banner lebaran

Mengenal Sejarah Budaya Benda di Museum Pusaka TMII

570

JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memiliki misi melestarikan seni budaya bangsa. Seni budaya itu tidak hanya tarian atau musik serta lagu daerah. Tapi juga benda tak gerak seperti pusaka sejarah peninggalan leluhur.

Ragam pusaka Indonesia seperti keris yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 25 September 2005, juga dilestarikan di Museum Pusaka TMII.

“Museum ini menyimpan ribuan koleksi pusaka senjata warisan leluhur dari seluruh wilayah Indonesia. Museum ini juga sebagai pusat edukasi dan studi pelajar serta mahasiswa untuk lebih mengenal ragam benda pusaka,” kata Kepala Seksi Koleksi Museum Pusaka TMII, Duduh Hidayat kepada Cendana News, Minggu (14/1/2018).

Duduh menceritakan, pada mulanya, Sri Lestari Masagung setelah suaminya wafat yaitu Masagung sang kolektor keris pusaka, merasa keris ini tidak lagi maksimal merawatnya. Meskipun kala itu sudah memiliki Museum Tosan Aji yang terletak di Jalan Kwitang No. 13 Jakarta Pusat.

Kemudian, Sri pun menghibahkan 5.000 keris koleksi suaminya kepada Ibu Tien Soeharto. Gayung pun bersambut, Ibu Tien yang mencintai adat budaya bangsa dengan kerendahan hati menerimanya. Bahkan beberapa karyawan Sri pun dipekerjakan untuk merawat keris-keris tersebut di TMII.

“Tahun 1992, 5.000 keris pusaka sudah dihibahkan kepada Ibu Tien, dan kami pun mulai bekerja di TMII dalam rangka pameran budaya benda ini agar lebih dikenal masyarakat,” kata Duduh.

Pameran lanjut dia, kerap dilakukan di Meseum Migas. Hingga akhirnya Kepala Museum Migas pun memberikan tempat sementara untuk menyimpan keris-keris tersebut. Setelah Museum Pusaka selesai dibangun di atas lahan 3.800 hektare, 5000 keris tersebut dipindahkan.

“Alhamdulilah Museum Pusaka diresmikan pada 20 April 1993 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan ulang tahun TMII ke 18. Berdirinya museum ini atas ide cemerlang Ibu Tien, Ibu pelestari budaya bangsa,” kata pria kelahiran 55 tahun ini.

Kepala Seksi Koleksi Museum Pusaka TMII, Duduh Hidayat. Foto: Sri Sugiarti

Dalam museum, ribuan koleksi benda pusaka di pajang di dua lantai. Lantai bawah, jelas dia, tersaji pusaka nusantara dari seluruh Indonesia. Terdapat pula beberapa koleksi unggulan, seperti keris zaman Hindu-Buddha abad 18 yang diberi nama Betok Budho dengan berat 250 gram dan panjang 26 cm. Keris ini berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Koleksi unggulan lainnya adalah keris zaman Majapahit, yakni abad ke-8. Berat keris yang terbuat dari besi, baja dan batu meteor ini 160 gram dan panjang 34 cm.

Bahkan, kata Duduh, sejumlah pusaka yang pernah digunakan Wali Songo, yaitu tombak dwisula milik Sunan Kalijaga dari tahun 1460. Tombak seberat 166 gram dan panjang 40,5 cm milik Sunan Ampel, tahun 1402. Juga tombak Sunan Gunung Jati sepanjang 35,6cm dan berat 153 gram.

Benda pusaka lainya, sebut dia, seperti badik, rencong, siwah, pedang, kujang, mandau Kalimantan, parang sawahlalu, tombak, keris Bali, dan keris Sumatera-Sulawesi, ada di lantai ini. Bahkan, kursi peninggalan Raja Pakubowono X juga ditampilkan di museum ini.

Terdapat pula pedang terpanjang yang pernah mendapatkan rekor MURI dengan panjang 1,76 meter. Umumnya, kata Duduh, pedang atau keris yang dibuat lebih panjang dari ukuran normal ditujukan untuk upacara adat.

“Koleksi keris, ragam belah pusaka, tombak, dan juga kursi warisan Pakubowono X, itu semuanya asli. Museum ini koleksi benda sejarah bernilai luhur,” kata pria lulusan SMA ini.

Berlanjut ke lantai dua, jelas Duduh, penempatan koleksi benda pusaka terbagi dalam empat jenis yang disimpan di lemari kaca. Pertama tangguh pusaka, yakni perkiraan zaman pembuatan pusaka. Perkiraan biasanya dikaitkan dengan kerajaan yang menonjol pada zaman pusaka dibuat.

Tombak Dwisula Sunan Kalijaga di Museum Pusaka TMII, Jakarta.foto: Sri Sugiarti

Kedua, pamor pusaka adalah hiasan atau motif pada bilah pusaka. Hiasan ini kata Duduh, bukan karena diukir atau diserasah/dilapis tapi timbul karena teknik tempaan yang menyatu dari unsur-unsur logam yang lain.

Ketiga adalah dapur pusaka. Disampaikan dia, ini adalah penamaan ragam bentuk atau tipe sebuah pusaka sesuai dengan ricikan yang terdapat pada pusaka dan jumlah luknya.

“Dalam dunia perkerisan penamaan dapur memiliki patokan atau pembakuan yang disebut pakem dapur keris,” jelas ayah tiga anak ini.

Adapun keempat yaitu introduksi. Yakni kata Duduh, pusaka atau senjata yang berasal dari nenek moyang atau mempunyai nilai tinggi nenek moyang. Seperti, jenis-jenis pusaka antara lain keris, tombak, pedang, kijang, dan lainnya.

Sedangkan, tambah dia, untuk jenis-jenis pusaka yang terdiri dari bahan berharga seperti batu permata dan emas diletakkan di lemari hias lebih kecil.

Lebih lanjut Duduh menyampaikan, Museum Pusaka ini tidak sekedar memamerkan koleksi. Tetapi juga melayani pemesanan, penitipan, dan penjualan keris.

Selain itu, museum ini juga menyediakan jasa perawatan dan pencucian keris. Membersihkan benda pusaka yang dilakukan setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam. Museum ini juga menerbitkan sertifikat yang bertujuan untuk mencegah manipulasi benda pusaka.

Meskipun 1 Suro diyakini sebagai terbaik untuk membersihkan benda pusaka. Tapi kata Duduh, tidak hanya 1 Suro, setiap bulan juga banyak kolektor yang membersihkan keris dan membuat sertifikat.

” Ya sebulan sekitar 50 orang yang bersihkan keris, 50 orang yang bikin sertifikat. Biaya pencucian Rp 100 ribu per keris, dan biaya sertifikat juga sama,” jelasnya.

Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Foto: Sri Sugiarti

Dengan keberadaan museum ini, Duduh berharap masyarakat Indonesia bertanggungjawan untuk melestarikan budaya leluhur. Generasi muda juga diharapkan semakin tertarik untuk mencintai seni budaya bangsa, salah satunya benda pusaka.

“Apalagi keris sudah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO, jadi ya tugas kita semua untuk menjaga budaya nenek moyang ini bernilai adiluhur ini,” tegas Duduh.

Dia menjelaskan, pengunjung Museum Pusaka ini kebanyakan orang tua yang memang pencinta benda pusaka. Sedangkan untuk generasi muda masih terbilang jarang, meski diakuinya anak sekolah dan mahasiswa berkunjung ke museum ini.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.