banner lebaran

Tunisia Rencanakan Peningkatan Bantuan Bagi Keluarga Miskin

47

TUNISIA – Tunisia berencana meningkatkan bantuan untuk keluarga miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Rencana yang digagas pemerintah tersebut muncul setelah terjadinya aksi demonstrasi di negara Afrika Utara itu.

Sumber pemerintah tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana pemberian bantuan yang akan dilakukan. Namun hal tersebut menjadi pernyataan pertama kalinya seorang pejabat berbicara mengenai peningkatan bantuan. Terutama sejak terjadinya aksi demonstrasi diwarnai kekerasan di negara tersebut.

Aksi demonstrasi digelar untuk menentang aksi penghematan yang diberlakukan pemerintah untuk mengurangi defisit anggaran. Pegiat dan oposisi telah menyeru dilakukannya aksi unjuk rasa, di hari peringatan ke tujuh penggulingan Zine El-Abidine Ben Ali, pemimpin pertama yang terguling akibat aksi demonstrasi “Kebangkitan Arab” pada 2011.

Protes tersebut muncul akibat kemarahan atas kenaikan harga dan pajak yang termasuk dalam rencana anggaran pemerinta tahun ini. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari.

Pemerintah telah menyalahkan oposisi dan pembuat onar karena menimbulkan keresahan. Namun tuduhan tersebut telah ditolak oleh oposisi. Hampir 800 orang telah ditangkap karena vandalisme dan melakukan aksi kekerasan seperti melempar bom bensin ke kantor polisi.

Harga bakar dan beberapa barang konsumsi telah mengalami peningkatan. Sementara itu pajak atas mobil, telepon, internet, akomodasi hotel dan barang lainnya juga telah naik.

Tunisia dipuji sebagai satu-satunya negara yang berhasil merangkul demokrasi dalam Kebangkitan Arab. Salah satu negara Arab yang berhasil menggulingkan pemimpin lama dalam pemberontakan tahun itu tanpa memicu terjadinya kekerasan atau perang sipil yang meluas. Politisi Tunisia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 2015 untuk mencapai perubahan tanpa kekerasan.

Tapi Tunisia memiliki sembilan pemerintahan sejak penggulingan Ben Ali. Dan tidak ada satupun yang mampu menyelesaikan masalah ekonomi yang mengakar. Perekonomian memburuk sejak gelombang serangan militan mematikan pada 2015, dan belum pulih sekalipun meski keamanan telah membaik.

Sebelumnya polisi Tunisia dilaporkan bentrok dengan pengunjuk rasa menentang pemerintah di setidak-tidaknya lima kota, termasuk distrik ibu kota, Tunis. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan orang di Tunis dan Tebourba, kota kecil di luar ibu kota, tempat seorang penentang tewas pada Senin (8/1/2018).

Unjuk rasa meletus setidak-tidaknya di 12 kota di Tunisia, di antaranya kota wisata Sousse dan Hammamet. Aksi digelar untuk menentang kenaikan harga dan pajak, yang diberlakukan pemerintah untuk mengurangi defisit, yang membengkak, dan memuaskan kreditor internasional.

Eropa merasa prihatin dengan ketidakstabilan yang terjadi di Tunisia. Sebagian karena pengangguran telah memaksa banyak orang muda Tunisia untuk pergi ke luar negeri. Jumlah kapal penyelundup pengungsi ke Italia telah meningkat dan Tunisia juga telah menghasilkan jumlah gerilyawan terbesar yang menuju medan perang di Irak, Suriah dan Libya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.