Gelombang Tinggi, Nelayan Sikka Berhenti Melaut

186

MAUMERE –– Tingginya gelombang laut yang disebabkan oleh angin kencang sejak Jumat (26/1/2018) menyebabkan nelayan di Kabupaten Sikka yang memiliki perahu tradisional dengan ukuran 1 sampai 5 Gross Ton (GT) libur melaut. Mereka menanti angin kencang redah dan ketinggian gelombang pun kembali normal.

“Situasi begini kami tidak bisa melaut, paling tunggu cuaca redah dulu sekitar Maret baru kembali mencari ikan lagi. Kalau kami paksa melaut sama saja bunuh diri,” ujar Julu Senin (29/1/2018).

Saat ditemui Cendana News di rumahnya, warga RT 15 RW 03 Desa Watumilok, Kecamatan Kangae ini menjelaskan, tinggi gelombang bisa mencapai 2 sampai 3 meter. Angin kencang juga bisa membuat perahu semakin terseret gelombang dan bisa tenggelam.

“Cuaca seperti ini sudah biasa setiap tahu sehingga saat musim gelombang tinggi seperti ini kami pergunakan waktu untuk memperbaiki perahu speerti mengecat dan juga memperbaiki pukat yang rusak,” sebutnya.

Tur Sakiur warga nelayan asal Waipare lainnya, sebelum adanya jembatan tambatan perahu Waipare di dekat perkampungan mereka, para nelayan menarik perahu motor mereka ke darat agar tidak rusak dihantam gelombang.

Setelah adanya jembatan tambatan perahu kata Tur, para nelayan memilih mengikat perahu mereka di sebelah timur jembatan sebab ombak menghempas dari arah barat bersamaan dengan angin kencang. Ada juga yang mengikatnya di dekat pohon bakau atau di pohon kelapa yang berada di dekat pantai.

“Tapi kami juga setiap saat baik siang maupun malam harus selalu memantau perahu kami sebab terkadang ombak semakin besar sehingga kadang tali yang mengikatnya bisa putus,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, puluhan perahu nelayan berbahan kayu berukuran 1 sampai 3 Gross Ton terikat di sisi timur jembatan dengan jarak yang sedikit berjauhan agar saat dihempas ombak tidak berbenturan. Banyak yang mengikat perahu mereka di pepohonan bakau di samping jembatan.

Beberapa nelayan terlihat menarik perahu mereka ke darat dan memperbaikinya dengan mengecat atau menambal bagian sambungan perahu. Ada juga yang terlihat sedang membersihkan mesin perahu mereka.

Julu (kiri) dan Tur Satiur nelayan asal Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae yang terpaksa libur melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi-Foto: Ebed de Rosary.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.