“Ngobor”, Cara Perburuan Belut Warga Penengahan Kala Malam Hari

562

LAMPUNG — Malam menjelang, Santo (30) bersama dua rekannya bernama Tilek (29)dan Hartek (29) menyusuri petak petak sawah di wilayah Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Mereka berburu belut.

Meski hujan rintik rintik tak mengurungkan niat mereka. Perburuan belut dilakukan menggunakan alat berupa lampu senter,sabit dan sebuah jambel atau tas terbuat dari karung plastik sebagai wadah. Perburuan kerap dilakukan menjelang pukul 19.00 saat malam gelap sehingga perburuan disebut dengan istilah “ngobor”.

Istilah ngobor atau ngoncor disebut Santo berasal dari cara mencari belut yang masih mempergunakan oncor atau oborm dengan bahan bakar minyak tanah mempergunakan sumbu yang disalurkan dalam tabung bambu, bahkan ada yang menggunakan lampu petromaks.

Seiring zaman modern proses ngobor menggunakan senter dengan daya baterai isi ulang listrik sehingga daya tahan lampu lebih lama dibandingkan petromaks.

“Biasanya saya sengaja mencari belut untuk memenuhi permintaan warga yang ingin kuliner belut untuk dibuat menjadi menu kicik belut.Untuk belut yang masih berukuran kecil sebagian dipelihara,” terang Santo saat berbincang dengan Cendana News, Kamis malam (11/1/2018)

Menurut Santo waktu yang paling tepat untuk mencari belut merupakan saat bulan mati atau saat cahaya bulan meredup. Belut dominan muncul saat terang bulan.

Selain lebih agresif, belut sukar dicari saat terang bulan. pada waktu itu belut lebih suka bergerak di antara lumpur sawah berair yang belum ditanami padi, meski sudah diolah oleh petani.

Lanjut Santo proses mencari belut dilakukan dengan menyusuri tanggul sawah dan bahkan sering dirinya bersama kawan kawannya masuk ke dalam lumpur untuk mencari belut.

Mereka mengikuti jejak belut yang biasanya berbentuk alur memanjang. Sebagian belut kerap bersembunyi pada rumpun tanaman genjer atau enceng gondok yang menjadi lokasi persembunyian belut dan proses penangkapan dilakukan menggunakan golok.

“Proses penangkapan biasanya mempergunakan bagian golok yang tajam meski sebagian menggunakan bagian tumpul asalkan belut bisa ditangkap dan dipindahkan ke ember atau wadah,” beber Santo.

Sebagian belut yang ditangkap menggunakan sabit-Foto: Henk Widi.

Sekali melakukan proses pencarian belut Santo mengaku kerap memperoleh sebanyak lima hingga enam kilogram. Sebagian Belut akan dimasak bersama rekan rekannya. Jika sudah dipesan oleh warga lain, sebagian dimasukkan dalam ember atau bak penampungan terutama belut yang masih hidup.

Satu kilogram belut dengan ukuran beragam disebutnya dijual dengan harga Rp60.000 per kilogram lebih mahal dari jenis ikan air tawar lainnya.

Pemesan belut selain warga biasanya merupakan pemilik warung kuliner dengan menu sambal belut serta kicik belut yang menjual dengan satu porsi seharga Rp20.000. Permintaan akan belut meningkat sekaligus menjadi pekerjaan sambilan Santo dan kawan kawannya saat malam hari dengan mengobor.

Proses mencari belut yang sulit disebutnya membuat harga belut terbilang mahal. Falam semalam ia menyebut bisa memperoleh rata rata lima kilogram belut dengan perolehan ratusan ribu dan dibagi secara merata oleh pencari belut.

“Mengatasi kondisi belut tidak mati saat ditangkap kami mempergunakan trik memukul tapi tidak sampai memotong bagian tubuh belut,” ungkap Santo.

Sebagian belut yang terpaksa terpotong saat proses penangkapan kerap dimasak untuk dimakan sebagai menu makan malam bersama dengan anggota keluarga dan kelompok pencari belut.

Santo dan rekan sesama pencari belut melakukan pembersihan belut untuk diolah-Foto: Henk Widi.
Lihat juga...

Isi komentar yuk