyedihkan,” ucap Dahnil.

Pasalnya, jelas dia, bisa dibayangkan seorang ketua pimpinan wilayah PKB atau PDIP, misalnya, mereka tidak punya  kesempatan untuk mendorong calon dari mereka. Calon itu semua atas restu dan kehendak pimpinan pusat.

“Siapa yang jadi bupati atau gubernur, itu ya serasanya. Misalnya, Gerinda, itu ya selera Pak Prabowo atau PDIP, ya selera Bu Megawati. Anda berharap model demokrasi seperti apa?” tukas Dahnil.

Inilah, menurutnya, demokrasi yang dibangun atas kartel politik. Sehingga publik tidak akan pernah dapat menu sesuai seleranya. Seperti survey Kedai KOPI menunjukkan yang memilih Jokowi sekitar 40 persen.

“Alternatif selain Jokowi juga kan masih banyak. Tapi, alternatif itu akhirnya tetap tidak tersedia,” ujarnya.

Tapi, lanjut dia, kalau pasar politik kita disediakan lebih kompetitif dengan undang-undang dan regulasi, maka akan muncul generasi muda yang punya kompetisi dan kompetensi. Jadi, tegas Dahnil, masalah bangsa itu yang penting bagaimana supaya pasar politik menjadi kompetitif, bukan oligopoli.

Pada kesempatan ini, Dahnil juga menilai, bahwa parpol itu tidak lebih sebagai perusahaan. Seperti Nasdem, sebut Duhnil, itu perusahaan yang kesekian untuk Surya Paloh. Begitu juga Gerinda untuk Prabowo dan Perindo bagi Hari Tanu.

“Partai ini jadi kaya perusahaan. Jadi, akhirnya saya katakan, nggak usah terlalu serius. Partai ini lucu-lucuan saja,” tukas Dahnil disambut gemuruh tawa dan tepuk tangan peserta diskusi.

Dahnil mengimbau, agar masyarakat mulai detik ini jangan terlalu idelogis melihat parpol-parpol. “Saya mau bilang mulai detik ini, masyarakat jangan terlalu idelogis dengan parpol. Karena nggak ada itu parpol yang mengusung ideologi secara serius,” tukasnya.

Bisa diperhatikan, sebut dia, sangat luar biasanya para elit politik berpidato persaingan menggunakan isu agama dan toleransi. Dua-duanya, menurut Dahnil, tidak ada yang otentik. “Satu jualan agama, satu jualan toleransi. Yang kasihan publik yang kemudian terpolarisasi,” katanya.

Dahnil pun menyarankan harus ada capres alternatif, tidak hanya dua. Menurutnya, munculnya capres alternatif lain tujuanya untuk meningkatkan kebahagian rakyat Indonesia. “Kalau cuma Jokowi dan Prabowo, itu menyakitkan. Ketika kita tidak punya pilihan itu paling menderita,” pungkas Dahnil.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.