Lelaki yang Kekasihnya Ditelan Ular Besi

CERPEN MASHDAR ZAINAL

LELAKI itu datang dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Ia duduk termangu di ruang tunggu penumpang, di lantai dua. Matanya yang selalu sinis menatap dunia itu seperti sepasang lampu yang kehilangan sumbu.

Samar-samar, ia mendengar seseorang yang tak ada berbisik ke telinganya, “Di sini, seorang lelaki pernah menyesal karena melepaskan tangan perempuan yang dicintainya untuk masuk ke dalam perut ular yang lapar, tak ada sisa dari perut ular yang lapar. Setelah semuanya karam ke dasar lambung, ular itu akan segera melata, dan yang tersisa hanya kotoran bernama penyesalan.”

Lelaki itu tak mau mengingat masa lalunya, tapi mendadak ia bertanya pada dirinya sendiri, “Lalu apa yang kau lakukan di sini kalau bukan memunguti masa lalu?” Dan ia menjawabnya sendiri, “Aku di sini menunggu kereta.”

Dalam hati ia mengumpat dirinya sendiri yang datang dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Namun, serta merta ia juga membela dirinya sendiri, bahwa duduk menunggu kereta yang datang akan lebih baik ketimbang mengejar-ngejar kereta yang sudah pergi.

Lagi pula hal semacam itu (berkeluyuran dari stasiun ke stasiun dan menjadi jamur di dalamnya) dulu sering ia lakukan, sewaktu ia masih muda dan membara. Tapi sekarang semuanya sudah usang dan padam. Tidakkah lebih baik diam?

Namun, lelaki itu tak tahan hanya berdiam, ia silih berganti melirik Monas yang begitu gagah sekaligus pongah, ia tidak mendapati suatu apapun yang bisa membuatnya tersenyum. Ia silih berganti memalingkan wajah pada orang-orang yang lalu lalang dengan kopor-kopor dan tas yang bergelantungan.

Orang-orang itu, mereka semuanya benar-benar menjemukan. Ia melengos memerhatikan kios-kios kecil yang menjual koran dan makanan. Ia malah mengumpat, dan membayangkan, bahwa para penjual di dalam kios itu semua akan masuk neraka lantaran menjual barang dagangannya dengan harga tidak bermoral. Tapi mungkin juga itu bukan salah mereka.
***
DI tempat yang hiruk-pikuk itu, lelaki itu seolah lupa bahwa dirinya seperti banyak orang, memiliki berjibun keinginan namun tak semua bisa tertunaikan.

Lihat juga...