banner lebaran

Intelijen di Era Digital: Tantangan Membangun Ketahanan Nasional

365

JAKARTA – Ancaman yang dihadapi intelijen di saat ini maupun yang akan datang cukup berat. Pasalnya, perang siber telah merambah ke seluruh penjuru masyarakat dan menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi intelijen Indonesia dalam menjalankan tugas. Terutama dalam menghadapi perang siber yang memerlukan dukungan kecanggihan teknologi digital.

Ngasiman Djoyonegoro, penulis buku Intelijen di Era Digital menyampaikan bahwa di era digital ini, berbagai bentuk kejahatan terus berdatangan dengan adanya dukungan teknologi yang sangat canggih.

Peperangan yang dulu selalu identik dengan senjata, peluru, pembunuhan, pengeboman dan sebagainya, kini telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi digital. Penyebaran informasi hoax bernada SARA, peretasan website merupakan contoh perang siber.

Tujuan penulisan buku tersebut di antaranya sebagai sumbangsih pengetahuan dalam rangka menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan teknologi digital dengan bermunculan berbagai ancaman dalam bentuk dunia baru seperti cyber war, cyber terrorism, cyber espionage, dan masih banyak lagi. Memberikan gambaran kepada intelijen Indonesia perihal prospek dan tantangan dalam membangun ketahanan nasional di era digital.

“Intelijen Indonesia diharapkan mampu adaptif terhadap berbagai dinamika dan perkembangan di era digital. Jika dulu gerakan penyusupan agen intelijen terhadap suatu negara melalui jalur darat, di abad informasi sekarang penyusupan intelijen melalui dunia siber, itu yang harus menjadi perhatian intelijen negara kita,” jelasnya, Rabu (10/1/2018), setelah bedah buku selesai.

Komjen Pol Drs. Lutfi Lubihanto, M.M, Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri, memberikan pandangan perihal buku Intelijen di Era Digital karya Ngasiman Djoyonegoro. Menurut dia, buku tersebut sangat membantu dan sangat komprehensif sebagai referensi bagi masyarakat luas khususnya untuk penegak hukum dan praktisi intelijen keamanan.

Dirinya juga menjelaskan bahwa Polri telah melakukan pengembangan SDM di bidang siber dengan memberikan pelatihan, peralatan, serta memberikan mekanisme gambaran dunia siber. Dari perspektif Polri yang termaktub dalam UU nomor 02 tahun 2002 bahwa Polri menjamin dinamika kehidupan sosial yang dinamis.

Tugas inilah yang dirasakan oleh pihak Kepolisian tidak mudah di era sekarang. Banyak ruang di dunia maya yang harus diwaspadai dan kenyataannya hal yang dihadapi tidak hanya di dunia nyata dalam aspek kehidupan masyarakat. Tetapi juga di dunia maya yang justru dapat dikatakan lebih berbahaya.

“Aspek-aspek pertahanan dan keamanan serta persoalan-persoalan yang akan dihadapi tergambar jelas dalam buku ini. Informasi yang terdapat di dunia maya inilah yang pada akhirnya dapat memecah belah persatuan dan kesatuan negara. Tugas Polri di bidang siber untuk memberantas kejahatan di dunia maya tersebut,” jelasnya, Rabu (10/1/2018).

Dr Wawan H Purwanto, pengamat intelijen. Foto: Muhammad Fahrizal

Dr. Wawan H Purwanto, pengamat intelijen, menyampaikan bahwa di zaman era digital, memiliki kelebihan maupun kekurangan dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Bagi intelijen Indonesia yang masih memiliki banyak kekurangan, khususnya di bidang teknologi komunikasi, harus bergegas gerak cepat dalam mengintensifkan pengembangan SDM intelijen baik kecerdasannya maupun nasionalismenya.

Ancaman dan tantangan dua tahun ke depan sebagai tahun politik menjadi tantangan intelijen Indonesia untuk mencegah, meredam segala bentuk ancaman yang dapat memecah belah kesatuan NKRI. Diperlukan dan harus mempersiapkan pasukan siber dalam menjaga kedaulatan negara karena ancaman negara saat ini dan yang akan datang bukan hanya melalui senjata, tetapi justru datang dari dunia siber.

“Intelijen Indonesia dengan koordinator BIN sangat antisipatif dengan isu perkembangan ancaman saat ini. Dibentuknya Deputi yang menyediakan sarana dan infrastruktur untuk perang siber diharapkan intelijen Indonesia dapat menangkal ekses negatif dampak serangan siber pihak asing,” pungkasnya.

Para peserta yang hadir dalam bedah buku Intelijen di Era Digital. Foto: Muhammad Fahrizal
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.