Kulon Progo Ajukan Permohonan Operasi Pasar Beras

76

KULON PROGO — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengajukan permohonan operasi pasar beras di beberapa pasar rakyat ke Bulog, seiring tingginya harga di tingkat pedagang.

Kasi Promosi dan Distribusi Dinas Perdagangan Kulon Progo Nanik Triyani di Kulon Progo, Minggu, mengatakan saat ini, harga beras di tingkat pedagang untuk kualitas medium lebih dari Rp10 ribu per kg dari harga eceran tertinggi (HET) Rp9.450 per kg, dan beras premium sudah di atas Rp12.800 per kg.

“Kami sudah membuat surat permohonan operasi pasar beras, dan akan dimintakan tanda tangan kepada bupati minggu ini,” katanya.

Ia mengatakan Pemkab Kulon Progo bekerja sama dengan Bulog sudah melaksanakan operasi pasar beras di Pasar Ngentakrejo, Pasar Bendungan, Pasar Wates dan Pasar Pripih pada libur Natal dan Tahun Baru 2018. Namun, operasi pasar ini, tidak mampu menekan harga beras di tingkat pedagang dan konsumen.

“Tingginya harga beras disebabkan konsumsi tinggi, namun di Kulon Progo dan daerah lain belum panen raya padi. Kemudian, petani yang sudah panen belum menjual padi mereka,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Bambang Tri Budi mengatakan harga beras di tingkat pedagang pasar rakyat di Kulon Progo, tidak menjadi masalah. Kenaikan harga beras akan mendongkrak pendapatan petani. Saat ini, harga beras kualitas mediun berkisar Rp10 ribu per kg dan beras premiun di atas Rp12 ribu per kg.

“Kami senang harga beras di pasar mengalami kenaikan. Artinya, pendapatan petani meningkat. Yang menjadi persoalan itu, ketika beras naik, tapi tidak diikuti kebaikan harga gabah,” katanya.

Ia mengatakan penyebaran luas panen di Kulon Progo terdistribusi sepanjang tahun, kecuali pada September, Oktober dan November tidak ada panen padi. Bulan-bulan itu, di Kulon Progo baru memasuki masa tanam, khususnya di Daerah Irigasi Sapon dengan luas tanam 1.896 hektare, dan Daerah Irigasi Kalibawang seluas 4.800 hektare.

Panen padi dimulai minggu ketiga Desember. Artinya, ketersediaan pangan, khususnya padi di Kulon Progo tidak ada persoalan,” katanya.

Bambang mengakui kondisi tanaman padi masa tanam pertama di Kulon Progo dengan luas 1.500 hektare terendam banjir, dan 500 hektare dinyatakan puso. Kecamatan yang tanaman padinya terendam banjir dan mengalami penurunan produksi, yakni Galur, Panjatan, Lendah, dan Wates.

“Kecamatan yang kemungkinan produksi padinya turun drastis, yakni Galur, Panjatan dan Lendah karena lahan pusonya sangat luas, di atas 300 hektare,” kata dia. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...