banner lebaran

Pedagang Kuliner di Jalinsum Keluhkan Mahalnya Harga Beras

48

LAMPUNG — Kenaikan harga beras jenis asalan hingga medium ikut berdampak bagi pemilik usaha kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Kondisi tersebut dialami oleh Lilis (34), warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan, pemilik usaha kuliner warung nasi di Jalan Lintas Sumatera KM 79 yang buka sejak tiga tahun terakhir. Lilis mengaku meski harga beras naik, ia belum menaikkan harga setiap porsi kuliner yang dijualnya, karena tidak mau ambil risiko pelanggan kecewa dan enggan membeli kuliner yang dibuatnya.

Hasan, pedagang nasi goreng melayani pelanggan [Foto: Henk Widi]
Saat ini, harga beras jenis IR 64 yang kerap dipergunakan untuk dijual merupakan beras kualitas medium dengan harga Rp12.000 di pasaran, namun dirinya masih membeli beras tersebut dari pemilik penggilingan padi dengan harga Rp11.000 per kilogram.

“Saya sengaja tidak membeli beras kemasan, melainkan dengan membeli beras langsung dari pabrik atau beras curah, sehingga harganya lebih murah, apalagi akan saya jual lagi dalam wujud nasi untuk konsumen saya,” terang Lilis, salah satu pemilik usaha warung pecel lele di Jalan Lintas Sumatera KM 76 Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (12/1/2018) malam.

Ia menyebut, imbas kenaikan harga beras memang memberatkan bagi pemilik usaha kuliner seperti dirinya, karena semenjak dua pekan terakhir pedagang nasi uduk, lontong dan soto serta sejumlah pemilik usaha kuliner dengan bahan utama nasi termasuk pedagang bubur ayam dan nasi goreng ikut merasakan dampak langsung kenaikan tersebut.

Dalam semalam, ia menyiapkan sebanyak 10 kilogram nasi yang selalu habis setiap malam terutama warung miliknya berada di jalur strategis menuju Pelabuhan Bakauheni.

Lilis mengaku, di pasar tradisional sejumlah toko beras sudah menjual beras medium dengan harga Rp12.000 jenis beras varietas Muncul, Ciherang dan IR 64 untuk beras medium dari semula hanya seharga Rp10.000 per kilogram. Sementara jenis beras premium dengan merk dagang Rojolele, Manggis bahkan sudah menembus angka Rp13.000 dari sebelumnya seharga Rp12.500. Beras nonkemasan atau beras curah asalan semula seharga Rp8.500, bahkan oleh pedagang dijual dengan harga Rp10.500.

Lilis menyebut sebagai pedagang kuliner dengan sajian rasa serta melayani konsumen, dirinya selalu mempergunakan beras berkualitas, sehingga langsung membeli dari pabrik. Ia tidak mengurangi porsi nasi yang dijual termasuk menaikkan harga, karena menurutnya harga yang stabil akan tetap menarik bagi pengunjung datang ke warung makan yang buka sejak pukul 17:00 hingga pukul 24:00 tersebut.

Selain harga beras yang naik, dengan siasat tidak membeli beras kemasan, kenaikan harga cabai rawit disebutnya ikut berpengaruh bagi usaha kuliner miliknya. Merangkaknya cabai besar hingga level Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya hanya seharga Rp27.000 per kilogram dan cabai kecil hingga level Rp35.000, yang sebelumnya hanya seharga Rp28.000 per kilogram, ikut berdampak bagi usaha yang memiliki ciri khas dari sambal tersebut.

“Saya biasanya membeli dari pasar saat harga murah, namun semenjak harga mahal saya memetik dari kebun yang saya tanam di polybag dan juga di pekarangan,” terang Lilis.

Selain mengurangi biaya produksi untuk usaha kuliner miliknya, dengan mempergunakan cabai rawit dan tomat rampai hasil tanaman sendiri ia bisa menjaga kualitas rasa sambal buatannya. Sebagian pelanggan bahkan disebutnya membeli beberapa jenis kuliner dengan pelengkap sambal miliknya berupa ayam bakar, ayam goreng, bebek goreng, pecel lele dengan perporsi dijual mulai Rp15.000 hingga Rp20.000.

Pedagang nasi goreng yang ikut terimbas melonjaknya harga beras salah satunya Hasan (32). Ia membeli beras jenis IR 64 dari agen beras yang membeli dari pabrik semula seharga Rp11.000 per kilogram kini naik menjadi Rp13.000 per kilogram. Sebagai upaya untuk tidak menaikkan harga nasi goreng miliknya, ia terpaksa mengurangi porsi nasi yang akan digoreng agar harga tetap Rp10.000 per porsi.

“Sangat berpengaruh harga beras bagi usaha yang saya miliki, namun menaikkan harga juga tidak bisa saya lakukan sepihak, karena takut pelanggan tidak membeli nasi goreng saya lagi,” beber Hasan.

Nasi goreng yang juga membutuhkan bumbu cabai rawit dan mulai merangkak naik diakuinya disiasati dengan membeli langsung dari petani, sehingga memperoleh harga yang lebih murah. Ia berharap, harga beras bisa kembali normal, agar tidak memberatkan masyarakat sekaligus pemilik usaha kuliner seperti dirinya.

Meski harga beras naik, dalam semalam Hasan masih bisa menjual nasi goreng dengan bahan baku nasi sekitar 10 kilogram per malam.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.