banner lebaran

Gizi Buruk, Menkes Akui Infrastruktur di Asmat, Minim

106

JAKARTA – Menteri Kesehatan Nila Djoewita Moeloek memastikan, penanggulangan kasus campak dan gizi buruk berjalan sesuai kebutuhan dan bersifat kolaboratif bersama kementerian serta lembaga terkait lainnya. Salah satu masalah atau kendala utama di Papua, khususnya Kabupaten Asmat infrastruktur yang sangat memprihatinkan.

“Kami kerja sama dengan TNI, polisi, Kementerian Sosial secara terpadu. Kami membuat program 10 hari pertama ini sudah, 10 hari dilakukan beberapa kegiatan sampai tiga kali hingga satu bulan,” kata Menkes dalam diskusi di Forum Merdeka Barat, Jakarta, Senin (29/1/2018).

Menkes mengaku sudah meninjau langsung ke lapangan terkait kondisi pasien anak-anak di Kabupaten Asmat tanggal 25 Januari. Ia berkunjung ke RSUD Agats dalam rangka penguatan manajemen rumah sakit didampingi beberapa pejabat eselon I Kemenkes.

“Saya sudah menyampaikan sistem kewaspadaan dini dan respon yang harus diambil oleh tim di daerah. Dan menyampaikan berbagai sarana yang disiapkan oleh pusat sebagai bentuk kolaborasi penanganan permasalahan kesehatan,” sebutnya.

Nila menambahkan, tim kesehatan terpadu memastikan sudah memeriksa 12.398 anak sejak bulan September 2017 hingga 25 Januari 2018 kemarin. Anak-anak mendapatkan pelayanan kesehatan optimal, dan dikonfirmasi bahwa terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk.

“Selain itu juga ditemukan juga 25 anak suspek campak serta 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk. Mereka ditangani di RSUD Agats dan tim gabungan Dinkes Provinsi Papua serta Kabupaten Asmat,” jelasnya.

Berdasarkan data dari posko Induk Penanggulangan KLB Asmat di Agats disebutkan, 37 anak meninggal di Distrik Pulau Tiga, 15 anak di Distrik Fayit, 8 anak di Distrik Aswi, 4 anak di Distrik Akat dan 6 lainnya meninggal di RSUD Agats.

“Wabah campak dan gizi buruk dari September 2017 hingga 24 Januari 2018 mengakibatkan 65 korban meninggal akibat gizi buruk, 4 anak lainnya karena campak dan 1 orang karena tetanus,” ujarnya.

Untuk tenaga kesehatan sendiri, Menkes mengatakan, 16 Januari 2018 telah mengirimkan 39 tenaga kesehatan yang terdiri dari 11 orang dokter spesialis, 4 orang dokter umum, 3 perawat, 2 penata anestesi dan 19 tenaga kesehatan yang terdiri dari ahli gizi, kesehatan lingkungan dan surveilans.

“Kita juga sudah menerjunkan tim Flying Health Care gelombang kedua yang bakal bertugas selama 10 hari. Tercatat ada 36 tenaga kesehatan, selanjutnya tenaga dipersiapkan 9 gelombang FHC yang akan berlangsung sekitar 3 bulan. Dan tim ini akan terus untuk menjaga stamina tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Suasana pertemuan Forum Merdeka Barat, Memajukan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Papua, di Kemenkominfo dengan narasumber Kemenkes Nila Moeloek, Kemensos Idrus Marham, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Diah Indrajati. Foto: M Hajoran Pulungan

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.