Tentara Masuk Desa Berkat Soeharto dan M Yusuf

322

Dalam kurun masa perang dingin, sempat ada kekhawatiran dari sebagian negara Eropa dan Amerika terhadap ancaman Komunis terhadap Indonesia. Apalagi, beberapa tahun setelah kudeta berdarah dari PKI pada 1965, Indonesia belum mengalami peningkatan taraf hidup yang berarti.

Karena itu, tak ada jalan lain, diperlukan cara cepat, tepat, serentak, menyeluruh, dan merata. Namun, berkat peranan GPH Djati Kusumo dan LB Moerdany, perkembangan politik Indonesia setelah pemilu 1971 dalam kepemimpinan Soeharto, mendapat berbagai dukungan positif negara lain. Dukungan itu datang dari negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Australia, kemudian Eropa Barat dan Amerika. Inilah perbedaan signifikan antara Soeharto dan Soekarno.

Dengan menjadikan pembangunan sebagai alat perubahan, selain dibantu oleh para teknokrat dalam negeri, Soeharto dibantu oleh ahli teknik dan ekonom dunia. Dengan sangat rapi, Soeharto merancang pembangunan Indonesia, memenuhi kebutuhan, mencari donatur, srta mencari sumber keuangan untuk membayar pinjaman luar negeri.

Apa yang dikonsepkan Soeharto tersebut, akhirnya dapat meyakinkan dunia, sehingga pembangunan dapat dilaksanakan.

Dalam membangun Indonesia, Soeharto menjadikan pembangunan desa sebagai ciri pertumbuhan nasional. Ada Thesis pembangunan di masa lalu menyatakan, kuatnya pemerintah pusat sebagai aktor pengintegrasian lokal akan memperkuat perkembangan lokal. Thesis itu juga berasumsi, kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional, diasumsikan akan menjawab perkembangan kesejahteraan lokal melalui proses trickledown effect.

Pikiran paradigmatik semacam itu, sudah banyak tidak sesuai dengan alam modern, sehingga banyak ditinggalkan. Justru sebenarnya, kuatnya pertumbuhan dan perkembangan lokal atau desa akan menjadi ciri pertumbuhan dan perkembangan nasional.

Kesulitan terbesar untuk melakukan pembaharuan ini, karena pusat memiliki kepentingan untuk menjadikan desa hanya sebagai obyeknya dalam proses pembangunan.

Sebagai anak desa, Soeharto selalu berpijak pada budaya dan tradisi, salah satunya pada budaya gotong-royong. Gotong-royong adalah salah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia dipuji oleh bangsa lain, karena budayanya yang unik dan penuh toleransi antar sesama manusia. Ini juga merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia bisa bersatu.

Saat ini, modernisasi dan globalisasi melahirkan corak kehidupan yang membuat bangsa Indonesia kehilangan kepribadiannya.

Budaya gotong-royong ini tidak berarti harus selalu melakukan hal-hal besar. Misalnya, dengan menjadikan desa sebagai sumber inspirasi. Desa adalah alam tempat manusia punya rumah dan tempat tinggal. Sebaliknya, banyak orang cari makan dan usaha di kota.

Berangkat dari asumsi tersebut, kota memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan di desa. Bukan malah sebaliknya, desa dieksploitasi untuk kesejahteraan kota. Lebih baik kita selaras dengan pemikiran Rabindranath Tagore, penerima Nobel kesusasteraan dari India, yang pernah menyatakan,  ‘jika kamu ingin mendapatkan inspirasi, datanglah ke desa. Namun, bila ingin mengetahui permasalahan, pergilah ke kota’.

Kemajuan dan perubahan akan dapat dilihat dan dirasakan, bila dimulai dari desa. Sementara, seringkali, desa identik dengan keterbelakangan, keterbatasan, dan kesederhanaan dari sarana prasarana serta fasitilatas umum yang menunjang kehidupan masyarakat di di desa. Desa justru merupakan pondasi dasar dari pembangunan, bukan kota.

Tentunya, pembangunan akan membawa perubahan. Dan, perubahan akan secara cepat dapat dirasakan dan dilihat oleh bangsa lain, bila perubahan yang terjadi lebih banyak di desa. Permasalahan desa tidak lagi menjadi beban kota. Dan, sebaliknya, desa justru menjadi penopang kehidupan kota.

Pada masa kepemimpinan Pak Harto, desa menjadi komponen utama pembangunan. Memang, desa identik dengan kekurangan. Tetapi, justru di desa tersedia komponen utama pembangunan, tenaga manusia, sumber daya alam melimpah, dan semangat perubahan terbangun kuat di desa.

Kalau kita berpikir, bahwa SDM sebagai kekuatan utama pembangunan, maka desa akan dapat menjamin kesuksesan pembangunan. Mengapa demikian? Karena sebuah pekerjaan tidak akan dapat terlaksana tanpa didukung keterpaduan, kebersamaan, keharmonisan idealisme, serta keyakinan akan kebenaran bagi dirinya. Semua hal itu hanya bisa didapat dalam kehidupan masyarakat di desa.

Soeharto juga menjadikan pembangunan desa sebagai metode. Pembangunan desa dapat dilihat dari segi prosesnya. Bila prosesnya merupakan gerakan, maka pembangunan harus dapat menyentuh langsung dan dapat dirasakan oleh masyarakat di pedesaan. Proses tersebut juga perlu memperhatikan jalannya perubahan yang tradisional menjadi maju.

Ketika pembangunan desa menjadi metode, maka pembangunan harus dapat mengubah perbaikan taraf hidup masyarakat di pedesaan. Metode itu juga harus mampu menentukan titik berat yang berlandaskan pada suatu gerakan yang mencakup seluruh kehidupan masyarakat di desa.

ABRI Masuk Desa Sebagai Metode Pembangunan 

Program ABRI masuk desa yang digagas Pak Harto adalah bentuk keserasian TNI dengan rakyat. Ketika desa menjadi komponen utama pembangunan, maka TNI bisa dengan mudah menjangkau desa dan lokasinya. Ketika TNI menjadi bagian dari komponen utama pembangunan desa, maka harapannya pembangunan menjadi tepat guna dan hasil guna.

Dalam perjuangan Bangsa Indonesia di masa lalu, TNI dan rakyat bersama-sama menyadari, bahwa kesejahteraan dan keadilan hanya dapat dicapai dengan kemerdekaan. Kesamaan pandang dan kesadaran atas kepentingan bersama tersebut, kemudian menjadi sebuah idealisme perjuangan, semangat pantang menyerah, serta rela berkorban memelihara kemerdekaan dengan pembangunan. Kondisi bangsa Indonesia pada masa itu dinilai sudah kritis, karena bangsa Indonesia sudah bosan menghadapi kesulitan hidup yang ada dan menginginkan segera terjadi perubahan.

Hakikat Pertahanan Rakyat dan Keamanan Negara adalah perlawanan rakyat semesta yang dilaksanakan secara bersama antara rakyat dan TNI, dengan dikelola secara terpadu. Ketika rakyat terguncang, maka bisa menyebabkan permasalahan dan terganggunya kekokohan pertahanan Indonesia. Padahal, untuk menopang ketahanan nasional, perlu adanya kehidupan yang harmonis dan serasi, serta sepakat untuk menjalin kebersamaan antara TNI dan Rakyat demi kepentingan negara.

Bagi rakyat yang berdomisili di desa, bila rakyat menghendaki pembangun, maka prioritas pembangunan harus diarahkan untuk pembangunan desa. Ketika pembangunan dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia, maka rakyat akan semakin mencintai indonesia.

Sekelumit sejarah nasional Indonesia dihiasi oleh peranan TNI dengan apa yang disebut ‘ABRI Masuk Desa (AMD)’. Sebuah kegiatan yang melibatkan peranan TNI dalam perubahan kehidupan kebangsaan Indonesia untuk mencapai kehidupan yang sejahtera melalui Pembangunan.

Sebuah anugerah bangsa dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Indonesia bisa membangun dan menemukan metode tepat sebagai pelaksaanaannya melalui AMD.

Sebagai prajurit, TNI memiliki dua peranan utama, yakni sebagai warga negara dan sebagai prajurit. Dua fungsi ini memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, yaitu membela dan menjaga keutuhan Negara, serta membantu pemerintah mewujudkan kesejahteraan rakyat. ABRI Masuk Desa merupakan bagian dari kegiatan yang melibatkan TNI dan Rakyat. Terbukti, TNI mampu menembus batas ke seluruh pelosok Nusantara. Saat ini, TNI tersebar merata di seluruh Indonesia dan dapat menjangkau seluruh wilayah pedesaan.

Dalam pemerintahan Soeharto, pembangunan telah menjadi bagian dari pertahanan. Maka, tanggung jawab dalam pemeliharan ketahanan Negara tidak hanya TNI saja, melainkan juga rakyat.

Kerja sama antara TNI dan rakyat yang disiapkan secara terpadu dan terpimpin, dalam suatu perlawanan bersenjata atau pun tanpa senjata, didasarkan pada keyakinan akan kekuatan sendiri, tanpa kenal menyerah. Ini merupakan korelasi dari terciptanya kegiatan AMD.

Partisipasi TNI dalam kehidupan bangsa, tidak akan melahirkan persepsi negatif dari komponen bangsa lain. Peranan TNI dalam pembangunan, terbukti dapat mempercepat gerak maju pembangunan. Partisipasi tersebut harus dilestarikan, seiring berjalannya waktu, agar tidak menimbulkan mutitafsir, Peranan TNI dalam pembangunan, perlu berpegang pada landasan moral, hukum, perundangan, historis, dan filosofi.

AMD, Timor Timur, dan Pembangunan  

AMD sebagai penentu dari kesuksesan pelaksanaan program pemerintah di bidang pembangunan, saat kepemimpinan Soeharto sangat menentukan nasib Timor Timur. Sebab, saat itu, Timor Timur adalah bagian dari sarana untuk mendatangkan pinjaman luar negeri dan dukungan lain bagi pembangunan.

Saat itu, Timor Timur adalah sasaran dari ancaman komunisme bagi Indonesia. Sehingga, menjadi sangat berbahaya bila Timor Timur tidak ditangani dengan baik dan tepat. Demikian pula pertimbangan dari Amerika dan Eropa yang memiliki kepentingan di kawasan pasifik dan regional Asia Tenggara, bahwa Indonesia harus diperkuat, agar dapat menghadapi komunisme.

Bila Indonesia kuat, maka  Australia dan Inggris dan Amerika tidak harus terlibat langsung dalam menghadapi permasalahan ancaman komunis.

Ketika Timor Timur menjadi ancaman, Timor Timur menjadi sarana pengendali dan saluran keuangan, agar tidak serta merta keuangan itu murni diperuntukkan bagi kemajuan Indonesia. Efektivitas dan efisiensi bagi operasional dan dukungan untuk biaya pengamanan, menjadi lebih bisa tercapai.

Soeharto dan M Yusuf  

Sebagai seorang presiden, Soeharto dikenal sebagai seorang ahli strategi dan ahli politik pemerintahan. Beliau tidak pernah sekolah formal dengan keilmuan yang dpat dihubungkan dengan kedudukannya sebagai kepala negara. Bangsa Indonesia memerlukan seorang pemimpin TNI yang cocok bagi masa pembangunan saat itu.

Dalam pelaksanaan pembangunan saat itu, tanggung jawab ada pada TNI. Maka, dengan berbagai pertimbangan, Soeharto memilih Jenderal M Yusuf, seorang putra kelahiran Makassar untuk memimpin TNI.

Saat itu, masa pembangunan Indonesia dimulai pada 1980. Bila dikaitkan dengan lahirnya Supersemar, Jenderal M Yusuf memang sudah dipersiapkan untuk menghadapi kondisi ini. Jenderal M Yusuflah yang mengawal program ABRI Masuk Desa ini.

Menurut amatan saya, AMD merupakan ide cerdas kebangsaan. Melalui AMD, perubahan akan kehidupan kebangsaan, taraf hidup, kesejahteraan segera dapat diwujudkan. Bahkan, secara serentak, perubahan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Hanya dalam waktu singkat, setelah pembangunan Indonesia dipercepat dengan program AMD, Indonesia lebih maju. Berkat keberhasilan pembangunan, Indonesia tidak lagi disebut sebagai negara miskin, terbelakang dan tertinggal. Indonesia kemudian disebut sebagai negara berkembang.

Melalui AMD, tegak kokohnya NKRI dapat dijaga, dipelihara, dan dipertahankan melalui kerja sama TNI dan Rakyat, demi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. Satu sisi, bangsa Indonesia sibuk dengan kegiatan pembangunan. Namun manfaat lainnya, bangsa Indonesia juga melakukan pembangunan kekuatan pertahanan yang hebat.

Pada masa itu, AMD juga menjadi komitmen kebersamaan. Tidak ada satu pun komponen bangsa yang menyatakan diri tidak suka dengan TNI. Keharmonisan TNI dengan rakyat dapat terjalin dengan manis. Sekali pun ada konflik kecil dari golongan masyarakat tertentu, itu hanya sebagai bentuk aksi untuk menunjukkan diri kepada dunia luar, bahwa mereka masih ada dan sementara harus berdiam diri.

AMD Menjadi Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD)

Ketika dulu bernama ABRI Masuk Desa (AMD), setelah reformasi menjadi Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD), hingga sekarang ini.

Yang membedakan AMD dengan TMMD adalah lingkup kegiatannya, peranannya, keterpaduan dalam pelaksanaan program tidak terpusat, serta termasuk dalam kegiatan anggaran negara dan TNI.

Sekarang ini, sudah disesuaikan dengan perubahan sistem pemerintahan dan birokrasi yang mengkoordinir kegiatan TMMD.

Bagaimana pun, hakikat kehidupan nasional adalah perjuangan segenap bangsa untuk mewujudkan tercapainya sebuah tujuan serta kepentingan bangsa, yakni tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepentingan nasional tersebut juga tidak terlepas dari kepentingan kodrati individu manusia Indonesia sebagai mahkluk individu maupun mahkluk sosial. Karena itu, sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah perjuangan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Tuntutan tercapainya tujuan nasional dan kepentingannya tersebut memerlukan sikap dan wawasan kebangsaan yang berakar dari nilai luhur budaya bangsa yang ada semenjak berdirinya Negara Indonesia. TNI sebagai salah satu komponen bangsa, sangat berkepentingan terhadap kadar sikap kebangsaan tersebut, masyarakat agar bisa bersama, bersatu padu, tercipta rasa kesetiaan dalam mengawal tetap tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia,  berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta berkelanjutannya pembangunan nasional Indonesia. Hal itu memerlukan upaya dan pemikiran nyata dari semua komponen bangsa.

Pembangunan dilakukan bangsa Indonesia sekarang ini adalah sebuah gerakan perubahan untuk membangun dirinya menuju kehidupan yang didambakan, yaitu masyarakat adil, makmur, aman, dan sejahtera. Semua itu harus dilakukan melalui proses yang berlandaskan segala sendi kehidupan bangsa, idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya,pertahanan, serta keamanan yang dibangun secara fundamental. Namun, harus memiliki fleksibilitas yang relatif mantap dan bisa menyesuaikan perkembangan zaman.

Dalam proses pentahapan pembangunan, penerapan metode, serta prioritas pembangunan, masyarakat dan TNI dituntut untuk terus bergerak maju, sekali pun dalam kondisi yang masih bersifat tradisional sekali pun. TNI tidak hanya partisipasi, melainkan sudah menjadi bagian dari kekuatan, pelaksanaan, dan penggerak pembangunan Indonesia. Hal itu dapat diwujudkan, bila pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat harus dilakukan secara seimbang dengan pembangunan kekuatan pertahanan.

Salah satu sisi penting dari pembangunan nasional adalah daerah, karena melalui pembangunan di daerah, dapat dibangkitkan partisipasi, peranan, dan kreativitas, masyarakat untuk turut serta membangun dan memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di daerah. Inilah yang sebanarnya dari pemahaman pembangunan manusia seutuhnya, baik pembangunan fisik material dan mental spiritual.

Melalui faktor lain, diperlukan pula pola pembangunan yang merata sesuai dengan kondisi daerah dan kepentingannya. Bagi saya, sampai kapan pun, bersatunya TNI dan rakyat dalam mempertahankan NKRI dan mengisi pembangunan, akan selalu menjadi solusi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Republik Indonesia.

AMD adalah bagian dari perjalanan sejarah hidup bangsa yang patut untuk dikenang dan dihargai sebagai upaya bangsa mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan menatap hari depan yang lebih baik.

TNI adalah salah satu kekutan untuk melakukan perubahan yang bernuansa kesejahteraan itu. Selayaknya, pemikiran ini harus dilestarikan dan dipertahankan sebagai satu sarana membangun kekuatan pertahanan melalui kerja sama TNI dan Rakyat. Karena tanpa kerja sama TNI dan rakyat, mustahil pertahanan yang kokoh dan kuat dapat dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Eko Ismadi adalah Pengamat Militer dan Sosial Politik

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.