Pikirkan Nasib Nelayan, Soeharto Perintahkan Tenggelamkan Bus Kota

370

JAKARTA — Di sela-sela bunga karang yang tumbuh lebat melilit badan bus, masih terlihat jelas tulisan rute salah satu bus yang ditenggelamkan itu: Grogol-Cililitan. Tampak, di sejumlah bus-bus itu berseliweran ikan-ikan besar.

Hioe Husni Wirajaya, seorang pengelola Restoran Seafood di Kemayoran, Jakarta, ingat betul apa yang dilihatnya 10 tahun kemudian pasca-Pak Harto memerintahkan menenggelamkan 28 bangkai bus kota hingga ke Ujung Karawang pada 1985.

Quick, begitu Pak Harto biasa memanggil Hioe Husni Wirajaya, menyimpan kenangan berarti bersama Presiden ke-2 RI Soeharto. Kenangan tersebut ia tulis dalam salah satu bab di buku berjudul ‘Pak Harto: The Untold Stories (2012)’.

Quick kali pertama bertemu Pak Harto, saat dirinya berusia 33 tahun. Ia mendapati sisi lain Soeharto yang begitu perhatian terhadap nasib rakyat kebanyakan, seperti halnya para nelayan.

“Suatu hari di awal tahun delapan puluhan, Pak Harto mendapati laporan dari Dirjen Perikanan, bahwa ikan di Teluk Jakarta dikhawatirkan punah akibat keracunan merkuri. Pak Harto kemudian menyuruh saya mempelajari sebuah buku yang membahas tentang rumpon,” tulis Maliki, dalam buku tersebut.

Quick lantas mempelajarinya sebagaimana keinginan Soeharto tersebut. Rumpon, kata Quick, adalah semacam rumah yang aman untuk jenis ikan yang berkembang biak secara alamiah di laut lepas.

“Beliau ingin saya menguji coba pembuatan rumpon payaos yang diapungkan seperti rakit, tempat yang disukai ikan-ikan palagis, yaitu ikan-ikan yang berenang di permukaan laut, seperti ikan tengiri dan lainnya,” kata Quick.

Pak Harto kembali memberi buku kepada Quick. Sebuah buku tentang membuat rumpon di dasar laut, untuk rumah-rumah ikan besar seperti kakap. Yakni, dengan menenggelamkan benda-benda besar berongga yang tidak terpakai lagi, seperti rongsokan becak, bangkai bus, dan sebagainya ke dalam laut. Di tempat itulah nantinya ikan-ikan kakap bertelur dan berkembang biak.

“Pak Harto ingin menggunakan teknik rumpon itu untuk meningkatkan tangkapan nelayan setempat,” imbuh Quick.

Harapan Pak Harto, kata Quick, jika kita buatkan rumpon-rumpon besar, pada musim angin Barat dan paceklik ikan pun, nelayan tetap bisa menangkap ikan.

Diceritakan Quick, sekitar seribu bangkai becak diceburkan ke perairan Teluk Jakarta, menjadi rumpon pertama yang mulai menghasilkan ikan empat bulan kemudian.

“Kebahagiaan nelayan yang meningkat kesejahteraannya, mendorong Pak Harto menambah rumpon di dekat pulau-pulau lainnya. Saya masih ingat benar, tahun 1985 Pak Harto memerintahkan menenggelamkan 28 bangkai bus kota hingga ke Ujung Karawang,” kenang Quick.

Bermodalkan kedekatan dengan Sang Presiden, Quick suatu hari di tahun 1994 saat menemani Pak Harto memancing, melaporkan kehidupan nelayan Pulau Tunda yang terletak paling Utara Kepulauan Seribu.

Dilaporkan Quick, kondisi kehidupan mereka masih prasejahtera. Berbeda dengan  warga pulau-pulau lainnya, yang sebagian sudah punya kapal sendiri dan sudah ada gedung-gedung.

“Tetapi, saya dilapori, bahwa kondisi penduduk Kepulauan Seribu sudah sejahtera semua,” kata Quick menirukan ucapan Soeharto waktu itu.

Pak Harto kemudian memerintahkan ajudan memeriksa keadaan di Pulau Tunda. “Hasilnya benar seperti apa yang saya laporkan, rumah-rumah nelayan di sana masih berdinding gedek,” tuturnya.

Dari situ, Pak Harto lalu merencanakan pembuatan rumpon dengan cermat dan penuh perhitungan. Lengkap dengan jadwal penyerahan rumpon-rumpon kepada penduduk Pulau Tunda.

Selang delapan bulan kemudian sesuai perencanaan, pada 27 April 1995 dilakukan acara penyerahan rumpon kepada masyarakat pulau.

Sabtu pagi itu, seusai acara tersebut, Pak Harto mendahului pulang ke Jakarta. Sebelum pulang sempat menitipkan uang untuk anak-anak kapal yang belum sempat diberikannya langsung pagi itu.

“Beliau selalu seperti itu, tidak pernah melupakan orang-orang kecil yang membantunya,” tutur Quick.

Soal perhatian Pak Harto ini, Quick juga teringat saat Pak Harto memergoki kegiatan incognitonya ternyata mendapat sebuah kapal perang melintas di depan. Tak pelak mengundang tanya Pak Harto.

“Itu kapal perang siapa?” tanya Pak Harto, dan dijawab sang ajudan, “Siap, kapal pengamanan Pak.”

Pak Harto menimpali, “Ini kan kegiatan incognito. Mereka kan punya keluarga, biarkan istirahat dengan keluarganya, ini hari libur,” kata Pak Harto yang beberapa saat kemudian memerintahkan agar siapkan dua puluh ekor ikan hasil pancingannya untuk mereka.

Begitulah cerita kenangan Quick bersama Presiden ke-2 RI Soeharto yang perhatian terhadap nasib nelayan saat itu.

Quick yang kali pertama bertemu Pak Harto di usia 33 tahun yang sejak remaja suka memancing ikan-ikan besar di laut lepas, terutama di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu.

Dalam Soeharto.co, juga dijelaskan perhatian Pak Harto terhadap nasib para nelayan. Suatu ketika dalam temu wicara dengan para nelayan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, di Pulau Bulat, Minggu pagi, Presiden Soeharto mengatakan, pemerintah akan mengimbau para pengusaha untuk ikut memperhatikan perbaikan nasib para nelayan.

Presiden yang baru kembali memancing ikan di perairan sekitar pulau itu mengharapkan, para pengusaha baik yang tergabung dalam himpunan­-himpunan pengusaha atau pun ikatan wanita pengusaha, untuk ikut menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi para nelayan dalam meningkatkan taraf hidup mereka.

Presiden yang mengenakan celana pendek hijau muda dan kaos lengan pendek warna abu-abu dalam dialognya dengan para nelayan itu, juga menekankan pentingnya para nelayan itu menjadi anggota koperasi.

“Dengan kerja sama secara gotong-royong melalui koperasi ini, maka kesulitan yang dihadapi oleh para nelayan dalam masa-masa paceklik dapat diatasi,” kata Kepala Negara.

Dalam konteks pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, terkait nasib para nelayan menjadi perbincangan hangat saat ini, di antaranya terkait kontroversi soal reklamasi pulau dan polemik perlu tidaknya dilakukan kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan yang selama ini dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Dua hal itu menyedot perhatian publik. Karena bukan saja semata soal bagaimana nasib para nelayan selanjutnya, tetapi juga menyangkut kewibawaan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan berkemajuan pada sektor perikanan.

Situasi “konfliktual” mengemuka. Wapres JK dan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan meminta Menteri KKP, Susi Pudjiastuti, menghentikan kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan dengan menderetkan sejumlah reasoning-nya. Sementara, publik menilai apa yang dilakukan Susi sudah tepat dan profesional, bahkan perlu diteruskan.

Pun juga soal reklamasi Teluk Jakarta, tampak ketidakselarasan antara pemerintah pusat dan pemerintah DKI di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno.

Sebelumnya, juga sempat ada bongkar pasang Menteri Koordinator Kemaritiman dari Rizal Ramli kepada Luhut di masa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Namun, kembali lagi soal kenangan Qiuck. Suatu kali ia menggelar lomba memancing ikan yang diikuti oleh Pak Harto dan Ibu Tien. Siapa yang menang?

Pak Harto yang lebih sensitif pada gerakan ikan, ungkap Quick, lebih dulu berhasil menaikkan seekor ikan. Ibu Tien terlihat lebih sabar, namun begitu menggulung tali pancing, sekaligus naik dua ekor ikan.

“Suasana menjadi seru. Pak Harto dan Ibu Tien bergantian menaikkan ikan-ikan pancingannya. Pas masing-masing berhasil memancing 24 ekor ikan, perlombaan menjadi seri dan Mas Bambang Tri menghentikannya,” cerita Quick.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.