banner lebaran

Gerhana Bulan Super Blue Blood Moon, 100 Tahun Sekali

245

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru saja selesai menggelar acara jumpa pers terkait fenomena “Gerhana Bulan Langka atau Super Blue Blood Moon” dan juga dampaknya terhadap sejumlah wilayah di Indonesia.

Jumpa pers tersebut digelar di Ruang Media Center, Kantor Pusat BMKG, Jalan Angkasa 1 No 2, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kepala Pusat BMKG Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D., menjelaskan bahwa Gerhana Bulan merupakan sebuah peristiwa ketika terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga cahaya tersebut tidak sampai ke bulan. Peristiwa tersebut merupakan salah satu akibat dinamismya pergerakan posisi matahari, bumi dan bulan.

Menurut Dwikorita Karnawati, fenomena tersebut biasanya hanya terjadi pada saat memasuki fase purnama. Namun meskipun demikian fenomena tersebut sudah dapat diprediksi sebelumnya. Sedangkan pengertian Gerhana Matahari adalah peristiwa terhalangnya cahaya matahari oleh bulan, sehingga cahaya tidak semuanya sampai ke bumi. Biasanya fenomena ini selalu terjadi pada saat fase bulan baru.

BMKG memprediksi bahwa sepanjang tahun 2018 akan terjadi 5 kali gerhana, masing-masing sebagai berikut:

1. Gerhana Bulan Total (GBT) tanggal 31 Januari 2018 atau Super Blue Blood Moon yang dapat diamati dari Indonesia.

2. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) tanggal 15 Februari 2018, namun tidak dapat diamati dari Indonesia.

3. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) tanggal 13 Juli 2018, namun tidak dapat diamati dari Indonesia.

4. Gerhana Bulan Total (GBT) tanggal 28 Juli 2018 yang dapat diamati dari Indonesia.

5. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) tanggal 11 Agustus 2018, namun tidak dapat diamati dari Indonesia.

Dwikorita Karnawati mengatakan, tanggal 31 Januari mendatang, BMKG memprediksi akan terjadi fenomena Gerhana Bulan Total yang langka atau biasa disebut dengan Super Blue Blood Moon. “Gerhana tersebut sebenarnya merupakan gerhana biasa namun gerhana tersebut sangat jarang terjadi atau hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Gerhana tersebut dapat diamati atau dilihat dari seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya, saat jumpa pers di Kantor Pusat BMKG Jakarta, Senin (29/1/2018).

Dwikorita Karnawati juga menjelaskan bahwa salah satu Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) BMKG sebagai institusi Pemerintah yang bertugas memberikan informasi dan juga pelayanan tanda waktu, termasuk di antaranya terkait informasi seputar Gerhana Bulan Total atau Super Blue Blood Moon yang terjadi pada tanggal 31 Januari 2018 mendatang.

Secara keseluruhan proses terjadinya Gerhana Bulan Total dapat dilihat atau diamati mulai dari Samudra Pasifik hingga bagian timur Asia, Indonesia, Australia dan bagian barat laut Amerika. Selain itu juga dapat dilihat mulai dari bagian barat Asia, Samudra Hindia hingga bagian Timur Afrika, bagian Timur Eropa terutama pada saat bulan terbit.

Sedangkan pada saat bulan terbenam dapat diamati atau dilihat di wilayah bagian Utara Amerika dan bagian timur Samudra Pasifik. Sedangkan wilayah bagian barat Eropa, sebagian besar Benua Afrika. Untuk wilayah Samudra Atlantik serta bagian selatan Amerika tidak akan dapat dapat mengamati proses terjadinya gerhana tersebut secara keseluruhan atau menyeluruh.

“Kalau tidak ada perubahan, BMKG rencananya akan melakukan kegiatan pengamatan atau pemantauan terkait terjadinya fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) yang termasuk langka atau Super Blue Blood Moon tersebut pada tanggal 31 Januari 2017 di kawasan Ancol, Jakarta Utara,” pungkas Dwikorita Karnawati.

Grafik Tahapan Gerhana Bulan Total (GBT) Super Blue Blood Moon 2018. Foto: Eko Sulestyono
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.