Produsen Gula Kelapa Lamsel Menikmati Kenaikan Harga

323

LAMPUNG — Kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok berupa beras, cabai serta tepung tapioka serta kebutuhan masyarakat di sejumlah pasar tradisional berimbas pada kenaikan harga gula merah, yang diproduksi oleh pembuat gula merah berbahan baku kelapa.

Adoniah (40), seorang produsen gula merah menuturkan ketika di sejumlah pasar terjadi kenaikan harga, maka ia ikut menaikkan harga gula merah lebih tinggi sebesar Rp2.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya.

Harga tersebut merupakan harga tingkat pembuat gula kelapa yang selanjutnya akan diambil oleh sejumlah pengepul gula merah yang akan menjualnya ke pasar tradisional di wilayah Lampung sebagian dijual ke wilayah Provinsi Banten.

Kenaikan harga dari semula Rp8.000 perkilogram menjadi Rp10.000 per kilogram disebutnya menyesuaikan kenaikan kebutuhan pokok yang berimbas kepada produsen gula kelapa.

“Selain musim penghujan berimbas tingkat kesulitan pembuatan gula kelapa yang semakin sulit akibat proses menderes manggar kelapa harus naik secara manual dengan kondisi licin,bahan bakar kayu juga sulit kering,” terang Adoniah.

Warga Dusun Kubang Gajah, Desa Kalawi ini ketika ditemui Cendana News tengah melakukan proses pengolahan gula kelapa di belakang rumahnya, Jumat sore (19/1/2018)

Selain tingkat kesulitan proses pemanjatan saat musim hujan dengan batang kelapa yang licin, bahan baku kayu yang sulit kering selama musim penghujan kenaikan harga kebutuhan pokok lain disebutnya menjadi alasan utama kenaikan harga gula kelapa di tingkat produsen.

Sebagian besar produsen gula kelapa mengandalkan kelapa dalam dan kelapa hibrida melalui sistem sewa, yang mulai naik pada awal tahun ini.

Gula kelapa atau dikenal dengan gula merah merupakan hasil pengolahan penderesan manggar atau bakal buah kelapa yang ditampung dalam jerigen khusus.

Air proses menderes yang sudah menjadi legen kerap diambil pada sore hari oleh sang suami. Sementara proses merebus hingga mencetak air legen menjadi gula kerap dilakukan oleh sang isteri.

“Proses mengolah air legen menjadi gula sebetulnya hanya setengah jam namun menunggu jumlah yang banyak hingga enam puluh liter kerap butuh waktu dua hingga tiga hari,” papar Adoniah.

Setelah terkumpul cukup banyak dengan jumlah mencapai 60 liter air hasil proses menderes direbus menggunakan dua kuali besar. Proses perebusan memanfaatkan bahan kayu bakar.

Berdasarkan pengalamannya ia menyebut dari sebanyak 60 liter bisa mendapatkan gula merah sebanyak 25 hingga 30 kilogram, yang dikumpulkan dalam kotak kotak khusus menunggu pengepul mengambil gula tersebut.

Pengepul diakuinya akan mengambil saat gula merah miliknya terkumpul hingga 50 kilogram bahkan bisa mencapai 100 kilogram tergantung hasil produksi penderesan manggar kelapa sekaligus kondisi cuaca.

Saat kondisi cuaca hujan meski sulit melakukan proses penderesan namun ia menyebut produksi air legen lebih meningkat dibandingkan saat musim kemarau.

Kenaikan harga gula kelapa cukup menguntungkan, karena sebelumnya dengan harga Rp8.000 per kilogram dirinya hanya memperoleh uang sebesar Rp400 ribu untuk sebanyak 50 kilogram gula merah.

Sementara dengan jumlah yang sama dengan harga Rp10.000 dirinya bisa memperoleh Rp500 ribu dari hasil penjualan gula kelapa ke pengepul. Selain dijual ke pengepul, gula merah hasil produksinya kerap dijual ke pedagang keliling dan sejumlah warung.

“Sebetulnya dari segi nominal memang lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya namun dengan kebutuhan pokok yang naik kami tetap masih kesulitan,” tuturnya.

Kondisi tersebut terjadi karena wilayah Kelawi merupakan wilayah perkebunan kelapa, kelapa sawir, kakao dan tanaman perkebunan lain tanpa ada wilayah untuk lahan pertanian padi.

Berbagai kebutuhan pokok bahkan harus diperoleh warga termasuk Adoniah dan para produsen gula kelapa dengan menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer.

“Kalau jarak pasar dan pusat keramaian dekat kami akan menjual gula merah ini langsung di pasar tapi jarak yang jauh membuat pengepul yang datang ke kampung kami,” lanjut Adoniah.

Selain lokasi yang jauh di pelosok akses masuk ke wilayah tersebut yang melewati area perkebunan kelapa sawit dengan jalan paving blok serta rabat beton kerap licin dan sulit dilalui oleh kendaraan.

Dalam kondisi hujan sebagian akses jalan bahkan kerap digenangi air khususnya akses menuju ke Kampung Merut yang susah dilintasi saat musim hujan oleh kendaraan.

Sebagian kelapa dalam dan kelapa hibrida di Dusun Legok Noong Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni -Foto: Henk Widi.
Baca Juga
Lihat juga...