banner lebaran

Pemerintah Diminta Tingkatkan Produksi Nasional Hindari Impor Beras

95

SEMARANG – Kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah, menyarankan pemerintah pusat meningkatkan produktivitas padi secara nasional, guna menghindari impor beras yang dinilai hanya akan merugikan para petani dan berdampak negatif pada perekonomian nasional.

“Agar impor beras tidak terus berulang, pemerintah pusat perlu meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara nasional, upaya tersebut dapat ditempuh dengan melakukan promosi pengembangan sistem serta usaha agribisnis berbasis usaha tani padi,” kata anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Riyono, di Semarang, Selasa (30/1/2018)

Program promosi, kata dia, dapat juga dilakukan secara berkelanjutan menyangkut infrastruktur pendukung usaha tani padi dan meningkatkan akses petani terhadap sarana produksi serta sumber permodalan.

“Selain itu, meningkatkan mutu intensifikasi usaha tani padi dengan menggunakan teknologi maju, serta meningkatkan akses petani terhadap sarana pengolahan pascapanen dan pemasaran,” ujarnya.

Menurut dia, perlu ada kebijakan yang implementasinya khusus mengenai pembelian gabah oleh pemerintah, baik melalui Bulog atau perusahaan umum daerah dengan harga yang layak bagi petani.

“Upaya itu untuk menggairahkan petani berusaha secara intensif dan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani, di sisi lain pemerintah wajib menjaga harga beras, sehingga tidak merugikan konsumen termasuk petani itu sendiri,” katanya.

Ia juga secara tegas menolak impor beras yang akan dilakukan pemerintah pada akhir Januari hingga Februari 2018, karena selain merugikan petani juga secara tidak langsung menyudutkan posisi petani di tengah gencarnya program pemerintah untuk meraih kembali swasembada pangan yang pernah disandang Indonesia pada tahun 1984.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Ikhsan Mustofa, menyebutkan salah satu akibat pelaksanaan kebijakan impor beras adalah turunnya harga gabah, padahal di sejumlah daerah di Jateng akan panen raya padi dengan luas mencapai sekitar 300 ribu hektare dengan produksi sekitar 6 ton per hektare.

“Dengan kondisi ini, pasokan panen nantinya mencapai 900 ribu ton, namun harga gabah kering panen (GKP) di petani turun sekitar Rp800 per kg,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.