Kue Tradisional Antar Anak Mariawati ke Bangku Kuliah

257

LAMPUNG — Kesibukan yang mulai meningkat menjadi salah satu penyebab sebagian besar orang lebih memilih yang praktis, sehingga tidak sempat membuat beragam penganan atau kue untuk sarapan. Hal tersebut menjadi peluang bagi Mariawati (39) salah satu ibu rumah tangga di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan yang menekuni usaha pembuatan kuliner tradisional.

Pilihan membuat kue tradisional tersebut diakuinya dengan adanya kebutuhan akan jajanan pasar yang kerap diinginkan masyarakat sebagai menu sarapan dan sajian dalam berbagai acara.

Mariawati menyebut mulai membuat usaha kuliner dengan bermodalkan sebuah etalase dorong yang menjual berbagai jenis kue tradisional diantaranya lemper, arem arem, onde onde, bakpao, bolu kukus, dadar gulung, risoles serta berbagai kue tradisional lain. Beragam kuliner tradisional tersebut dijual di lokasi strategis, pertemuan Jalan Lintas Sumatera dan jalan menuju ke pasar tradisional Pasuruan yang dekat dengan sejumlah kantor pemerintahan sehingga meski berjualan mempergunakan etalase permintaan cukup tinggi.

“Awalnya hanya fokus pada pembuatan gorengan jenis pisang, sukun, singkong, tempe, bakwan dan molen tetapi sebagian konsumen mulai meminta beragam kuliner lain sehingga saya belajar membuat kue tradisional lain,” terang Mariawati ibu rumah tangga warga Dusun Sendangsari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News di toko kue miliknya, Sabtu (27/1/2018).

Beberapa kue khas masyarakat Lampung bahkan dibuatnya seperti sasimpok labu, lambangsari, ketan lapis serundeng serta beberapa makanan tradisional dari daerah lain yang kerap dijadikan menu camilan dalam acara santai hingga acara resmi.

“Saat pagi hari biasanya menu menu kue tradisional sebagai pengganti sarapan lebih dominan sementara saat sore menjelang malam kita sajikan menu berbeda,” beber Mariawati.

Kue kue tradisional sebagai menu sarapan [Foto: Henk Widi]
Dalam sehari dengan beragam jenis kue tradisional dirinya mampu meraup omzet sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

Berkat menekuni usaha pembuatan kue tradisional sejak anak pertamanya duduk di bangku SMP kini anaknya sudah memasuki jenjang kuliah di salah satu perguruan tinggi dengan jurusan manajemen informatika. Biaya kuliah persemester diakuinya bersumber dari berjualan kue tradisional termasuk pengembangan toko kue dengan konsep kafe dari hasil berjualan kue miliknya.

Semakin majunya usaha kuliner pembuatan kue yang semula hanya berjualan di etalase dan toko namun kini semakin banyak menerima pesanan kue dengan sistem kotak diakuinya memperlihatkan permintaan akan kue tradisional masih tinggi. Selain kue tradisional dirinya bahkan menyebut tengah membentuk kafe yang menjual berbagai minuman tradisional berupa es kelapa kopyor, es buah dan cendol yang bisa dinikmati di toko miliknya.

Baca Juga
Lihat juga...