Trump Bantah Sebut Haiti-Negara Afrika “Negara Lubang Kotoran”

147

WASHINGTON — Presiden AS Donald Trump telah membantah bahwa ia menyebut negara di Afrika dan tempat lain sebagai “negara kotoran”, dan mengatakan ia menggunakan bahasa kasar tapi bukan pernyataan yang “merendahkan yang dikaitkan dengannya”.

“Bahasa yang saya gunakan dalam pertemuan DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) keras, tapi ini bukan bahasa yang digunakan,” kata Trump di akun Twitter.

Pemimpin AS tersebut telah menghadapi kecaman di dalam dan luar negeri setelah beberapa laporan mengatakan ia menyebut Haiti dan negara Afrika sebagai “negara lubang kotoran” selama pertemuan mengenai kesepakatan imigrasi dengan sekelompok angota parlemen di Gedung Putih pada Kamis (11/1).

Komentar itu dilaporkan dikeluarkan saat senator Demokrat dan Republik memberi penjelasan kepada presiden mengenai perubahan bagi sistem undian visa AS dan pertimbangan mengenai imigran dari Afrika.

Trump pertama bertanya mengapa Amerika Serikat mesti bersedia menerima orang dari negara seperti Haiti, dan kemudian dilaporkan bertanya mengapa Amerika mau menerima imigran “dari semua negara lubang kotoran ini”.

Ia juga mengatakan Amerika Serikat mestinya menerima lebih banyak orang yang datang dari negara seperti Norwegia.

Ia telah bertemu dengan Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg di Gedung Putih sehari sebelumnya.

Gedung Putih mengeluarkan satu pernyataan yang tidak membantah pernyataan tersebut, demikian laporan Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Sabtu pagi.

“Tentu saja politisi Washington memilih untuk berjuang buat negara asing, tapi Presiden Trump akan selalu berperang buat rakyat Amerika,” kata Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Raj Shah di dalam pernyataan itu.

“Ia akan selalu menolak pangkah sementara yang lemah dan berbahaya yang mengancam nyawa rakyat Amerika, yang bekerja keras, dan memangkas imigran yang mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat melalui jalur hukum,” kata pernyataan tersebut.

Gelombang kecaman baru yang tajam itu muncul dari anggota parlemen Demokrat dan Republik. Anggota parleman dari Republik Mia Love dari Utah, yang juga adalah putri seorang imigran Haiti, mengeluarkan pernyataan yang menuntut permintaan ma’af dari Trump.

Pernyataan presiden Amerika tersebut “kasar, memecah-belah, elitis, dan melayang di depan muka nilai-nilai bangsa kita,” kata wanita anggota parlemen itu. “Prilaku ini tak bisa diterima dari pemimpin bangsa kita.” “Presiden harus meminta ma’af kepada negara dan rakyat Amerika ia ingin fitnah,” katanya.

Ileana Ros-Lentinen, anggota parlemen dari Republik dari Florida, menulis di akun Twitter bahwa pernyataan Trump, jika benar, “mengabaikan sumbangan yang telah diberikan oleh ribuan orang Haiti buar negara dan masyarakat #FloridaSelatan kita”.

“Bahasa seperti itu tak boleh didengar di ruang ganti sekalipun dan itu tak boleh didengar di Gedung Putih,” kata wanita anggota parlemen tersebut.

“Sebagai warga negara Amerika, saya malu dengan presiden,” kata Wakil Demokrat Luis Gutierres.

“Pernyataannya mengecewakan, tak bisa dipercaya, tapi tidak mengejutkan,” tambah Gutierres, yang mengutip kontroversi yang sering muncul gara-gara komentar Trump mengenai ras sejak kampanye presiden AS 2016.

Duta Besar Haiti untuk AS Paul G. Altidor secara resmi telah meminta pemerintah Trump menjelaskan pernyataan itu. Ia mengatakan pernyataan tersebut, yang dikeluarkan sehari sebelum peringatan keselapan gempa bumi 2010 di Haiti sehingga menewaskan lebih dari 200.000 orang dilandasi oleh “pernyataan lama dan berprasangka ketimbang tindakan nyata”.

Duta besar tersebut mengatakan ia tak percaya pernyataan Trump mencerminkan pandangan masyarakat umum Amerika dan ia telah “dibombardir oleh surel dari masyarakat Amerika yang meminta ma’af” atas pernyataan preisden mereka “yang disayangkan”.

Sementara itu Uni Afrika mengatakan organisasi regional itu “terkejut” dengan pernyataan Trump.

Kantor Komisaris Tinggi PBB urusan Hak Asasi Manusia (UHCHR), yang berpusat di Jenewa, pada Jumat menggambarkan pernyataan Trump sebagai “mengejutkan, memalukan dan rasis”.

Juru Bicara OHCHR Rubert Colville mengatakan pernyataan semacam itu dari presiden AS dapat “berpotensi merusak dan mengganggu kehidupan banyak orang”.[Ant]

Baca Juga
Lihat juga...