banner lebaran

Rivan Sogelaka, Remaja Sikka Peduli Hak Anak

108

MAUMERE –– Menjadi seorang pemimpin menjadi sebuah mimpi dan cita-cita yang sangat membanggakan bagi remaja. Dengan menjadi pemimpin maka seseorang bisa memberi teladan dan mengajak orang lain untuk berbuat dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Mimpi menjadi pemimpin itu telah tertanam dalam diri Arnldus Rivan Sogelaka, siswa kelas XI IPA 1 SMAK John Paul II. Semangat itu membuat dirinya selalu menjadi yang terbaik di dalam kelompok organisasi yang diikutinya agar bisa dipercaya menjadi ketua organisasi tersebut.

“Saya merupakan mantan Ketua Forum Anak Sikka (FAS) tahun 2013 sampai 2014 dan pernah menjadi Duta Anak Sikka, NTT dan Nasional sehingga bisa menghantar saya berkeliling ke berbagai daerah dan berbicara tentang hak anak,” sebut Rivan sapaannya saat ditemui Cendana News, Kamis (11/1/2018).

Selama menjadi ketua dan aktif di Forum Anak Sikka, lelaki kelahiran Waigete 7 September 2000 ini selalu memperjuangkan hak anak, kehidupan dan tumbuh kembang anak serta partisipasi anak dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Dia harus berkeliling ke Kupang, Labuan Bajo, Mataram dan Bandung untuk berbicara di berbagai forum dan bertukar informasi.

“Saya juga ikut terlibat dalam duta Genre atau Generasi Berencana tahun 2017 dan mengkuti perlombaan dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait Keluarga Berencana dan meraih juara II tingkat provinsi NTT,” sebutnya.

Diperbudak Teknologi

Rivan melihat anak muda sekarang diperbudak teknologi dengan nafsu menjadi pengasuh. Menurutnya, lebih banyak anak muda sekarang dengan adanya teknologi mereka cenderung terjerumus ke dalam hal-hal negatif, yang dikenal dalam bahasa BKKBN dengan 3 masalah besar yakni narkotika, pergaulan bebas dan HIV dan AIDS.

“Teknologi sering disalahgunakan sehingga berdampak kepada hal-hal negatif yang bisa menjerumuskan anak ke dalam pergaulan bebas yang merusak masa depan anak itu sendiri,” tuturnya.

Yang menjadi kendala terbesar dalam hal perkembangan fisik dan mental anak saat ini kata Rivan yakni kekerasan terhadap anak yang sangat besar dan cenderung mengalami peningkatan. Kepedulian terhadap hak anak di masyarakat kita masih sangat minim.

“Dunia di mata anak saat ini ibarat kotoran telinga yang mana keberadaan mereka diharapkan dibuang secara percuma, menjadi pemangsa bagi predator demi kepuasan jasmani semata. Anak menjadi sasaran penyalahgunaan, eksploitasi dan belum lagi menjadi korban pemerkosaan yang membuatnya menderita, mengalami tekanan jiwa, stress dan trauma,” sesalnya.

Gambaran menyeluruh tentang kekerasan terhadap anak sebutnya sangat memprihatinkan. Pada 2016 terjadi 58 persen kekerasan terhadap anak.Harusnya ini menjadi konsen bersama sebab anak merupakan masa depan bangsa.

“Bagaikan petir yang bersahutan seperti kata orang-orang pintar bahwa dimana setiap berita di media-medis sosial dan lainnya yang menjurus kepada kekerasan terhadap anak banyak sekali terjadi. Kekerasan terhadap anak pun hanya berganti antara pelaku dan korbannya,” sebutnya.

Bila dilihat kata Rivan, dari wadah yang diberikan kepada anak dan remaja untuk menempa diri banyak juga terdapat di Sikka termasuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.Tetapi keterlibatan mereka masih sangat minim dan ini yang sangat disayangkan.

“Semua orang tua ingin agar anaknya menjadi baik bukan saja dari segi intelektualnya saja.Mimpi besar saya agar bisa menjadi seorang pemimpin supaya bisa menelurkan dan mewartakan kebaikan bagi semua orang,” pungkasnya.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.