Medali Maraton Terlambat, Pemprov NTB Minta Maaf

128

MATARAM – Aksi protes sejumlah peserta lomba lari maraton Lombok yang berlangsung pada Minggu 28 Januari 2018 dan viral di media sosial atas keterlambatan pembagian medali dan adanya peserta yang tidak mendapatkan medali, dinilai banyak kalangan sebagai insiden memalukan, terutama bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selaku tuan rumah.

Menanggapi hal tersebut Pemprov NTB melalui Dinas Pariwisata (Dispar) NTB menyampaikan permintaan maaf dan menyebut insiden tersebut murni di luar skenario dari panitia, khususnya Pemprov NTB selaku tuan rumah.

“Mewakili Pemprov NTB, saya menyampaikan permohonan maaf, insiden tersebut di luar skenario dari panitia yang tidak menyangka akan berakhir seperti itu,” kata Kepala Dispar NTB, Lalu Mohammad Faozal, Senin (29/1/2018).

Ia mengatakan, tidak ada niat membuat seluruh peserta tidak nyaman, semua sudah diukur dari teknis dan nonteknis, Dispar dari sisi penguatan branding, sementara Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) dari sisi teknis, seperti penyiapan kaos, pengaturan rute, termasuk medali.

Menurutnya, dari sebelum acara, persiapan telah dilakukan, tidak ada yang tidak disiapkan, semua peserta terdaftar dengan baik, semua peserta telah menempati posisi penginapan dan panitia penyelenggara memang telah bersepakat memberikan yang terbaik.

“Semangat kita sama, bagaimana pariwisata NTB bisa lebih banyak dikenal dan banyak kunjungan, jualannya salah satunya Lombok sebagai sport tourism. Akibat insiden tersebut, bukan hanya Pemprov NTB yang rugi, tapi masyarakat juga rugi, karena itu ia minta meluruskan berita, supaya masyarakat bisa paham,” katanya.

Ketua KONI NTB, Andy Hadianto mengatakan, dirinya selaku Ketua KONI NTB juga menyampaikan permohonan maaf terhadap insiden protes peserta kemarin atas keterlambatan kedatangan mendali, yang seharusnya sehari sebelum acara datang, tapi datangnya pas hari berlangsungnya acara lomba maraton, jam 09.00.

Tapi pada akhirnya medali tetap bisa dibagi, meski dilakukan saat semua peserta sudah usai acara. Namun tidak diberikan satu persatu. Setiap peserta diberi tanda dan ditukar medali dengan cara berbaris. Itu dilakukan supaya pengambilan medali dilakukan dengan tertib.

“Medali tetap diberikan kepada semua peserta yang terdaftar dan membayar, meski sedikit terjadi keterlambatan dan menunggu semua peserta finis semua,” kata Andy.

Terkait adanya pengakuan dari peserta yang tidak kebagian medali, Andy membantah, semua peserta yang memang berbayar dirinya memastikan semua dapat medali. Kalau ada yang belum dapat dirinya siap memberikan, karena dari 2.000 medali yang ada untuk 500 peserta yang mencapai finis, masih ada sisa 100 medali.

Dikatakan, dalam memberikan medali, panitia mengutamakan peserta yang berbayar, mengingat dari 5.000 peserta lomba lari maraton, hanya 1.300 yang berbayar, sisanya gratis, yang umumnya dari peserta lokal seperti pelajar, TNI dan Polri.

“Upaya maksimal menjadi tuan rumah lomba lari maraton telah diupayakan sebaik dan semaksimal mungkin, kalau ada kekurangan itu kita terima sebagai koreksi dan perbaikan, untuk ke depan lebih baik,” terangnya.

Sebelumnya, even lomba lari maraton Lombok 2018 yang digelar pada Minggu 28 Januari 2018 diwarnai protes para peserta, terutama luar daerah yang menuding panitia melakukan penipuan, lantaran mereka tak mendapatkan tanda khusus untuk mengambil medali. Padahal, catatan waktu mereka masuk dalam kategori penerima medali.

Baca Juga
Lihat juga...