banner lebaran

Petani Way Lubuk Manfaatkan Cocopeat Sebagai Media Semai

197

LAMPUNG — Mencukupi kebutuhan akan beragam bibit sayuran bagi para petani secara cepat membuat salah satu petani, Sarwo Edi Santoso (38) di Dusun Bandaragung Kelurahan Way Lubuk Kecamatan Kalianda Lampung Selatan memanfaatkan media semai mempergunakan cocopeat.

Sarwo, demikian ia dipanggil menyebutkan, media tanam cocopeat berasal dari hasil pengolahan serat serabut kelapa sehingga tersisa serbuk. Media semai tersebut mudah menyerap dan mempertahankan kandungan air serta mengandung unsur Kalium yang bisa diserap benih serta tidak mudah kering dibanding tanah.

Cocopeat juga mudah terurai di dalam tanah saat selesai dipergunakan sehingga tidak menjadi limbah. Hal tersebutlah yang menjadi dasar Sarwo beralih sejak 2014 dari sebelumnya menggunakan media tanah dengan campuran pupuk kompos.

“Saya menerapkan pola pembenihan mempergunakan sebuah tempat menyerupai green house untuk menyiapkan berbagai jenis bibit yang akan saya tanam di antaranya cabai keriting, tomat, berbagai sayuran dan rencananya akan saya tanam bunga,” terang Sarwo Edi Santoso saat ditemui Cendana News pada area pembenihan berbagai jenis sayuran mempergunakan media tanam cocopeat di Kelurahan Way Lubuk Kecamatan Kalianda, Sabtu (13/1/2018).

Cocopeat ditempatkan dalam media semai untuk memperoleh bibit berbagai jenis tanaman sayur berupa tomat, cabai, sawi serta jenis sayuran lain [Foto: Henk Widi]
Bahan cocopeat yang akan diaplikasikan sebagai media semai disebutnya semula diperoleh dari perusahaan pengolah serabut kelapa secara gratis. Namun semenjak kebutuhan meningkat dari masyarakat dijual dengan sistem karungan seharga Rp25.000 perkarung dengan berat sekitar 25 kilogram.

Memanfaatkan tray semai berbentuk persegi panjang dengan jumlah 100 lubang Sarwo saat ini bisa memproduksi bibit rata rata 20.000 hingga 22.000 benih, di antaranya jenis benih cabai keriting, tomat, selada serta beberapa jenis sayuran lain.

“Meski sangat baik untuk penyemaian, penambahan unsur nutrisi tetap dipergunakan untuk menghasilkan benih yang berkualitas,” tambahnya.

Disebutkan, ia juga menerima permintaan benih cabai siap tanam yang dijualnya seharga Rp350.000 per seribu benih. Permintaan yang tinggi kunci utamanya terletak pada penyediaan bibit sehingga ia terus melakukan proses penyediaan bibit secara berkelanjutan menggunakan media cocopeat agar regenerasi tanaman cabai keriting dan berbagai jenis sayuran bisa terpenuhi.

Sebagai stok untuk media semai, sebagian cocopeat dalam karung dan sebagian sudah dipress disebutnya disiapkan dalam gudang khusus mengantisipasi kekurangan bahan cocopeat untuk media semai.

Selain memanfaatkann media semai dengan cocopeat laki laki yang pernah bekerja di perusahaan otomotif tersebut mengaku sistem pertanian yang diterapkannya merupakan pertanian organik yang meminimalisir penggunaan bahan kimia.

Berkat pola tanam organik bahkan ia kerap menjadi rujukan petani lain dalam pola pertanian yang efesien dalam biaya operasional sekaligus hasil panen maksimal.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.