Petani Manggala, Makassar Butuh Penyuluh Pertanian

290

MAKASSAR — Petani di Kelurahaan Manggala,Makassar termasuk orang-orang yang punya kesabaran tinggi. Sudah lama mereka tidak punya penyuluh pertanian. Sehingga terkesan bahwa petani di kawasan ini seperti tidak diperdulikan.

Dampaknya petani di Manggala, tidak mendapat bantuan pemerintah. Tidak adanya penyuluh yang mensosialisasikan pentingnya pembentukan kelompok tani, membuat sulit mendapat bantuan dari dinas terkait. Selain itu penggunaan lahan persawahan menjadi tidak efektif.

Seperti saat sore ini ketika Cendana News bertandang ke pemantang sawah di kKlurahan Manggala. Dari 15 petak lahan persawahan di kelurahan ini hanya sekitar enam sawah saja yang dikelola oleh petani.

Sampara, salah satu petani yang saat itu sibuk membuat mata pancing untuk menangkap ikan di rawa bercerita, di daerahnya terdapat sepuluh petani akan tetapi tidak membentuk kelompok tani.

“Entah apakah petani-petani di sini kurang mengerti pentingnya kelompok tani atau karena tidak adanya peran penyuluh pertanian yang datang ke sini,” papar Sampara pada Cendana News saat ditemui di sela kesibukannya, Senin (29/01/2018).

Menurut Samara petani-petani yang ada di daerah ini sangat memerlukan bantuan pompa air, bantuan pupuk, obat padi, serta mesin teraktor. Bantuan ini tidak tersalurkan ke petani-petani yang ada di daerah ini, karena tidak adanya kelompok tani. Untuk mendapatkan bantuan tersebut harus ada kelompok tani didaerah tersebut.

Sampara mengaku dirinya pernah meminta KTP kepada petani-petani yang ada untuk membentuk kelompok tani di daerah ini. Akan tetapi, usaha laki-laki usia 30 tahun ini ditanggapi salah oleh petani lainnya. Sehingga laki-laki yang sudah menjadi petani sejak kecil ini mengurungkan niatnya untuk membentuk kelompok tani.

Sampara mengaku pengetahuan para petani tentang pentingnya pembentukan kelompok tani malah disalahartikan.

“Sebenarnya pembentukkan kelompok tani ini merupakan tugas dari penyuluh. Bisa jadi, penyuluh pertanian di daerah ini tidak ada, mungkin disebabkan lahan ini dikelilingi oleh rumah sehingga lahan ini tidak diketahui,” imbuhnya.

Petani lain Dg (daeng). Baco mengungkapkan dirinya tidak tahu menahu tentang kelompok petani. Dg. Baco juga tidak tahu-menahu manfaat dari pembentukkan kelompok tani.

Selama ini Dg Baco hanya bertani secara mandiri mulai dari meminta bibit pada petani lain dan juga obat untuk padinya dibeli sendiri.

Hingga cara bertanam yang baik Dg. Baco pelajari secara turun temurun dari orang tuanya. Untuk masalah irigasi untuk sawahnya Dg. Baco mengandalkan curah hujan yang cukup untuk mengairi sawahnya. Ini disebabkan karena tidak adanya pompa air untuk mengairi sawahnya.

Dg.Baco menjelaskan saya tidak cukup tahu tentang manfaat dari kelompok tani ini. Masalah penyuluhan saya tidak mengerti tentang itu.

“Apa itu kelompok tani dan juga apa manfaatnya kalau saya gabung dengan kelopok tani. Kalau masalah penyuluh pertanian, saya tidak pernah melihat dan mendengar adanya sosialisasi. Dulu pernah ada penyuluh, tapi lama sekali sudah tidak pernah lagi ada,” pungkasnya.

Seorang petani di Manggala, Sampara tengah sibuk membuat pancing-Foto Nurul Rahmatun Ummah.
Baca Juga
Lihat juga...