PU Sikka Menimbun Batu di Pantai Waipare

251

MAUMERE – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka menimbun kawasan pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kota Maumere dengan bebatuan. Tumpukan batu tersebut diharapkan dapat menjadi pencegah abrasi meski hanya bersifat sementara.

Penahan ombak sementara tersebut dibutuhkan untuk mencegah rumah warga di Waipare Kecamatan Kangae menjadi korban abrasi. Setiap kali memasuki akhir Januari hingga Februari di kawasan tersebut angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan terjadinya abrasi. 

“Pembuangan batu kami lakukan sebagai penahan ombak sementara. Sudah ada anggaran dari APBN untuk pembangunan pemecah gelombang sepanjang pantai utara kota Maumere sekitar 3 kilometer,” ujar Kepala Dinas PU Kabupaten Sikka Petrus Tommy Lameng Senin (29/1/2018).

Perumahan warga di pesisir pantai Waipare desa Watumilok yang terancam rubuh akibat abrasi dan ombak besar yang melanda pesisir pantai utara Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Tommy menjelaskan, pembuatan penahan gelombang laut tersebut mengikuti instruksi dari Bupati Sikka. Anggaran yang dipergunakan adalah dari pos dana tanggap darurat. “Dananya akan mempergunakan pos dana tanggap darurat dari BPBD Sikka. Ini kondisi darurat, agar hantaman ombak tidak merusak rumah warga. Bila pemecah ombak sudah dibangun, maka tentu hempasan akan berkurang saat mendekati bibir pantai,” jelasnya.

Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera kepada Cendana News mengatakan, penimbunan batu di kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi penahan gelombang meski hanya bersifat sementara. Sebelum pemecah gelombang terbangun, dibutuhkan solusi meski hanya bersifat sementara untuk mencegah abrasi.

Pemerintah disebutnya, sudah menyiapkan anggaran untuk membangun pemecah gelombang dengan dana APBN. Pemecah gelombang dipilih agar masyarakat masih bisa menikmati keberadaan pantai di kawasan tersebut. Sementara jika yang dibangun tanggul, maka masyarakat tidak akan bisa melihat lagi keberadaan pantai.

“Perahu nelayan juga masih bisa leluasa untuk mendarat di pantai. Biaya pemecah gelombang jauh lebih murah dan tidak mengganggu keindahan pantai agar masyarakat masih bisa memafatkannya untuk rekreasi,” tuturnya.

Kepala BPBD Sikka Muhammad Daeng Bakir yang ditemui Cendana News menyebut, pihaknya sedang memproses pencairan dana tanggap darurat untuk pembuatan penahan gelombang sementara. Saat ini sudah dilakukan pengusulan ke BNPB untuk pencairan anggaran tersebut.

Pembuatan penahan gelombang sementara menjadi keadaan darurat, untuk mencegah bencana abrasi yang bisa mengancam rumah warga di pesisir pantai. “Untuk beberapa kerusakan seperti dua cross way  memang sudah bisa langsung diperbaiki agar pengendara bisa melewati jalan raya utama. Kalau abrasi kami memang harus menimbun bebatuan untuk sementara untuk mencegah abrasi semakin parah,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.