Tak Dapat Pupuk Bersubsidi, Petani di Lamsel Gunakan Pupuk Organik

382

LAMPUNG — Kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi akibat sistem distribusi dengan sistem dalam jaringan (daring) melalui kelompok tani, tidak menyurutkan petani padi di Desa Tanjungheran melakukan penanaman padi varietas Ciherang.

Marsaid (59), bahkan sengaja menanam padi varietas Ciherang mempergunakan pola tanam jajar legowo. Penggunaan pupuk organik diakui Marsaid sudah mulai dilakukan sejak lima tahun terakhir pada lahan seluas dua hektare.

Semula, Marsaid menerapkan pola pertanian organik pada padi hitam yang ditanam dengan menggunakan bahan bahan hayati dari limbah perkebunan dan peternakan. Namun, dengan masa tanam yang lebih lama dibanding varietas Ciherang, IR 64, dirinya kembali menanam padi varietas Ciherang dengan sistem organik tanpa penggunaan bahan kimia.

Kondisi air irigasi yang lancar dari Gunung Rajabasa disebutnya ikut mendukung ketersediaan pasokan air tanpa kuatir kondisi kemarau. “Saya memiliki ternak sapi dan kambing, selanjutnya saya manfaatkan untuk bahan baku pembuatan pupuk organik dan lokasi sawah di bagian atas membuat lahan saya tidak terkontaminasi pupuk kimia dari lahan sawah petani lain,” terang Marsaid, salah satu petani padi organik di Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, saat ditemui di gudang penyimpanan pupuk miliknya, Senin (29/1/2018).

Integrasi antara peternakan dan pertanian, kata Marsaid, merupakan hasil dari ilmu yang diperolehnya setelah mendapatkan pelatihan melalui sekolah lapang pertanian di daerah Cianjur, Jawa Barat, dalam penerapan pertanian terpadu.

Semula, limbah perkebunan dari pisang, kotoran ternak kambing, sapi, kerbau, limbah sisa gergajian hingga jerami sisa panen kerap tidak dimanfaatkan dan pelatihan pembuatan pupuk organik mulai dilakukan selama lima tahun terakhir.

Penggunaan pupuk organik yang pernah diterapkan pada padi hitam dengan luasan seperempat hektare, disebutnya mampu menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebanyak 2 ton, meski ia menyebut masa panen lebih lama dalam penanaman padi hitam.

Penggunaan pupuk organik juga disebutnya merupakan hasil pengolahan mempergunakan bahan baku bonggol pisang busuk, kotoran ternak, limbah gergaji, jerami yang dicampurkan dalam gudang dengan penambahan mikroba khusus untuk penghancur bahan pupuk terbuat dari kunyit dan air seni sapi.

“Stok pupuk sudah saya siapkan delapan bulan sebelum pengaplikasian dengan penampungan di gudang, setelah berubah menjadi pupuk dipindahkan ke dalam karung,” beber Marsaid.

Stok pupuk sebanyak 5 ton terus diperbarui dengan bahan bahan baru, bahkan saat proses pemupukan pertama hingga ketiga, dirinya tidak pernah kesulitan untuk memupuk.

Dengan harga pupuk organik per sak Rp130.000 untuk jenis NPK, SP dan Urea, dirinya mampu menghemat pengeluaran hingga Rp2 juta untuk penyediaan pupuk dan Rp1 juta untuk obat pembasmi hama.

Khusus untuk obat pembasmi hama jenis walang sangit, keong mas dan hama pengganggu lain, penggunaan sistem tradisional, di antaranya mempergunakan daun mindi, daun sirsak, daun pepaya dan kunyit kerap diterapkannya.

Daun mindi dengan pengolahan menjadi racun alami disebutnya bisa mengusir hama walang sangit, dan daun pepaya dipergunakan untuk menghindarkan serangan hama keong mas tanpa penggunaan zat kimia.

Penggunaan pupuk organik sekaligus pembasmi hama organik tanpa zat kimia dengan penghematan sekitar Rp3 juta, disebutnya mampu menghasilkan 8 ton gabah kering panen varietas Ciherang di lahan seluas 1 hektare. Dengan harga beras yang mengalami kenaikan, ia pun sengaja menjual gabah dalam bentuk beras untuk memperoleh hasil lebih maksimal.

Selain Marsaid, petani padi di Desa Klaten, Wawan (27), juga menerapkan pola pertanian organik pada varietas padi IR 64 dan sayuran terong yumi dan jagung manis. Ia menyebut sengaja menerapkan sistem organik, salah satunya karena alokasi penggunaan pupuk kimia yang diberikan kepada petani melalui rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) tidak diperolehnya.

“Saya memang tidak mendapat alokasi pupuk dari kelompok tani, sehingga sengaja menggunakan pupuk organik dan hasilnya bagus,” beber Wawan.

Padi varietas IR 64 seluas setengah hektare disebutnya mampu menghasilkan empat ton gabah kering. Selain diaplikasikan dalam penanaman padi, pupuk organik dari kompos dan kotoran ternak miliknya juga diterapkan pada penanaman sayuran terong dengan jumlah 2.000 tanaman, yang mampu menghasilkan empat ton terong per musim.

Meski kerap diserang hama penyakit, dengan penggunaan bahan organik tersebut, sayuran dan padi yang ditanam lebih aman dikonsumsi tanpa adanya zat kimia yang digunakan, dan hasilnya lebih maksimal.

Baca Juga
Lihat juga...