Daisy Irani: Angkat Film Horor Milenial

Editor: Satmoko

Produser Daisy Irani. Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Menjadi seorang produser film memang penuh risiko. Untuk itu, produser harus bisa mengamati perkembangan dunia perfilman untuk memproduksi filmnya. Kemudian, strategi promosi yang harus gencar demi meraih penonton lebih besar.

Daisy Irani, salah seorang produser yang cukup jeli melihat ceruk pasar. Rumah Belanda film pertamanya yang join dengan Apolo mengusung genre horor karena ia mengamati dua tahun terakhir belakangan memang film horor banyak disukai masyarakat.

Penonton sekarang, bagi Daisy, semakin pintar, apalagi sekarang teknologi informasi yang sedemikian canggih, karena itu ia sangat hati-hati memproduseri film horor ini.

“Ini film pertama saya yang join dengan Apolo,“ kata produser Daisy Irani kepada Cendana News, seusai gala premiere film Rumah Belanda di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 4 Agustus 1974 itu menerangkan, ketertarikan memproduseri film bergenre horor ini. “Memang saya lihat dua tahun belakangan ini film horor sudah bangkit lagi. Masyarakat semakin berminat pada film horor, terbukti beberapa film horor meraih penonton jutaan lebih.”

Menurut Daisy, film Rumah Belanda yang diproduserinya adalah film horor yang milenial yang sudah tidak seperti zaman dulu lagi. “Film Rumah Belanda horor suspense.”

Bagi Daisy, ada perbedaan film horor zaman sekarang dengan film horor zaman dulu. Ia mencontohkan, film-film yang dibintangi Ratu Horor, Suzanna.

“Musik paling penting untuk film-film horor, yang hampir sama zaman dulu dengan sekarang. Tapi sekarang penggarapan musik tak hanya sekedar menakut-nakuti, melainkan memberikan atmosfir dan nuansa suasana yang mencekam serta menegangkan,“ ungkapnya.

Kemudian, zaman dulu ada adegan kepala-kepala yang terbang dan berdarah-darah. “Sekarang film horor berkembang, banyak terinspirasi film-film Jepang. Seperti di antaranya film Ringu (The Ring), Pulse, Sadako vs Kayako,“ ungkapnya lagi.

Daisy menegaskan, film Rumah Belanda adalah film horor zaman now. “Teknik pengambilan gambar, suspensenya, karakter dan cerita, dikonsepkan modern. Tak hanya mengandalkan artis cantik seksi, tapi juga karakter dan aktingnya kuat,“ paparnya.

“Mudah-mudahan penontonnya banyak seperti film-film horor dalam dua tahun terakhir ini. Dari segi pengambilan gambar, suara dan ceritanya bagus, jadi saya optimis,“ harapnya.

Ke depan Daisy akan memproduksi film lagi. “Judulnya masih rahasia, yang pasti kita akan tetap produksi,“ tegasnya.

Perempuan lulusan Sarjana Hukum Kenotariatan ini tampak tidak menggunakan ijazah dalam bekerja, karena kerjanya sebagai produser benar-benar di luar disiplin ilmu yang pernah dipelajari.

“Saya tidak bekerja sesuai ijazah saya. Lebih enjoy dalam film sih,“ tandasnya.

Komentar