Gelombang Laut dan Angin Kencang Landa Sikka, 115 Jiwa Mengungsi

172

MAUMERE — Gelombang dan angin kencang yang melanda Kabupaten Sikka sejak Jumat (26/1/2018) hingga Minggu (28/1/2018) menyebabkan sebuah rumah di RT 15 RW 03 Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka mengalami rusak berat.

“Dampak dari abrasi menyebabkan 4 rumah yang terancam terkena abrasi dan rusak sementara sebuah rumah terancam rubuh dan tidak bisa dihuni,  sehingga tadi malam kami mengungsikan warga,” ujar Mas Arif, Sekertaris desa Watumilok Senin (29/1/2018).

Dikatakan Arif, sudah dua hari terjadi angin kencang dan gelombang tinggi sehingga pihaknya setiap hari, terlebih pada malam hari selalu memantau situasi laut agar sewaktu-waktu bila terjadi bencana maka bisa langsung mengevakuasi warga.

“Ada yang sudah kita evakuasi dan ada yang masih bertahan sebab menganggap sudah terbiasa. Tapi kami selalu memantau dan menghimbau warga untuk segera mengungsi bila cuaca tidak bersahabat,” sebutnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Emmy Lusia Laka,SH saat ditanyai Cendana News menjelaskan, akibat ancaman abrasi, warga yang dibantu mengungsi sebanyak 115 jiwa yang tergabung dalam 22 kepala keluarga. Dari 115 jiwa itu terdapat 57 laki-laki dan 58 perempuan, sebagian darinya adalah anak-anak.

Sementara data kerusakan, terang Emmy, terdapat 4 rumah rusak berat dan 18 rumah rusak ringan. Di Dusun Waipare B, terdapat 3 rumah rusak berat dan 5 rusak ringan. Sementara d Dusun Waipare A, terdapat 1 rumah rusak berat dan 13 rusak ringan.

“Selain mengamankan warga dari ancaman bencana, pada Sabtu (27/1/2018) malam, kami langsung mendirikan tenda-tenda untuk warga di tempat tersebut sebagai tempat menginap sementara waktu, agar terlebih saat malam hari warga bisa tidur di posko tersebut,” tuturnya.

Julu, salah seorang warga yang rumahnya terancam abrasi menyebutkan, sebagai nelayan yang biasa bermukim di pesisir pantai dan sudah lama menetap di Waipare pihaknya sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem seperti ini.

Tetapi setiap tahun lanjut Julu, ombak semakin besar akibat angin kencang sehingga air laut menggerus pondasi rumah warga. Saat pasang air laut bisa naik hingga 5 meter ke darat dan menggenangi rumah panggung yang semuanya dihuni para nelayan.

“Kalau Februari biasanya angin lebih kencang lagi dan sudah seminggu air menggenangi rumah kami. Kalau malam hari saat air pasang kami mengungsi ke rumah saudara di sebelah selatan dekat jalan negara,” tuturnya.

Disaksikan Cendana News, selain menggerus pondasi rumah warga, air laut jiuga masuk hingga dekat jalan desa sejauh sekitar 10 meter dari bibir pantai. Mayoritas rumah masyarakat nelayan tersebut merupakan rumah panggung dengan tiang katu dan dinding dari bambu belah (Halar).

Meski tergenang air, beberapa warga terlihat masuk ke luar rumah dan ada yang beristirahat di dalam rumah saat siang hari. Warga mengaku setiap tahun selalu mengalami hal seperti ini. Dulunya terdapat sekitar 10 rumah di pesisir pantai namun sudah terkikis abrasi dan rubuh.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka Emmy Lusia Laka,SH-Foto: Ebed de Rosary.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.