DTPHP Malang Rencanakan Pembangunan Embung

177

MALANG – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, merancang pembangunan embung di setiap desa sebagai upaya penyediaan air, guna meningkatkan produktivitas pertanian.

“Kami terus berpacu meningkatkan produksi beras. Peningkatan produktivitas pertanian ini harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan petani, khususnya ketersediaan air irigasi,” kata Kepala DTPHP Kabupaten Malang, M. Nasri Abdul Wahid, di Malang, Jawa Timur, Senin (29/1/2018).

Salah satu upaya untuk memenuhi ketersediaan air bagi petani, katanya, pihaknya bakal mengoptimalkannya dengan membuat tempat penampungan air (embung) di setiap desa, agar seluruh wilayah pertanian padi bisa teraliri air irigasi dengan baik.

Pembuatan embung di setiap desa untuk memenuhi kebutuhan air bagi petani tersebut, lanjutnya, DTPHP sudah menggandeng instansi terkait. “Kami sudah koordinasi dengan dinas terkait masalah pembangunan embung di setiap desa ini secara bertahap. Embung ini nanti akan menyimpan air agar di musim kemarau tidak mengalami kekeringan,” ujar Nasri.

Setidaknya, lanjut Nasri, setiap satu desa minimal ada satu embung yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah ketika musim kemarau, sehingga petani masih bisa menanam padi saat musim kemarau dan stabilisasi produksi padi dan surplus beras tetap terjaga.

Apalagi, Kabupaten Malang selama Januari hingga April mendatang ada panen raya dengan luas tanam pada Januari 2.600 hektare, Februari 5.200 hektare, Maret sekitar 11 ribu hektare, dan April juga 11 ribu hektare. “Harapan kami produksi padi di daerah ini terus meningkat dan harga gabah petani juga naik,” ujarnya.

Setiap tahun, Kabupaten Malang surplus beras antara 70 ribu ton hingga 85 ribu ton per tahun. Pada 2016, Kabupaten Malang surplus beras 75 ribu ton dan 2017 sekitar 85 ribu ton. Sementara produksi padi rata-rata per hektare mencapai 7 hingga 8 ton gabah kering.

Menyinggung adanya serangan hama tanaman yang menyebabkan gagal panen, Nasri mengaku ada, namun hanya sedikit dan tidak berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Artinya, hasil panen petani tidak sampai mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah, tidak sampai menurun. Kami juga terus melakukan pengecekan terkait keluhan petani. Kalau ada laporan serangan hama kami akan menggunakan sistem jarak tanam padi, yakni jajar legowo (Jarwo) Super. Mudah-mudahan dengan sistem ini bisa mengatasi serangan hama padi,” ucapnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...