Literasi Berbasis Seni Dekatkan Generasi Muda dengan Kesenian Tradisional

395

LAMPUNG — Berada di wilayah yang jauh dari perkotaan, tapatnya di dekat bendungan Batu Tegi sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batu Tegi tidak membuat keinginan anak anak usia sekolah di wilayah tersebut berhenti untuk belajar. Rumah Baca Jalosi Sanak Negeri yang sudah berjalan hampir tiga tahun terakhir menjadi tempat alternatif bagi anak anak sekitar untuk dijadikan sebagai tempat berkumpul, bermain dan belajar ketika waktu senggang.

Di rumah baca Jalosi Sanak Negeri yang dikelola oleh Tamar Widadi (26) warga Dusun Tegalsari 2 Pekon Air Kubang Kecamatan Air Naningan yang berjarak sekitar 40 kilometer dari ibukota Talangpadang Kabupaten Tanggamus Lampung.

Menurut Tamar Widadi hingga kini anak-anak usia TK hingga SMA bisa memilih berbagai macam jenis buku bacaan mulai dari buku pelajaran, komik, cerita rakyat, dongeng, majalah rohani dan berbagai buku lainnya.

Memasuki usia sekitar tiga tahun, anak anak yang selalu aktif berkunjung ke rumah baca mulai merasakan manfaatnya. Setidaknya kini anak-anak tidak bingung lagi ketika akan mencari sumber bacaan ataupun mencari buku buku untuk menyelesaikan tugas dari sekolah.

“Antusiasnya mereka berkunjung ke rumah baca tinggi, karena memang kegiatan disini tidak hanya membaca saja tetapi ada kegiatan lain dalam bidang seni,” terang Tamar Widadi selaku penggerak rumah baca Jalosi Sanak Negeri yang berada di Dusun Tegalsari 2 Pekon Air Kubang Kecamatan Air Naningan Kabupaten Tanggamus dalam keterangan yang diterima Cendana News, Sabtu (27/1/2018).

Tamar Widadi melatih anak anak rumah baca Jalosi Sanak Negeri di Kecamatan Air Naningan Kabupaten Tanggamus Lampung [Foto: Ist]
Beberapa kegiatan kesenian yang diajarkan di rumah baca tersebut di antaranya kegiatan mewarnai gambar, mencipta dan membaca puisi, menari, bermain musik tradisional hingga permainan edukasi tradisional. Kegiatan yang beragam menjadi kesempatan untuk mengajari dengan kegiatan positif termasuk melestarikan kesenian tradisional sebagai kearifan lokal.

Tamar yang juga lulusan Sekolah Tinggi Olahraga Metro tersebut menyebutkan, salah satu alasan yang mendasari yakni anak-anak yang sudah mulai melupakan dan meninggalkan budaya daerah yang merupakan identitas bangsa.

“Saya prihatin sebagai guru di sekolah juga anak anak saat disuruh menari tradisional banyak yang enggan alasannya malu termasuk sejumlah permainan tradisional banyak yang tidak tahu cara memainkannya,” beber Tamar.

Ia mencontohkan saat ini anak anak sudah jarang memainkan sejumlah permainan tradisional di antaranya engklek, gobak sodor, bola bekel, dam daman, lompat karet, alasanya tidak tahu bagaimana cara memainkannya. Padahal permainan tradisional tersebut mengandung nilai-nilai yang sangat bagus untuk anak seperti nilai kerjasama, kesabaran tanggung jawab saling menghargai antar kawan.

Tamar menyebut beberapa kesenian tradisional berupa angklung, tarian khas Lampung juga diajarkan oleh rekan rekannya yang memiliki keahlian dalam bermain musik.

Tamar menyebut semula dirinya mengalami keterbatasan dalam penyediaan alat alat namun sebagian perlengkapan kesenian bisa diciptakan dengan bantuan donatur sebagian hasil kreasi para siswa.

Baca Juga
Lihat juga...