Tari Nusantara Kembalikan Kenangan Sosok Sampurno

189

JAKARTA – Merak adalah satwa yang dikenal dengan tampilan fisik yang anggun, cantik dan menarik. Begitupun yang ditampilan oleh penari Tari Merak di panggung Sasono Langen Budoyo TMII, Minggu (28/1/2018) malam.

Sajian dari para penari dalam rangkaian gelaran Tari Nusantara dan Mataya Langen Swara bertajuk “Bhisma Dwijatama”  memperingati 18 tahun wafatnya almarhum Sampurno sangat menarik hati. Penampilan memukau para penari ingin menunjukan keindahan alam priangan yang mempesona. Di tempat yang indah mempesona itulah semaraknya kehidupan burung merak berterbangan di alam bebas.

Diiringi dengan musik yang dinamis dari lagu Gendu atau Macan Ucul pada gamelan saledro. Gerakan tariannya menyiratkan gerak dan tingkah laku sang burung yang dengan bangga memamerkan bulunya, bermain dan bercumbu dengan pasangannya.

“Tarian Merak ini telah menjadi suguhan bagi tamu-tamu negara sahabat semenjak diciptakannya pada 1965, yaitu di masa Presiden Soekarno, hingga Presiden Soeharto dan presiden berikutnya,” tandas Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo seusai pertunjukan Gelar Tari Nusantara dan Mataya Langen Swara Bhisma Dwijatama.

Tari Legong Kuntul Putih – Foto : Sri Sugiarti

Selain Tari Merak, ditampilan pula tari legong kuntul putih dalam acara memperingati 18 tahun wafatnya almarhum Sampurno seorang pionir yang mengangkat dan memperkenalkan seni dan budaya nusantara. Tarian ini bermakna, Legong yang disebut juga Legong Keraton, yakni suatu tari tradisi klasik Bali yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Tarian ini berbusana warna keemasan  dengan rangkaian bunga pada mahkotanya yang bergetar pada setiap gerak kepalanya. Bagian yang sangat bermakna pada tari Legong adalah Lamak, sebuah ornamen persegi panjang menjulur kebawah dari depan dada.

“Lamak berarti sesajian dalam upacara. Lamak juga menunjukkan bahwa tari Legong walaupun non sakral, tetap adalah sesajian atau mengungkap rasa syukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa,” tambah Sulistyo.

Seni pertunjukan lain yang ditampilkan adalah Tari Ambai. Tarian ini mengandung filosofi,  bahwa dalam setiap waktu dan kondisi, seorang bapak senantiasa hadir dan memberikan dukungan bagi anak-anaknya. Tari tersebut ingin menggambarkan sosok Sampurna, sosok yang senantiasa menjalankan tugas negaranya memberikan landasan dan konsep tata kelola berkesenian secara keseluruhan.

Tari Ambai ini cocok untuk menggambarkan sosol Almarhum Sampurno yang merupakan General Manajer TMII yang juga Kepala Rumah Tangga Kepresidenan semasa Presiden Soeharto.

Tarian Ambai, Tari Merak, dan Legong Kuntul Putih dipersembahkan para seniman tradisional dari seluruh Indonesia dalam balutan Bhisma Dwijatama untuk  mengenang sosok almarhum Sampurno. Sampurno menurut Sulityo, telah mengangkat seni budaya nusantara secara bergiliran pentas di Istana Kepresidenan, TMII, dan tempat lainnya hingga mancanegara.

“Semua seni budaya tradisional tersebut telah ditampilkan secara nasional maupun global.Semangat Pak Sampurno menggema dijadikan format diplomasi kebudayaan dengan menampilkan berbagai seni tari nusantara yang berkualitas dan dapat dibanggakan,”  pungkas Sulistyo.

Sampurno adalah sosok yang senantiasa membina dan mestarikan seni budaya nusantara. Sajian budaya arahan Pak Sampurno menjadi sajian yang sangat cermat sehingga menjadi suatu tontonan elok layak bagi tamu tamu negara.

“Etos kerja inilah yang ingin TMII tampilkan kembali pada pergelaran Tari Nusantara dan Mataya Langen Swara bertajuk “Bhisma Dwijatama”. Yakni mengembalikan TMII sebagai wahana pelestarian seni budaya nusantara berkualitas,” pungkas Sulistyo.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.