Perempuan yang Kehilangan Lipstik

Ilustrasi Helmi Fuadi

CERPEN AGNES YANI SARDJONO

HAMPIR satu jam aku menunggu perempuan itu ke luar dari kamar. Lobi hotel terasa menjemukan. Tapi tidak mungkin aku meninggalkannya. Perempuan itu narasumber yang banyak diincar oleh para jurnalis. Pengusaha sukses tingkat nasional. Terkenal dermawan. Hampir tiap bulan menyambangi panti asuhan di kota kota yang ia singgahi. Tentu saja sambil mengulurkan tangan memberi bantuan.

Bety Wiguna. Ayahnya masih berdarah biru. Konon darah panglima perang Mataram yang terkenal sakti mengalir di tubuhnya. Tumenggung Wiraguna. Ibunya dari Manado. Dibesarkan di Belanda, Perancis dan Jerman. Namun ia tidak kehilangan identitas diri sebagai putri Nusantara. Maklum ayahnya seorang diplomat.

Ketika titik jenuh benar-benar sudah berubah jadi bola dan menekan kepala serta dada, dari pintu lift yang terbuka muncul perempuan yang kutunggu-tunggu. Ia mengenakan celana jeans agak ketat, baju putih dibalut blazer warna hijau daun. Di atas kepalanya melintang bando warna putih.

Aha! Teriakku dalam hati. Aku paling senang melihat perempuan mengenakan bando untuk menjaga rambutnya agar tidak awut-awutan saat tertiup angin.

Hmm. Penampilan yang bersahaja untuk pengusaha sekaliber dirinya. Tanpa sekretaris atau pendamping.

“Maaf, lama menunggu, ya?” sapanya sambil menarik kursi dan duduk di depanku.

Aku mengangguk. Ingin rasanya segera mengajukan sejumlah pertanyaan yang sudah kususun di kepala sejak tadi.

“Wawancaranya ditunda dulu, ya. Aku kurang PD. Kurang percaya diri,” katanya. Matanya tampak gelisah. “Tahu kenapa aku kurang PD?”

Aku menggeleng.

“Lihat, aku belum make up sejak tadi. Kenapa?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku kehilangan lipstik!”

“Ohh.” Masalah sepele, kataku dalam hati. “Bagaimana kalau wawancara kita lakukan sekarang. Untuk pengambilan gambar nanti setelah lipstik Ibu Bety ditemukan.”

“Tidak mungkin!” kilahnya. “Bagaimana mungkin wanita tanpa bedak dan lipstik? Itu seperti sayur tanpa gula dan garam. Enak rasanya?”

Aku menggeleng. Muncul rasa jengkel. “Lalu bagaimana?” tanyaku mulai kesal. Hilang rasa kagumku kepada perempuan itu.

Ia tidak menjawab. Justru jari-jarinya memencet-mencet telepon seluler di tangannya.

“Bagaimana Eli, sudah kamu temukan lipstikku?”

“Belum Ibu,” jawab dari seberang.

“Sudah kamu periksa seluruh isi kamar?”

“Sudah, sudah. Tapi tetap tidak kami temukan.”

“Ah, bagaimana ini?”

Tidak ada jawaban. Perempuan itu lalu memencet-mencet teleponya lagi. “Maaf, Anda General Manager hotel ini?”

“Ya, ya. Ada yang bisa kami bantu?” jawab dari seberang.

“Aku kehilangan lipstik di hotel ini. Tolong perintahkan kepada anak buah Anda untuk ikut mencari. Kalau perlu periksa setiap inci dari bangunan hotel ini!”

“Hotel ini terdiri dari 300 kamar. Apakah kami harus memeriksa semuanya?”

“Aku tidak peduli ada berapa ratus kamar. Aku hanya ingin kalian menemukan lipstikku yang hilang! Anda tahu siapa aku, kan?”

“Baik, baik. Akan kami kerahkan seluruh karyawan hotel untuk mencarinya,” jawab dari seberang dengan nada gemetar.

Perempuan itu tersenyum. “Bukan bermaksud sombong, aku bisa beli hotel ini hanya dalam hitungan jam. Kalau perlu dua jam transaksi sudah selesai,” celetuknya.

Kami berdua menunggu. Ia membisu. Aku diam karena jengkel. Seluruh karyawan hotel sibuk keluar masuk kamar. Naik turun lewat lift dan tangga darurat. Setelah hampir dua jam seorang lelaki berdasi dan mengenakan jas datang, membungkuk-bungkuk di depan Bety.

“Sudah kalian temukan?” semprot perempuan itu.

“Maaf Ibu, kami gagal menemukan. Tapi kami bersedia mengganti lipstik ibu yang hilang,” kata general manager hotel itu ketakutan.

“Kalian kira aku wanita kere, ya? Tidak kuat beli lipstik?” tukas Bety lagi.

“Bukan, bukan itu. Maksud kami…”

“Sudah! Aku tidak butuh alasan. Kembali ke tempat kerjamu!”

Lelaki itu kembali membungkuk penuh hormat dan meninggalkan kami berdua. Suasana lobi hotel jadi tegang. Beberapa tamu yang sedang duduk menunggu relasinya ikut diam. Tiga orang resepsionis tampak seperti patung. Diam membisu.

Bety Wiguna menghela nafas. Ia membuka tas kulit buatan luar negeri. Melihat mereknya harga tas itu bisa setara harga mobil baru.

“Jadi bagaimana?” tanyaku hati-hati.

“Anda tadi lupa apa yang kukatakan? Perempuan tanpa lipstik itu ibarat sayur tanpa garam. Tahu?”

Aku mengangguk. “Lalu?”

“Tidak mungkin hari ini ada wawancara. Tunggu sampai lipstik itu kutemukan. Oke?” Bety berdiri. Ia melirikku sambil mengangguk-angguk. Ia lalu memencet-mencet telepon genggamnya lagi. “Halo? Dik Dar ya?”

“Ya, ya, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?” terdengar jawaban dari seberang.

“Aku kehilangan lipstik di hotel bintang lima tak jauh dari kantormu.”

“Hotel Pyramid?”

“Ya. Betul.”

“Lalu apa yang bisa kami bantu Mbak Bety?”

“Bisa kerahkan anak buahmu untuk menemukan lipstikku. Karena di negeri ini tidak ada toko yang menjual. Ini lipstik langka. Ramuannya persis yang dipakai Ratu Cleopatra dari Mesir. Pernah dengar?”

“Ya, ya. Cleopatra memang menggunakan lipstik khusus. Bahannya hanya ada di lembah sungai Nil. Karena itulah ribuan lelaki tergila-gila padanya. Ternasuk dua jenderal sekaligus kaisar Mark Antony dan Julius Caesar. Benar, kan?”

Bety tertawa. “Aku juga ingin seperti Cleopatra. Paling tidak sekarang ini ada dua lelaki petinggi negara yang ingin mengambil hatiku.”

“Siapa Mbak?”

“Ah, kepo kamu!”

“Jadi bagaimana?”

“Tolong kerahkan anak buahmu menemukan lipstikku. Hilang dari bandara sampai hotel ini. Tolong ya. Aku sudah ditunggu wartawan untuk sesi wawancara. Tapi aku tidak PD sebelum pakai lipstik itu. Oke?”

Dari seberang terdengar suara lelaki tertawa. “Segera kuperintahkah seluruh Satpol PP dan anggota pemadam kebakaran untuk menyusur jalan dari bandara sampai hotel. Tunggu ya?”

“Jangan terlalu lama! Kasihan si wartawan sudah lama menunggu.”

“Oke!”

Bety Wiguna tersenyum lalu kembali duduk di depanku. Jujur saja, sebagai lelaki aku menganggap perempuan itu lebih dari sekadar cantik. Namun sangat sexy! Tanpa make up sedikit pun bagiku justru lebih menggairahkan. Tidak berkurang sedikit pun daya pesonanya.

“Walikota di sini adik sepupuku. Dia akan mengerjakan apa saja yang kuperintahkan. Karena sejak kecil ibaratnya aku yang memberi makan dan uang, juga membiayai sekolahnya,” kata Bety.

Aku menelan ludah. “Tapi seorang pejabat setingkat walikota tidak bisa semena-mena menyuruh bawahannya, kan?” kataku.

“Lho, apa salahnya kalau dia memerintahkan bawahannya untuk ikut menemukan lipstikku? Apa mungkin aku minta tolong seluruh penduduk kota ini untuk ikut mencari? Naif dan tolol kan?”

“Tapi minta tolong seorang walikota untuk mencari sebuah lipstik apa itu tindakan yang bijak?”

“Dia adikku.”

“Tapi ada aturan protokoler yang membatasi gerak-gerik dan sepak terjang walikota. Bukankah kerja dia juga diawasi DPRD?”

“DPRD?”

Aku mengangguk.

“Tahu apa kerja mereka?”

Aku menggeleng. Karena memang tidak tahu persis kerja para wakil rakyat yang dibayar dengan uang pajak dari rakyat itu.

“Nothing!” Bety tertawa. “Jangankan yang di daerah, di pusat juga sama. Aku tahu persis karena banyak kerabatku yang jadi anggota DPRD tingkat I dan II, juga pusat. Aku tahu persis jam segini apa kerja mereka. Paling facebook-an. Ha..ha..” Bety mendekat. Ia lalu memperlihatkan beberapa akun di telepon androidnya.

“Kenal dengan nama-nama pemilik akun ini?”

Aku mengangguk.

“Jadi tahu kan kerja mereka? Jam segini pada online. Nanti kalau ditanya wartawan, mereka sedang mendengar keluh kesah konstituen. Padahal aslinya ya cuma komen-komen status temannya. Mungkin juga sedang chating sama teman istimewanya.”

“Selingkuhannya?”

“Aku tidak mengatakan begitu, ha..ha..” kilah Bety cepat. “Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu.” Ia lalu berjalan cepat menuju toilet di pojok lobi hotel.

Aku menelan ludah. Tidak bisa kubayangkan wajah walikota ketika memberi perintah kepada bawahannya. Entah berapa brigade Satpol PP dan anggota pemadam kebakaran yang ia kerahkan. Mereka bukan menertibkan para pedagang kaki lima yang bandel, tapi menyusuri jalan dari bandara sampai hotel ini. Memeriksa inci demi inci, jengkal demi jengkal tanah beraspal untuk menemukan lipstik.

Kemungkinan besar polisi lalu lintas pun ikut sibuk mengamankan para pengguna lalu lintas. Masyarakat akan berbondong-bondong melihat para anggota Satpol PP dan anggota pemadam kebakaran itu bekerja menyusuri jalan dan memeriksa setiap jengkal tanah. Ini sebuah permintaan naif bahkan mendekati gila.

Anehnya, Pak Walikota tidak berani menolak.

Bety muncul lagi dengan wajah berseri-seri. Beban di dalam perutnya sudah berhasil ia buang.

“Belum ada kabar dari walikota. Tapi katanya dia nanti akan langsung memimpin sendiri pencarian lipstik itu,” katanya lalu kembali duduk di depanku.

Aku diam tidak bereaksi.

“Para ratu di Eropa berjasa besar mengenalkan lipstik untuk rakyatnya. Mula-mula ratu Inggris, disusul kemudian Perancis, Italia, Spanyol, Swedia, Belanda, dan akhirnya seluruh anggota kerajaan di Eropa menggunakan lipstik.”

“Mereka menggunakan merek yang sama?” tanyaku.

“Ooo, tidak. Mereknya beda-beda. Tapi lipstik dengan merek yang kumiliki ini sangat langka. Dalam jangka waktu 10 tahun hanya diproduksi 25 biji. Jadi tidak sembarang orang bisa membeli. Harus inden cukup lama. Aku inden waktu masih sekolah di Belanda. Kebetulan Papi tugas di sana. Dan baru dua tahun lalu bisa mendapatkannya. Karena itu bagiku lipstik itu sangat berharga, bahkan tak ternilai harganya.

Bayangkan, di negeri ini paling hanya tiga perempuan yang memiliki. Satu di antaranya adalah aku. Jadi masuk akal bukan kalau aku sampai minta tolong walikota untuk ikut mencari? Karena sangat berharga itu. Lebih baik kehilangan gelang emas daripada kehilangan lipstik, ha..ha..” Bety tertawa lagi.

Aku benar-benar sudah tidak tahan. Campuran rasa jengkel, marah, gelisah, muak menggumpal jadi satu. Belum pernah ketika tugas jurnalistik aku diremehkan seperti ini. Ibaratnya dipandang sebelah mata pun tidak. Hanya gara-gara kehilangan lipstik wawancara lalu ditunda. Ini omong kosong!

Aku hampir saja berdiri ketika tiba-tiba dari arah depan hotel muncul puluhan anggota Satpol PP berseragam cokelat. Mereka mengenakan topi hitam. Begitu tiba di halaman hotel lalu membentuk formasi lima baris. Para anggota pemadam kebakaran dengan seragam oranye ada di barisan paling belakang. Sesaat kemudian muncul mobil jeep terbuka. Seorang lelaki lalu meloncat dan berjalan cepat menuju lobi.

“Bagaimana Dik Dar?” sambut Bety sambil berlari.

“Siap. Maaf Mbak, kami gagal menemukan lipstik itu,” jawab lelaki yang baru saja datang itu. Darmawan, walikota yang baru dilantik enam bulan yang lalu.

“Terus?” kejar Bety.

“Kami hanya bisa minta maaf. Titik. Segala upaya telah kami lakukan. Inci demi inci, jengkal demi jengkal jalan dari bandara sampai hotel ini sudah kami periksa. Hasilnya nihil!”

Bety menghela nafas. Wajahnya menampakkan rasa kecewa yang mendalam. Ia menoleh ke arahku. Aku tidak bereaksi.

“Wawancara ditunda sampai lipstik itu kutemukan,” katanya dingin. “Terserah, ditunda atau dibatalkan.”

Aku diam. Lalu berdiri dan meninggalkan lobi hotel. Dalam perjalanan kembali ke kantor pikiranku berputar-putar mencari jawab. Kenapa perempuan menjadi tidak percaya diri hanya karena tanpa lipstik. Anda bisa memberi jawaban? ***

Jalan Kaliurang, 2017

Agnes Yani Sardjono adalah nama pena dari Budi Sardjono. Lahir di Yogyakarta, 6 September 1953. Beberapa kali memenangkan sayembara mengarang di majalah Femina, Kartini, dan Sarinah. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Topeng Malaikat (2005). Novelnya yang sudah terbit Ojo Dumeh (1997), Selendang Kawung (2002), Angin Kering Gunung Kidul (2005), Roro Jonggrang (2013), dan lain-lain. Novelnya Sang Nyai memperoleh penghargaan sastra 2012 dari Balai Bahasa Yogya DIY.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di mana pun dan belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke [email protected] Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Komentar