Pemkab Lebak: Produk Pertanian Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

151

LEBAK — Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan sektor pertanian untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan di daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Sabtu, mengatakan pemerintah daerah memfokuskan perhatian terhadap sektor pertanian karena menyumbangkan cukup besar pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB).

Selain itu juga pengembangan pertanian pangan, hortikultura, palawija dan perkebunan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor pertanian guna mendongkrak produktivitas pangan, terlebih wilayahnya sebagian besar daerah agraris dan bisa menyumbangkan ekonomi cukup besar.

Selama ini, petani di daerah ini menjadikan andalan penghasil pangan, sayur-sayuran, buah-buahan di Provinsi Banten.

Bahkan, sebagian produksi pertanian itu dipasok ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, seperti kacang panjang, ketimun, terung, buah durian, rambutan, manggis dan duku.

“Semua produk pertanian itu tentu membangkitkan ekonomi masyarakat juga bisa meminimalisasi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan,” ujarnya menjelaskan.

Menurut dia, pemerintah daerah menargetkan tahun 2018 angka tanam bisa mencapai 300 ribu hektare dengan pengembangan pertanian pangan, sayur-sayuran, palawija dan perkebunan.

Selain itu juga pihaknya optimistis Lebak menjadi sentra lumbung pangan beras melalui gerakan percepatan tanam.

“Bahkan, produksi pangan dapat memenuhi ketersediaan beras untuk masyarakat lokal juga memberikan sumbangan pangan kepada Provinsi Banten juga Nasional,” katanya.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak Yosep Muhammad Holis mengatakan selama ini sektor pertanian dan perkebunan memberikan kontribusi PDRB mencapai 36 persen sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga menyerap lapangan pekerjaan.

Selama ini, anggaran pertanian cukup besar untuk menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) kepada kelompok tani di antaranya pupuk, pestisida, perbaikan jaringan irigasi, embung dan pompanisasi.

Selain itu juga bantuan alat pertanian (alsintan) seperti traktor, mesin pengering juga pabrik pinggilan beras.

Pemerintah daerah juga membangun infrastuktur akses jalan guna memudahkan petani mengangkut hasil produksi komoditas pertanian.

Begitu juga dioptimalkan peningkatan kompetensi petani melalui pelatihan-pelatihan, sehingga dapat menerapkan rekayasa teknologi pertanian.

“Kami optimistis sektor pertanian itu sesuai kebijakan program “Lebak Sejahtera” yang digulirkan pemerintah daerah guna mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, selama ini Kabupaten Lebak menjadikan sentra lumbung pangan di Provinsi Banten dengan surplus 15 bulan kedepan.

Panen padi di Kabupaten Lebak dengan produktivitas di atas nasional 5,6 ton gabah kering pungut per hektare.

Bahkan, Lebak mampu memasok beras ke berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Lampung.

“Kami terus melakukan intervensi bantuan pemerintah daerah guna mendongkrak usaha lumbung pangan,” ujarnya.

Sementara itu, Dudung (55) petani di Kecamatan Warunggunung mengaku sebagian besar petani di sini sudah mengembangkan budidaya tanaman sayur-sayuran.

Petani di sini, kata dia, setiap hari sudah bisa memasok hasil tanaman sayur-sayuran ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang dan Pasar Rangkasbitung, di antaranya kacang panjang, ketimun, paria, dan terong.

“Kami bisa mengembangkan usaha budidaya tanaman sayuran karena cukup menjanjikan pendapatan ekonomi,” katanya.[Ant]

Baca Juga
Lihat juga...