Djohan Effendi, Tokoh Pelintas Batas

42

JAKARTA – Tahun ini, untuk pertama kalinya diadakan Djohan Effendi Memorial Lecture yang disampaikan oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia. Seorang aktivis perempuan, peneliti, konselor, dan penulis di bidang keagamaan khususnya Islam di Indonesia. Dalam penyajiannya, Musdah dengan tegas menyatakan bahwa Djohan Effendi pantas jadi Tokoh Pelintas Batas.

“Djohan Effendi adalah nama yang tidak asing di kalangan pemerhati dialog agama, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga mancanegara. Kegigihan dan ketekunannya merajut perdamaian melalui dialog di antara berbagai penganut agama dan penganut kepercayaan membuatnya pantas disebut sebagai Tokoh Pelintas Batas,“ ungkapnya di Auditorium Widya Graha LIPI, Jalan Gatot Subroto No. 10 Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2018).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958 itu, menerangkan, “Djohan Effendi membidani lahirnya lembaga dialog antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei) Yogyakarta, yang sekarang diketuai A. Elga Joan Sarapung.”

Menurut Musdah Mulia, kecendekiaan Djohan Effendi diakui banyak pihak, salah satunya oleh Greg Parker dari Monash University. Dalam disertasinya, dia mensejajarkan Djohan Effendi dengan Nurcholish Madjid, Abdurahman Wahid atau Gus Dur, dan Ahmad Wahib, sebagai sesama pemikir neomodernis Islam.

“Menurut saya persamaan dari keempat tokoh tersebut adalah mereka sama-sama mengusung Islam nonideologis. Artinya, Islam tidak perlu dijadikan ideologi politik, “ ungkapnya.

Musdah Mulia menyampaikan, bahwa pemikiran Djohan lebih banyak terfokus pada isu kemanusiaan dan kebangsaan. Bahkan menurut Djohan, tujuan agama semata memanusiakan manusia.

“Djohan membela orang yang tertindas. Beliau menentang segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Dalam bentuk imperialisme, kapitalisme, feodalisme dan hedonisme. Hal ini tampak dalam tulisan-tulisannya yang sangat diwarnai oleh semangat sosialistik,“ bebernya.

Sebagai PNS, Djohan tergolong sangat berani mengemukakan pendapat yang berbeda dengan mainstream umat Islam. Bahkan menentang arus.

“Keberanian beliau menginspirasi banyak orang, termasuk saya sendiri,“ akunya.

Djohan adalah sosok yang sangat rendah hati. Tidak banyak bicara, lebih suka mendengar. “Dia bukanlah tokoh selebriti yang senang di depan, melainkan lebih suka di belakang layar, “ tegasnya.

Di sisi lain beliau sangat terbuka dan sangat perhatian serta mudah akrab dengan siapa pun, khususnya kalangan bawah.

“Dia memang lebih banyak diam dan membiarkan lawan bicara berdebat serta bicara sendiri,” tandasnya.

Suasana Djohan Effendi Memorial Lecture. Foto: Akhmad Sekhu
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.