Program Nelayan Tangguh Dinilai Jitu Atasi Ragam Persoalan

184

PASAMAN BARAT – Program Kesehatan Nelayan Tangguh (KNT) yang dijalani oleh UPTD PPP Carocok Tarusan, di Pelabuhan Perikanan Sasak, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, mendapatkan respon yang positif dari para nelayan dan juga pemerintah daerah setempat.

Buktinya, setelah berjalan satu tahun ini KNT telah mampu mengubah pola pikir nelayan pada umumnya, yang dulunya belum mengerti bagaimana cara mengatasi kecelakaan-kecelakaan kecil sewaktu bekerja menangkap ikan ke laut, kini melalui KNT hal tersebut bisa diatasi dengan mudah oleh para nelayan.

Ketua Nelayan di Pelabuhan Perikanan Sassak Pendra mengatakan, melalui program tersebut telah banyak memberikan pemahaman kepada nelayan tentang tata cara menanggulangi bila terjadi kecelakaan kerja.

Sebelumnya ketika program KNT belum ada di daerahnya, ketika ada nelayan yang mengalami luka, kebiasaan nelayan mengobati dengan cara memoleskan oli yang ada di kapal. Padahal, efek dari menggunakan oli pada luka sangat tidak baik bagi kesehatan.

“Saat ini program KNT telah berjalan setahun di daerah Sasak. Kami dari nelayan sangat merasakan manfaat adanya KNT itu. Apalagi pemerintah di sini mendukung adanya KNT untuk nelayan Sasak,” ujarnya, ketika dihubungi dari Padang, Senin (29/1/2018).

Selain itu, ia juga menyebutkan, kebiasaan nelayan yang berlebihan dalam mengkonsumsi mie instan dan minum-minuman sachet seperti kopi dan cappucino, yang mengandung kafein ketika melaut. Dengan adanya KNT, sekarang para nelayan dapat meminimalisir kebiasaan tersebut, karena nelayan telah memahami dampak negatif terhadap kesehatan, sehingga kini tidak lagi mengkonsumsi secara berlebihan.

Tidak hanya itu, Camat Sasak Ranah Pasisie Nur Fauziah Zein menyampaikan, bahwa program KNT sangat baik dalam hal peningkatan kesehatan nelayan di Sasak, apalagi Kecamatan Sasak Ranah Pasisie mayoritas mata pencarian penduduknya adalah nelayan. Ia melihat dengan adanya progaram tersebut, maka penyakit yang selama ini tanpa disadari diderita oleh nelayan, dengan adanya pemeriksaan rutin dari tim kesehatan atau pun kader yang telah ditunjuk, penyakit yang diderita nelayan tersebut akan secara cepat dapat teratasi.

“Saya selaku camat di sini tentunya menginginkan masyarakat dalam keadaan yang sehat. Terutama untuk nelayannya, sebab memang sebagaian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai nelayan,” sebutnya.

Senada dengan Penanggung Jawab Program Pos KNT dari Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Maryeni Hendra, Amd. Keb mengatakan, setelah beberapa kali pihaknya melaksanakan pembinaan dan pemeriksaan rutin terhadap nelayan di PPI Sasak, banyak ditemukan penyakit pada nelayan Sasak antara lain adalah penyakit kulit, gatal-gatal, darah tinggi, bahkan ada juga yang sering batuk-batuk.

Namun setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, keluhan nelayan pada umumnya sudah berkurang secara drastis. Berdasarkan tingkat kejadian menunjukan bahwa masyarakat pekerja nelayan banyak mengalami penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja, yang dapat menurunkan produktivitas kerja.

Dari data tahun 2015-2016 terdapat 2 orang nelayan yang meninggal di laut, 1 orang mengalami luka serius akibat kelalaian kerja dan 1 orang mengalami stroke di laut karena tidak pernah memeriksakan kesehatan.

Untuk itu, program KNT tersebut merupakan wahana pelayanan kesehatan kerja yang berada di tempat kerja informal maupun formal (seperti di Pelabuhan Perikanan), yang dikelola oleh pekerja itu sendiri (kader) dan berkoordinasi dengan Puskesmas setempat, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja, untuk meningkatkan produktivitas kerja sehingga masalah kesehatan pada pekerja, dapat dideteksi secara dini dan pekerja dapat memperoleh pelayanan kesehatan kerja yang memadai.

Adapun jenis program pelayanan kesehatan kerja yang dilaksanakan yaitu pendidikan dan penyuluhan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Pemeriksaan kesehatan (awal, berkala, khusus). Pengendalian bahaya (Fisik, Kimia, Biologi, Psikologi). Surveilans Penyakit Akibat Kerja (PAK). Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK), Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan penyakit lainnya. Melaksanakan rujukan ke Puskesmas terdekat dan monitoring Lingkungan Kerja.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri mengatakan, program KNT merupakan program sinergi Dinas Kelautan dan Perikanan dengan Dinas Kesehatan yang bertujuan untuk menjaga para nelayan tetap dalam kondisi yang sehat.

“KNT itu tidak hanya ada di Pasaman Barat, tetapi juga ada beberapa deerah lainnya, namun yang paling bagus berjalan itu ya ada di Sasak, Pasaman Barat,” katanya.

Menurutnya, aktivitas sebagai seorang nelayan memiliki resiko kesehatan yang cukup besar. Apalagi yang namanya melaut, malamnya itu bukannya istirahat, tapi tetap bekerja yakni menangkap ikan. Apalagi angin malam yang berhembus di lautan terbilang cukup kuat, sehingga lama kelamaan fisik nelayan bisa drop. Hal inilah yang dianggap perlu adanya KNT bagi nelayan di Sumbar.

Belum lagi soal resiko kecelakaan, seperti luka dan yang lainnya. Saat berada di atas kapal hal tersebut tidak dapat dihindari. Karena luka bisa saja disebabkan akibat nilon yang tajam, terkena pisau, atau bahkan terkena sirip ikan. Apabila tidak ada pemahaman tentang penanganan luka, maka dari nelayan akan bingung untuk melakukan upaya perawatan dari luka tersebut.

Aktivitas para nelayan tradisional yang ada di Muara Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat/Foto: M. Noli Hendra
Baca Juga
Lihat juga...