Dukung Pariwisata, Pemkab Kulon Progo Kembangkan Kampung Kakao Kalibawang

KULON PROGO — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan kampung kakao di Desa Banjarharjo dan Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, dalam rangka mendukung pengembangan potensi wisata di Kawasan Bukit Menoreh.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Widi Astuti di Kulon Progo, Minggu, mengatakan saat ini, pihaknya mendampingi petani kakao dan kelompok tani kakao dari hulu sampai hilir.

“Kebijakan pemerintah pusat mengembangkan Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN) Borobudur, kami mulai mengubah dan melakukan inovasi bidang perkebunan, khususnya kakao supaya mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan pertani kakao,” kata Widi Astuti.

Ia mengatakan produksi kakao berkisar 1.043,86 ton pertahun dengan luas tanam 2.345,7 hektare.

Pusat kakao yakni Kokap seluas 800,02 hektare, Kalibawang 754,45 hektare, dan Girimulyo seluas 471,95 hektare.

“Program pascapanen kami laksanakan pelatihan dan bimbingan teknis terkait pengolahan kakao yang memiliki kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI),” kata katanya.

Dia mengatakan kualitas kakao di Kulon Progo mayoritas masuk dalam golongan C dan B. Golongan B dengan 101 hingga 110 biji per 100 gram, dan golongan C antara 111 hingga 120 biji per 100 gram.

“Masyarakat Kulon Progo mayoritas menanam kakao jenis Lindak. Saat ini, Kulon Progo akan mengembangkan Teknologi Somatic Embriogenesis (SE) Kakao yang merupakan produk unggulan nasional,” katanya.

Produksi kakao Kulon Progo, kata dia, masih sebatas sebagai bahan baku industri, sehingga harga di tingkat petani masih rendah.

“Untuk menaikkan nilai jual produk kakao, kami mengimbau petani melakukan vermentasi kakao pascapanen. Saat ini, petani menjual kakao kering dengan harga murah,” katanya.

Untuk itu, kata Widi, pihaknya memberikan alat pengolahan kakao menjadi cokelat kepasa KWT Pawon Gendis. Bantuan tersebut diharapkan mengolah kakao hasil panen petani, dan diharapkan menambah nilai jual.

“Kami berharap bantuan alat pengolahan kakao mengangkat kakao di Kulon Progo,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Bambang Tri Budi mengatakan kakao merupakan produk unggul di Kulon Progo. Pemkab memberikan bantuan kepada petani baik berupa bibit dan pengembangan kawasan kakao seluas 50 hektare di Desa Banjaroya, yakni Pantok Wetan, Pantok Kulon, Slanden, dan Beneran.

“Kami berharap kakao Kulon Progo mampu menunjang sektor pariwasata,” katanya.[Ant]

Komentar