Sensasi Manisnya Sari Kayo Sipuluik Khas Minang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Sari Kayo Sipuluik yang memiliki bentuk seperti kue lapis. Sari Kayo Sipuluik ini lebih didominasi oleh Sari Kayo ketimbang beras ketannya/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Dengan memiliki kurang lebih delapan ratus nagari atau desa, kuliner atau jajanan tradisional yang ada di ranah Minang, Sumatera Barat, juga memiliki keberagaman. Bahkan hampir di setiap nagari atau desanya memiliki kuliner tradisional yang terbilang khas.

Sebut saja pensi yang terkenal dari daerah Maninjau Kabupaten Agam, dan di wilayah tersebut juga terdapat Dadiah yang merupakan susu kerbau yang dimasukan ke dalam bambu. Lalu Kue Galang yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, serta di daerah yang sama ada Putu Balai Kamih.

Namun, kali ini Cendana News membahas makanan yang disebut Sari Kayo Sipuluik dengan bentuknya berwarna coklat yang dilapisi oleh puluik (ketan putih).

Dari tampilan saja, akan membuat seseorang tergugah untuk mencicipinya. Kenapa tidak, dari bentuk lapisan Sari Kayo yang berwarna coklat itu akan terbayangkan seakan hendak memakan agar-agar, yang kekenyalannya membuat ketagihan untuk terus menyatapnya.

Belum lagi untuk ketan putih yang telah di masak, rasa manis Sari Kayo dipadukan dengan rasa ketan putih, akan membuat rasa Sari Kayo Sipuluik ini memiliki sensasi yang menakjubkan.

Kuliner Sari Kayo Sipuluik ini hampir ada di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar, hanya saja untuk kreasi tampilannya hampir berbeda, seperti yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, Sari Kayo Sipuluik nya disajikan secara terpisah.

Untuk sari kayonya dibuat secara tradasional yakni dibungkus menggunakan daun pisang, lalu disajikan pula Sipuluik atau nasi ketan putihnya. Cara makannya, mengambil bagian Sari Kayo dengan Sipuluik sedikit demi sedikit, dan memakannya secara bersamaan.

Sementara untuk membuat Sari Kayo ini yang dikenal dengan rasa manisnya itu, menggunakan bahan gula merah bersama santan kelapa. Rasa manis gula merah dimasak dengan putihnya santan kelapa. Perpaduan warna gula merah dan putihnya santan kelapa, melahirkan warna coklat yang bercita rasa yang manis, itu lah yang disebut dengan Sari Kayo.

Sementara untuk di Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat, yakni Kota Padang, juga memiliki jajanan yang disebut Sari Kayo Sipuluik, namun berbeda dengan Sari Kayo Sipuluik yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota.

Silvi, penjual kue Sari Kayo
Sipuluik yang ada di Kota Padang,
Sumatera Barat /Foto: M. Noli Hendra

Seperti yang dijelaskan oleh Silvi, Sari Kayo yang ada di Kota Padang, bukan terbuat dari santan kepala, tapi murni menggunakan gula merah dicampur dengan beberapa bahan agar-agar, sedangkan untuk beras ketannya tetap sama.

“Sari Kayo Sipuluik di Padang itu bentuknya berlapis, sementara di daerah lainnya itu dibuat terpisah, Sari Kayo terpisah, dan beras ketan terpisah pula. Kalau cara makannya hampir sama,” katanya, Sabtu (13/1/2018).

Ada perbedaan dibagian penyajiannya, jika Sari Kayo Sipuluik yang ada di Limapuluh Kota Sari Kayo Sipuluik nya disajikan secara terpisah. Sementara untuk Sari Kayo Sipuluik yang ada di Padang ada cetakannya, agar memiliki beberapa lapisan. Cetakannya pun bukan lah menggunakan cetakan khusus, melainkan menggunakan dulang.

Ia menyebutkan kuliner Sari Kayo Sipuluik ini memang sangat dikenal sebagai kuliner tradisional. Bahkan jika di cari pusat penjualan kue yang ada di kota, akan sulit sekali menemukan Sari Kayo Sipuluik. Keradaan Sari Kayo Sipuluik ini cukup banyak di daerah jaug dari perkotaan, atau bagian daerah kabupaten tepatnya banyak ditemukan di nagari atau desa.

Harga untuk Sari Kayo Sipuluik yang bentuknya berlapis itu cuma Rp1.000 hingga Rp2.000 per satu potong dengan ukuran yang berbeda pula. Saat ini jajanan Sari Kayo Sipuluik ini bisa dikatakan peminatnya merupakan orang yang sudah berusia 26 tahun ke atas atau yang lahir di tahun 90.

Kondisi ini bisa terlihat pada setiap kantin yang ada di sekolah-sekolah, bahwa sangat sedikit yang membeli Sari Kayo Sipuluik tersebut. Padahal Sari Kayo Sipuluik merupakan makanan tradisional yang sehat tanpa pengawet atau pun mencampurkan dengan zat-zat kimia, seperti makanan-makanan kemasan yang di era modern ini.

Komentar