Tingkatkan Pendapatan, Pedagang May Pek Ang Terapkan Sistem Keliling

217

LAMPUNG — Makanan tradisional jenis somay serta empek empek menjadi salah satu jajanan tradisional yang disukai oleh berbagai kalangan mulai anak anak hingga orang dewasa.

Menyikapi minat masyarakat tersebut, Sukiman (50) yang sudah berjualan empek empek dan somay sejak lima tahun silam, selain membuka warung bersama sang isteri juga berjualan secara keliling.

Siomay serta empek empek buatannya bersama sang isteri yang semula dijual di warung tersebut akhirnya mulai dijajakan secara keliling dengan mempergunakan kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi. Kendaraan roda dua dilengkapi dengan obrok menyerupai lemari kaca tempat meletakkan kompor gas, wajan, piring, sendok, plastik serta somay dan empek empek tersebut menjadi sarana untuk berjualan.

“Isteri tetap berjualan empek empek dan siomay di rumah sebagian saya jual secara keliling ke sejumlah sekolah dan tempat tempat keramaian atau lokasi proyek pekerjaan seperti jalan tol yang masih berlangsung saat ini,” terang Sukiman salah satu penjual makanan tradisional siomay dan empek empek saat ditemui Cendana News di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Sabtu (13/1/2018).

Kendaraan roda dua dengan tulisan May Pek Ang sengaja menjadi ciri khas usaha kulinernya dengan tujuan agar mudah dikenali.

Dalam sehari ia menyebut membawa sebanyak 300 buah empek empek dan sebanyak 200 buah siomay yang selalu habis. Dijual dengan harga Rp1.000 per buah dalam sehari dapat memperoleh hasil Rp500.000 sekali berkeliling ke sejumlah desa.

“Kalau cuaca cerah atau tidak hujan saya bisa menjual semua somay dan empek empek namun kadang tidak habis sehingga dijual di warung saja,” terang Sukiman.

Berjualan kuliner tradisional dengan bahan baku tepung tapioka serta bahan pelengkap cabai disebutnya ikut terimbas. Tepung tapioka yang mengalami kenaikan sejak dua pekan terakhir dari Rp150.000 per karung dengan ukuran 25 kilogram kini menjadi Rp170.000.

Mujiman, pedagang keliling somay, empek empek Palembang yang diberinya nama May Pek Ang melayani pembeli [Foto: Henk Widi]
Sukiman menyebut kenaikan harga tersebut diakuinya nyaris mengiringi kenaikan harga beras dan cabai. Menyiasati kondisi tersebut Sukiman menyebut tidak serta merta menaikkan harga empek empek dan somay yang dijualnya dengan harga Rp1.000 perbuah tersebut.

“Empek empek yang saya buat jenis empek empek isi telur jika sebelumnya lebih besar sekarang ukurannya aja lebih kecil dengan perhitungan bahan yang sama demikian juga dengan somay isi,”bebernya.

Empek empek dan somay lebih disukai pelanggan dalam kondisi digoreng meski jualannya sudah matang dalam proses perebusan.

Ia berharap harga tepung tapioka saat ini bisa turun agar pemilik usaha kuliner seperti dirinya tidak mengalami kendala dalam produksi.

Santi, salah satu pembeli empek empek dan somay yang dijual oleh Sukiman mengaku jajanan tradisional empek empek dan somay kerap menjadi menu camilan yang menggugah selera makan terutama saat kondisi cuaca dingin selama musim hujan pada bulan Januari.

Rasa hangat dari sambal dan cuka untuk empek empek serta bumbu kacang pedas untuk somay disebutnya sangat pas untuk menghangatkan badan.

Baca Juga
Lihat juga...