banner lebaran

Hujan dan Tonase Berlebih Penyebab Kerusakan Jalinsum

135

LAMPUNG — Proses perbaikan dengan sistem penambalan terus dilakukan oleh petugas Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Wilayah II Provinsi Lampung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Suharjo,mendampingi Kasmir selaku penanggungjawab proyek perbaikan jalan lintas Sumatera di wilayah Kabupaten Lampung Selatan menyebut salah satu faktor kerusakan jalan disebabkan oleh kondisi cuaca hujan dan kendaraan dengan tonase berlebih yang melintas.

Saat musim penghujan di beberapa titik jalan di sepanjang ruas Jalan Lintas Sumatera mulai dari Bakauheni hingga 80 kilometer, menuju perbatasan Kota Panjang Bandarlampung bergelombang, akibat kontur dasar jalan yang labil saat tiba musim hujan.

Kendaraan berat pengangkut material berat berupa batu untuk pembangunan proyek Jalan Tol Trans Sumatera menjadi penyumbang kerusakan jalan.

“Perbaikan terus kita lakukan dengan adanya laporan dari masyarakat serta pengecekan langsung, terutama pada sejumlah jembatan yang kerap bergelombang pada bagian aspal sehingga harus diratakan dan ditambal,” ujar Suharjo saat ditemui Cendana News, Senin (29/1/2018)

Pada beberapa titik jembatan langkah penguatan bahu jalan dan badan jalan dilakukan dengan proses pembuatan rabat beton, agar proses pemuaian akibat tekanan kendaraan tidak merusak aspal yang berada tepat di atas jembatan.

Meski demikian Suharjo tidak menampik dengan kualitas sebagai jalan nasional yang memiliki standar ketebalan tertentu, kerap saja di beberapa ruas terutama jembatan berpotensi bergelombang.

Sebagai langkah perbaikan petugas disebutnya telah melakukan proses pengecekan ketebalan jalan dan mempergunakan mesin core drill pada bagian yang bergelombang sehingga bisa dilakukan proses penambalan ulang.

Proses penambalan disebutnya sudah disediakan dengan aspal hotmix yang dipersiapkan dengan sebuah kendaraan truk besar sehingga aspal bisa diaplikasikan secara cepat.

“Komposisi aspal serta material batu halus sudah disiapkan dan saat diratakan menggunakan alat khusus selanjutnya bisa dilalui kendaraan yang melintas tanpa mengganggu arus kendaraan,” tutur Suharjo.

Kepada masyarakat ia juga berpesan untuk segera melaporkan kepada pihak P2JN jika mendapati kerusakan pada sejumlah ruas agar perbaikan bisa segera dilakukan.

Pasca pengoperasian Jalan Tol Trans Sumatera segmen Pelabuhan Bakauheni Simpang Susun Bakauheni Suharjo menyebut tingkat kerusakan jalan di wilayah tersebut semakin berkurang. Selain karena masih digratiskan sebagian kendaraan ekspedisi bertonase melebihi kapasitas banyak memilih melalui JTTS.

Setelah akses JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar tersambung seluruhnya ia menyebut akan ada pengurangan tingkat kerusakan akibat kendaraan kendaraan melintas melalui Jalan Lintas Sumatera beralih mempergunakan jalan bebas hambatan.

Perbaikan jalan lintas Sumatera yang terakhir dilakukan pada akhir Desember 2017 tersebut kerap terjadi di beberapa bagian jalan dan segera diperbaiki pada bagian yang bergelombang dan berlubang.

Hasan, salah satu warga Desa Banjarmasin menyebut perbaikan jalan secara tambal sulam diakuinya masih belum efektif karena kerusakan masih berpotensi terjadi.

Selain penggunaan material aspal dengan kualitas yang buruk terlihat di beberapa titik penambalan, mulai mengelupas dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan.

“Sebaiknya pada beberapa ruas memang harus dibuat mempergunakan rigid beton agar kuat dan tidak tambal sulam,” beber Hasan.

Kerusakan akibat hujan dengan genangan air di tengah jalan di beberapa titik merupakan dampak kendaraan bertonase berlebih dan kurang lancaran sejumlah saluran drainase yang berimbas aliran air selokan naik ke jalan raya. Kondisi tersebut diakuinya terjadi di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan dan Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni.

Kendaraan dari arah Bakauheni menuju Bandarlampung dan sebaliknya langsung bisa melintas pada aspal hotmix -Foto: Henk Widi,
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.