banner lebaran

Usaha Jual-Beli Barang Bekas Berkah bagi Zainal

280

LAMPUNG – Bermula dari sulitnya mencari pekerjaan dengan modal terbatas tidak menyurutkan niat Zainal (39) untuk bekerja dengan mengandalkan tenaga yang dimiliki tanpa harus mengeluarkan modal yang banyak.

Salah satu peluang usaha kecil yang mulai diliriknya dengan berkeliling memungut barang barang bekas yang ada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, tempat pembuangan sampah di pasar hingga ke sungai yang kerap membawa material barang bekas bernilai jual.

Sebutan sebagai pemulung barang bekas atau sampah bahkan mulai melekat kepadanya semenjak lima tahun silam dengan bermodalkan karung sebagai wadah barang bekas. Proses mencari barang barang bekas yang dikumpulkan dari sejumlah tempat tersebut bahkan dilakoninya dengan meninggalkan rumahnya yang berada di Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan ke sejumlah tempat berjarak belasan kilometer.

“Awalnya jalan kaki dengan membawa karung menyusuri sepanjang Jalan Lintas Sumatera karena kerap pengendara yang melintas membuang bekas air mineral yang masih bisa dijual,” terang Zainal, warga Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News tengah membeli barang bekas milik warga, Selasa (30/1/2018).

Proses penimbangan barang bekas yang dijual oleh warga [Foto: Henk Widi]
Zainal menyebut, pekerjaannnya kerap jarang dilirik orang, dipandang sebelah mata bahkan dicurigai oleh warga yang tinggal di perkampungan karena pernah terjadi kehilangan barang pasca ada pemulung.

Ia menyebut sejak awal memiliki niat bekerja secara halal bahkan dirinya mendatangi rumah warga yang memiliki barang bekas untuk dibeli dengan harga bervariasi mulai dari Rp1.000 hingga Rp5.000 sesuai dengan jenis barang bekas yang dibeli.

Semenjak pekerjaan sebagai pencari barang bekas juga dilakoni oleh warga lain, ia sudah mulai sulit mencari barang-barang bekas di jalan sehingga ia mulai mendatangi rumah-rumah yang sengaja mengumpulkan barang-barang bekas. Belum adanya bank sampah di wilayah tersebut menjadi peluang untuk meminta warga di beberapa desa yang dikunjungi menyimpan barang bekas selanjutnya ia beli.

“Setiap warga yang pernah saya kunjungi selalu rutin mengumpulkan barang-barang tak terpakai jenis plastik, besi dan barang bekas lain bernilai jual. Sepekan sekali saya datangi,” terang Zainal.

Zainal menyebut, beberapa langganan yang kerap menghasilkan barang bekas bernilai jual di antaranya warung-warung kecil yang menyisakan botol, kardus, kaleng serta plastik dengan potensi daur ulang yang cukup besar.

Zainal memilah barang bekas milik warga yang masih bisa didaur ulang untuk dijual ke pengepul [Foto: Henk Widi]
Dari setiap rumah warga ia menyebut membeli beberapa barang bekas bernilai jual mulai dari Rp20.000 hingga Rp30.000 sesuai dengan kuantitas barang yang ditimbang. Barang bekas tersebut semula dibawa dengan berjalan kaki ke pengepul yang ada di Desa Banjarmasin dan dibeli oleh pengepul dengan keuntungan Rp500 hingga Rp2.000 per kilogram.

Pemilik tempat pengepulan barang bekas mulai memberikan kepercayaan kepadanya dengan sebuah kendaraan roda dua untuk mengangkut barang bekas yang dibeli dari warga. Modal kejujuran dengan tidak mengambil barang yang masih terpakai milik warga dan kepercayaan dari pengepul membuat Zainal menjadikan pekerjaan sebagai pencari barang bekas sebagai sumber penghasilan.

Dalam sehari berkeliling membeli barang-barang bekas milik warga Zainal membawa modal sekitar Rp300.000 selanjutnya dijual ke pengepul dengan keuntungan Rp100.000 hingga Rp200.000 sehingga dalam satu bulan dirinya bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp500.000 hingga Rp1juta dari usaha jual beli barang bekas keliling tersebut.

Meski semula mencari barang bekas dengan berjalan kaki, lalu mengendarai motor ia menyebut memiliki keinginan untuk membeli kendaraan motor roda tiga yang memudahkannya mencari barang bekas dan tempat pengepulan.

Membeli barang bekas yang kerap menjadi sampah di tempat pembuangan sampah di tepi jalan tersebut, selain ikut membantu kebersihan lingkungan juga memiliki nilai ekonomis yang sangat membantu warga.

Semenjak banyak warga mengetahui ia menjual barang-barang bekas, ia tidak memiliki kesulitan membeli barang bekas karena saat berkeliling sudah banyak warga menawarkan barang bekas atau dikenal dengan rongsokan.

“Sebagai sebuah usaha yang jarang dilirik ini setidaknya saya bisa menyekolahkan anak dan menabung untuk membeli tanah perkebunan meski stigma negatif pemulung masih kerap dicap buruk oleh masyarakat,” beber Zainal.

Lisdaryanti (30), salah satu warga Desa Pasuruan yang biasa mengumpulkan barang bekas menyebut, menjual kepada Zainal rata-rata setengah bulan sekali dengan jumlah berkisar 20 hingga 30 kilogram dan memperoleh Rp30.000 hingga Rp50.000 terutama barang bekas yang memiliki nilai jual tinggi. Hasil penjualan kerap bisa dipergunakan untuk membeli sayuran dan uang jajan anak.

Selain bisa membersihkan barang-barang tidak terpakai di dalam rumah, Lisdaryati menyebut, beberapa jenis barang bekas bisa menghasilkan uang dengan rata-rata per bulan 60 kilogram sampah bahkan lebih. Saat mengadakan acara arisan dan pertemuan dengan menggunakan minum kemasan ia kerap memperoleh botol bekas dalam jumlah banyak yang bisa dijual.

Setelah proses penimbangan Zainal membayar hasil barang bekas milik warga [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.