hut

Kerajinan Mebel Kaligrafi Solo Mulai Dilirik Pasaran

SOLO — Bagi pengusaha di bidang meubel, inovatif menjadi salah satu modal penting di samping kualitas produknya yang harus bagus. Di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, ada pengusaha mebel yang memiliki inovasi baru di bidang ukir kayu, yang mulai digemari masyarakat.

Usaha yang dirintis belum lama ini dengan menggambungkan ketelitian ukur kayu dengan seni menulis huruf Arab atau kaligrafi. Usaha yang awal mulanya hanya ingin memanfaatkan limbah kayu mebel ini justru menarik minat pasar sehingg mulai dikembangkan.

“Belum lama, baru sekitar 3 bulan ini,” kata Mohamad Rosyid kepada Cendana News, Selasa (23/1/2018).

Kerajinan mebel kaligrafi yang semula hanya sebagai sarana menuangkan hobi pun mulai digeluti dengan serius.

“Muebel kaligrafi sebenarnya hanya sampingan saja. Yang utama seperti almari, meja tamu, meja makan, gebyok, bifet, dan lainnya,” terang pria 54 tahun itu.

Keseriusan warga Tugu, Kecamatan Jumantono, Karanganyar dalam mengembangkan usaha kerajnian di bidang mebel ini dilakukan serius, dengan mendatangkan juru ukir dari daerah Jepara, Jawa Tengah. Alasanya, mengambil juru ukir kayu dari Jepara karena wilayah itu selama ini telah dikenal sebagai sentral kerajinan ukir.

“Jadi memang saya ingin kualitas mebel yang dihasilkan benar-benar bagus. Ini salah satu daya tarik untuk persaingan pasar,” jelas pria yang akrab disapa Rosyid.

Dengan hanya mengandalkan dua juru ukir dari Jepara, dirinya belum menarget banyak untuk memproduksi kerajinan mebel kaligrafi. Sebab, selain membuat ukir kaligrafi, pekerja yang dimiliki juga membuat kerajinan mebel pada umumnya.

“Paling dalam seminggu dua atau 3 produk kerajinan ukir kaligrafi. Produksi ukir kaligrafi untuk tes pasar,” ungkapnya.

Produk ukir kaligrafi ukuran 60 sentimeter x 40 sentimeter dijual dengan harga kisaran Rp400.000 hingga Rp 600.000, tergantung tingkat kesulitan ukirnya. Sejauh ini, pesanan ukir kaligrafi sudah mulai datang dari beberapa teman dan rekan kerja.

Untuk omzet, politisi PKB itu mengungkapkan belum dapat memastikan. “Soalnya masih baru, belum terperinci berapa keuntungan bersihnya,” tandasnya.

Dalam menjalani bisnis di meubel, dirinya mengaku terkendala masalah cuaca. Sebab, tingginya curah hujan yang masih terjadi mebuat pengeringan kayu semakin lama.

“Hanya masalah hujan. Soalnya kalau hujan pengeringnya jadi lama. Biasanya di musim kemarau yang satu minggu kayu sudah kering, kalau hujan bisa setengah bulan lebih,” pungkasnya.

Lihat juga...