Pupuk Subsidi Terlambat, Petani Penengahan Beralih ke Pupuk Nonsubsidi

433

LAMPUNG – Sejumlah petani padi dan jagung yang tergabung dalam anggota kelompok tani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dari agen penjual pupuk akibat keterlambatan distribusi dampak dari belum ditebusnya kuota kebutuhan pupuk bagi petani.

Hariyono (36) penanam jagung jenis NK di Desa Klaten Kecamatan Penengahan menyebut tanaman usia satu bulan miliknya semula akan dipupuk menggunakan pupuk subsidi, namun belum adanya pupuk subsidi membuat ia memilih membeli pupuk nonsubsidi.

Harga pupuk nonsubsidi yang lebih mahal diakui Hariyono terpaksa dibeli karena ia menyebut tanaman jagung yang biasa dipupuk saat memasuki usia tiga pekan sudah terlambat satu pekan saat jadwal pemupukan tahap pertama.

Risiko merugi dengan hasil tanaman tidak maksimal disebut Hariyono membuat ia memilih membeli pupuk jenis Ponska, SP36 dan Urea yang memiliki selisih harga lebih mahal berkisar Rp20.000 hingga Rp40.000 per kilogram bahkan bisa lebih dengan pembelian sistem kredit panen.

“Kalau pupuk bersubsidi dibeli dengan uang muka dan bisa dilunasi menjelang penebusan, tetapi pupuk nonsubsidi bisa saya peroleh terlebih dahulu bayarnya, saat panen meski harga lebih mahal,” terang Hariyono, salah satu petani jagung warga Desa Klaten, saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemupukan bersama istrinya, Senin (29/1/2018).

Giyono, mencampur pupuk NPK,Urea dan SP nonsubsidi untuk proses pemupukan tanaman jagung miliknya [Foto: Henk Widi]
Hariyono bahkan menyebut sistem tersebut umum digunakan petani jagung, kakao, sawit dan padi sebelum penerapan sistem billing atau pembelian melalui kelompok dan dibatasi sesuai dengan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) sesuai luasan lahan. Namun pasca penerapan sistem billing dalam pembelian pupuk, Hariyono justru mengaku kerap terjadi keterlambatan distribusi pupuk padahal masa pemupukan sudah lewat.

Khawatir akan kondisi tanaman tak subur berdampak kurang produktifnya tanaman ia bahkan membeli pupuk Ponska nonsubsidi seharga Rp165.000 per sak atau ukuran 50 kilogram dengan harga pupuk subsidi hanya seharga Rp130.000, pupuk urea nonsubsidi dibeli dengan harga Rp130.000 dengan harga subsidi Rp115.000 per sak dan pupuk SP36 nonsubsidi dijual dengan harga Rp145.000 serta bersubsidi seharga Rp120.000 per sak.

“Saya dan petani lain tak masalah harganya mahal seperti dulu, asalkan barang ada karena kita mengejar waktu agar tidak terlambat memupuk. Tidak seperti sekarang harga murah bersubsidi namun justru lambat distribusinya,” terang Hariyono.

Anggota kelompok tani Tunas Makmur tersebut mengaku, dengan kebutuhan pupuk total mencapai sekitar 4 ton dirinya terpaksa menerapkan sistem bayar panen (yarnen) untuk membeli pupuk nonsubsidi.

Hariyono dan istrinya melakukan proses pemupukan pertama tanaman jagung miliknya di Desa Klaten Kecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Kemudahan tersebut diakuinya dilakukan oleh agen penjual pupuk untuk membantu petani yang tidak terakomodasi dengan kuota pupuk per kelompok yang hanya dijatah sekitar 10 ton untuk semua jenis pupuk. Penggunaan pupuk organik tambahan bahkan terpaksa dilakukan Hariyono untuk menambah kesuburan lahan jagung miliknya.

Kondisi serupa juga dialami Giyono (40) petani jagung di Desa Pasuruan yang terpaksa membeli pupuk nonsubsidi untuk lahan seluas setengah hektar. Kebutuhan pupuk diakuinya kerap terlambat terutama untuk pupuk bersubsidi dengan kendala sebagian anggota kelompok belum melunasi pembayaran penebusan kuota pupuk. Beberapa anggota kelompok tani bahkan harus berhutang agar pupuk bisa ditebus dan cepat didistribusikan.

“Kendala tidak terbayar kerap ditalangi oleh pemilik uang dalam hal ini agen sehingga kami akhirnya membeli dari agen meski pupuk bersubsidi,” beber Giyono.

Babe (36) petani padi di Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan bahkan memilih mempergunakan pupuk organik untuk pemupukan tahap pertama padi varietas Ciherang miliknya. Penggunaan pupuk kimia baik subsidi maupun nonsubsidi yang kerap datang terlambat dengan harga mahal membuat dirinya mengaplikasikan penggunaan pupuk organik.

Selain mudah dibuat, penggunaan pupuk organik sekaligus melakukan penghematan biaya pembelian pupuk, hasilnya juga tak kalah dengan pupuk kimia. Ia bahkan mengaplikasikan penggunaan pupuk cair berbahan organik yang dibuat secara khusus dari beberapa jenis tanaman dan air seni ternak sapi.

Lahan pertanian jagung dan padi sawah di dekat Jalan Tol Trans Sumatera STA 18 Desa Klaten Penengahan [Foto: Henk Widi]
Baca Juga
Lihat juga...