Decoupage, Kerajinan Tempel Tisu, Naik Daun di Malang

MALANG –  Kerajinan decoupage merupakan salah satu kerajinan yang saat ini tengah naik daun dan diminati banyak orang terutama kaum hawa. Tidak terkecuali Retno Deni yang sudah menekuni kerajinan tersebut beberapa tahun yang lalu.

Retno sendiri mengaku, mulai tertarik dengan kerajinan decoupage setelah ia mengikuti beberapa kali pelatihan decoupage. Semenjak itu ia memutuskan untuk menekuni kerajinan decoupage hingga sekarang di rumahnya yang berada di jalan Tanimbar, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Retno menjelaskan, kerajinan decoupage adalah seni menggunting dan menempel tisu ke sebuah media. Namun tisu yang digunakan merupakan tisu khusus decoupage yang diimpor dari luar negeri.

Menurutnya untuk membuat kerajinan decoupage sebenarnya cukup mudah tapi memerlukan ketelatenan, ketelitian dan jiwa seni yang tinggi. Langkah pertama yang harus dilakukan yakni menyiapkan tisu dengan berbagai motif gambar yang diinginkan untuk kemudian digunting sesuai yang dibutuhkan.

Setelah tisu digunting, tisu kemudian bisa diaplikasikan ke berbagai jenis media dan ditata sedemikian rupa sesuai dengan jiwa seni dari masing-masing individu.

“Jadi tisu decoupage bisa diaplikasikan ke media apapun seperti media anyaman pandan, rotan, kayu, kaca maupun ke media kain. Tapi masing-masing media memiliki lem khusus untuk merekatkaan,” jelasnya.

Terakhir, setelah tisu ditempel ke media, hasilnya kemudian diberi vernis agar tahan terhadap air.

“Hasil akhirnya kita beri pernis. Jadi kalau hanya terkena hujan, kena air sekejap ya tidak apa-apa, kecuali kalau sengaja direndam dalam air baru bisa rusak,” terangnya.

Lebih lanjut Retno menyampaikan, sebenarnya setiap orang bisa mengerjakan decoupage, bahkan ia juga punya banyak teman yang sama-sama menekuni kerajinan decoupage. Akan tetapi Retno yakin, setiap orang punya hasil yang berbeda-beda sesuai dengan kepekaan seni mereka, begitu pula dengan dirinya.

“Bolehlah orang berjualan dengan banyak produk, tapi saya juga punya ciri khas sendiri dari hasil decoupage saya, sehingga saya tetap optimis dan tidak pesimis,” akunya.

Disebutkan, kerajinan decoupage karya Retno sendiri selama ini kebanyakan ia aplikasikan ke media dompet dan tas wanita yang terbuat dari anyaman pandan maupun rotan.

“Kalau bahan anyamannya dari rotan memang jauh lebih mahal tapi hasilnya memang lebih bagus daripada anyaman pandan, karena anyaman rotan lebih kuat dan lebih tahan lama. Harganya juga bisa tiga kali lipat lebih mahal daripada pandan sehingga saat ini saya lebih fokus ke bahan dasar rotan,” sebutnya.

Sementara itu, untuk pemasarannya sendiri saat ini Retno masih mengandalkan penjualan secara online dan mengikuti pameran.

“Kalau pesanan hanya sedikit saya kerjakan sendiri, tapi kalau pesanannya dalam jumlah yang besar seperti untuk suvenir, baru saya ajak ibu-ibu lainnya untuk membantu,” pungkasnya.

Produk tas decoupage Retno Deni. Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...