banner lebaran

Dusun Jolosutro, Padukan Kegiatan Keagamaan dan Budaya Tradisi Leluhur

118

YOGYAKARTA — Dusun Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, selama ini dikenal sebagai daerah yang kental dengan nuansa budaya dan agama. Setiap tahun, masyarakat di dusun Jolosutro rutin menggelar kegiatan Kupatan Jolosutro, yang dipusatkan di masjid Sunan Geseng, sebagai bentuk rasa sukur sekaligus melestarikan adat budaya setempat.

Salah seorang tokoh dusun Jolosutro, Rodiyanti mengatakan, acara Kupatan Jolosutro merupakan tradisi turun temurun untuk mengenang tokoh sesepuh dusun yakni Cakrajaya atau Sunan Geseng sejak masa abad 16.

Diceritakan pada masa pemerintahan raja Mataram Islam ke 2 yakni Pangeran Sedo Krapyak atau Mas Jalang, salah seorang permaisurinya mengandung dan mengidamkan ikan yang bersisik emas atau dikenal dengan nama wader neng sisik kencana. Karena sulitnya mencari ikan tersebut lalu diadakan sebuah sayembara.

Ada seorang yang menyanggupi mengikuti sayembara tersebut yaitu Cakrajaya atau Sunan Geseng yang tinggal di sebuah tempat yang kini disebut dusun Jolosutro. Cakrajaya mengajukan syarat agar disediakan benang sutra untuk digunakan sebagai jala. Karena ikan tersebut hanya bisa ditangkap dengan jala yang terbuat dari benang sutra.

Akhirnya sayembara itu dimenangkan dan tempat untuk membuat jala itu kemudian diberi nama Jalasutra.

Sebagai tanda terima kasih atas jasa Cakrajaya, beliau diangkat menjadi sesepuh kerajaan dan diminta tinggal di kerajaan. Akan tetapi Cakrajaya menolak dan tetap memilih tinggal di dusunnya. Di dusunnya, Cakrajaya semakin berpengaruh hingga banyak orang datang menemuinya untuk meminta pertimbangan berbagai hal.

Ketua Posdaya Cakrajaya
di dusun Jolosutro, Rodiyanti
/Foto: Jatmika H Kusmargana

Setiap ada kegiatan Upacara Rasulan di dusun itu, selalu ada banyak tamu dari berbagai daerah berdatangan ke dusun Jolosutro. Sehingga untuk menyambut para tamu, warga membuat hidangan berupa ketupat. Ketupat yang dihidangkan berbeda dari ketupat pada umumnya. Selain berukuran lebih besar, kupat juga dibungkus dengan daun gebang.

“Sampai saat ini hal tersebut masih berlangsung. Setiap bulan Sapar, kegiatan Kupatan Jolosutro digelar. Masyarakat dusun beramai-ramai membuat ketupat untuk dijual pada para warga yang datang menyaksikan acara kupatan,” katanya.

Untuk dapat terus melestarikan tradisi budaya yang diwariskan sesepuh dusun yakni Sunan Geseng yang dikenal sebagai wali itu, masyarakat pun rutin melakukan berbagai kegiatan. Melalui posdaya Cakrajaya berbasis masjid, warga menghidupkan masjid Sunan Geseng serta 6 buah mushola yang ada di dusun Jolosutro. Yakni dengan masjid Sunan Geseng sebagai pusatnya.

“Ada berbagai kegiatan keagamaan yang kita gelar secara rutin. Mulai dari pengajian rutin mingguan dan lapanan, tadarus untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, pengajian remaja Masjid dan Mushola, Tadarus Anak anak dan Remaja, hingga TPA untuk anak-anak maupun lansia,” kata Rodiyanti, yang merupakan Ketua Posdaya Cakrajaya, di dusun Jolosutro.

Selain sejumlah kegiatan keagamaan tersebut, Posdaya Cakrajaya juga memiliki kelompok kegiatan seni dan budaya di antaranya, pasukan Bregodo Upacara Adat “KUPATAN’ Jolosutro yang terdiri dari bapak-bapak, kelompok Sholawat Nabi dan Tari Saman ‘DZIKIR MAULUD” yang terdiri dari remaja maupun bapak-bapak dan ibu-ibu, hingga kelompok Qasidah “CAKRA NADA” yang dianggotai ibu-ibu rumah tangga dusun.

“Dengan adanya posdaya Cakrajaya, berbagai kegiatan yang ada didusun bisa disinergikan dengan lebih baik. Sehingga rasa kebersamaan, kerjasama, dan gotong royong seluruh warga semakin erat. Dengan semua kegiatan dipusatkan di Masjid, ternyata keimanan dan ketaqwaab warga masyarakat juga semakin terpupuk,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.